Rabu, 19 Mei 21

Lestari Moerdijat: Ki Hadjar Dewantara Bangsawan, Namun Memiilih Menjadi Orang Biasa

Lestari Moerdijat: Ki Hadjar Dewantara Bangsawan, Namun Memiilih Menjadi Orang Biasa
* Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menjadi pembicara dalam diskusi itu bertema ‘Hari Pendidikan Nasional dan Tantangan Merdeka Belajar di Tengah Pandemi’ di Media Centre, Gedung Nusantara I DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (3/5/2021). (Foto: mpr.go.id)

Jakarta, obsessionnews.com – Setiap tanggal 2 Mei bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menuturkan, di antara makna dari memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei adalah untuk memberi penghormatan kepada Ki Hadjar Dewantara. Banyak pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang cerdas.

 

Baca juga:

Ke Mana Arah Pendidikan Indonesia ke Depan?

Lestari Moerdijat Gaungkan Semangat Kartini di Masa Pandemi

 

“Ia merupakan bangsawan, namun memilih menjadi orang biasa,” tuturnya dalam ‘Diskusi Empat Pilar MPR’ di Media Centre, Gedung Nusantara I DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (3/5/2021). Diskusi itu bertema ‘Hari Pendidikan Nasional dan Tantangan Merdeka Belajar di Tengah Pandemi’.

Dikutip obsessionnews.com dari website mpr.go.id, Selasa (4/5), perempuan yang akrab dipanggil Mbak Rerie ini  dalam diskusi terkait pendidikan di Indonesia mempunyai beberapa catatan. Ia menyebut partisipasi pendidikan di negara ini masih rendah meski diakui ada peningkatan, namun hal demikian masih meninggalkan permasalahan yang ada. Sebagai negara yang geografisnya luas, bentangan wilayah yang ada merupakan tantangan tersendiri bagi keberlangsungan pendidikan di tanah air.

Menurut politisi Partai Nasdem ini, selain masih rendahnya tingkat partisipasi pendidikan juga belum maksimalnya pentingnya dan pemahaman tentang pendidikan dan mengenal kebudayaan.

Lestari mengakui masa pandemi Covid-19 membuat sektor pendidikan sangat terpukul. “Pandemi membuat gerak masyarakat terbatas sehingga proses belajar tak lagi di sekolah,” tuturnya.

Ia berharap dalam masa pandemi yang belum usai, apalagi kasus tsunami Covid-19 di India yang demikian ganasnya, ada acara baru dalam proses belajar.

Dalam masa dunia terkena wabah ini di Indonesia ada sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ), namun hal demikian mempunyai banyak kendala terutama masalah jaringan internet. “Kalau di kota-kota besar, akses internet mudah, nah masalahnya bila sekolah berada di daerah pelosok,” ungkapnya.

Akibat pandemi, menurut Lestari, membuat ada sekitar 60 juta siswa harus belajar di rumah. “Sayangnya tak semua siswa bisa belajar lewat PJJ secara ideal,” ujarnya. (red/arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.