Selasa, 7 Desember 21

Kharis Tegaskan Hanya Orang-orang yang Berjiwa Pemberani Saja yang Mau Bergabung Bersama Samanhudi

Kharis Tegaskan Hanya Orang-orang yang Berjiwa Pemberani Saja yang Mau Bergabung Bersama Samanhudi
* Wakil Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari menjadi ‘keynote speaker’ bedah buku “Sarekat Islam Surakarta Tahun 1912-1923” di Omah Parang Kesit, Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (16/10/2021). (Foto: dok. pribadi Kharis)

Jakarta, obsessionnews.com – Di masa reses Wakil Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari menghadiri bedah buku “Sarekat Islam Surakarta Tahun 1912-1923” di Omah Parang Kesit, Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (16/10/2021)

Kegiatan yang diprakarsai oleh Museum Samanhudi ini sebenarnya merupakan kegiatan rutin bulanan. Akan tetapi  bertepatan dengan Milad ke 116 Sarekat Islam yang jatuh setiap tanggal 16 Oktober, maka diadakan Bedah Buku “Sarekat Islam Surakarta Tahun 1912-1923”. Bedah buku ini menghadirkan narasumber Adityawan Suharto (penulis buku) dan MS Ka’ban (pemerhati pergerakan Islam).

 

 

Baca juga:

HUT ke-76 TNI, Kharis: TNI Bersama Rakyat Menangkan Segala Ancaman terhadap Kedaulatan NKRI

Kharis Nilai Gencatan Senjata tidak akan Hapus Kejahatan Israel di Jalur Gaza 

Kharis Kutuk Serangan Militer Israel ke Masjid Al Aqsa dan Jalur Gaza 

 

Dikutip dari siaran pers yang diterima obsessionnews.com, Senin (18/10), disebutkan kegiatan ini dihadiri sekitar 70 orang. Tampak hadir dalam bedah buku ini Bambang Sutrisno (Anggota DPD RI), perwakilan dari Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan dan Dinas Kebudayaan  Kota Surakarta, pengurus museum-museum se-Surakarta dan perwakilan keluarga H. Samanhudi. Tampak hadir pula mahasiwa dari berbagai perguruan tinggi yang memiliki perhatian mempelajari sejarah bangsa.

Ketua panitia Chairul Syarwani dalam sambutannya mengatakan,“Kenapa saya diminta menjadi ketua panitia?  Karena saya ketua RT di mana H. Samanhudi dahulu tinggal di RT saya. Walau sekarang sebagian besar peninggalan beliau sudah dimiliki orang lain.”

Chairul juga menyampaikan Museum Samanhudi merupakan salah satu dari sedikit museum yang dimiliki oleh warga.

“Kami senang banyak generasi muda yang hadir dalam bedah buku ini, karena kami berharap  museum  mampu menjadi tonggak menanamkan semangat perjuangan,” paparnya.

Abdul Kharis Almasyhari yang menjadi keynote speaker menuturkan, ia sangat mengapresiasi sekaligus bangga dengan bedah buku ini. Mengapresiasi karena dengan keterbatasan yang ada, apalagi di masa pandemic, panitia bersemangat untuk menyelenggarakan bedah buku ini. Bangga karena buku ini ditulis oleh anak muda dengan sudut pandang yang berbeda.

“Mas Adityawan seorang yang masih muda tapi memiliki karya unik, yaitu memandang Sarikat Islam dalam kaca mata local, yaitu Surakarta,” ujar Kharis.

Ia menambahkan,  membaca buku ini ia merasakan menjadi bagian dari perjuangan Samanhudi di masa itu.

“Apalagi ketika saya jalan kaki keliling menyelusuri Kampung Laweyan, terbayang betapa sulitnya  Samanhudi mengajak masyarakat untuk berjuang dan bergerak,” ujarnya.

 

Ia menegaskan hanya orang-orang yang berjiwa pemberani dan tahan banting saja yang mau bergabung bersama Samanhudi.

Menurutnya, buku ini memberikan gambaran semangat Samanhudi di zaman itu. Dan saat ini Samanhudi era tahun 2020 an harus bisa mengambil hikmah dan meneladani semangat Samanhudi.

“Selamat menikmati bedah buku ini, karena buku adalah jendela dunia,” ujar Kharis.

Sementara itu Adityawan sebagai penulis buku lebih menyoroti latar belakang, kronologis, gambaran suasana dan hal-hal yang tidak banyak diketahui orang.  Bahkan banyak menyebut tokoh-tokoh lokal yang  membersamai perjuangan Samanhudi seperti H. Bakri dan Marto Harsono.

Mengawali paparannya, Ka’ban menyampaikan bahwa sejarah itu pencerdasan.  “Membaca sejarah menimbulkan pencerdasan berpikir. Sarekat Islam merupakan event sejarah kebangkitan perjuangan melawan Penjajahan. Mengisi babak baru perjuangan melawan penjajah, karena setelah perjuangan Pangeran Diponegoro tahun 1825 nyaris tidak ada gerakan. Dan  terbukti banyak tokoh Sarekat Islam menjadi pahlawan nasional. Mereka memiliki saham untuk Indonesia merdeka,” kata Ka’ban.

Lebih lanjut ia memaparkan, bahwa ruh Sarekat Islam Samanhudi adalah membangun ekonomi kaum pribumi. Sehingga di awal berdirinya menghindari konfrontasi dengan pemerintah Hindia Belanda. Karena sifat perjuangannya membangun ekonomi, maka  dapat berkembang dan terus menjadi gerakan penyadaran.

“Sebuah peristiwa sederhana tetapi melahirkan sesuatu yang besar,” tandas Ka’ban.

Diakhir paparannya Ka’ban mengatakan untuk terus mempelajari sejarah kehidupan tokoh-tokoh perjuangan jangan sampai menjadi ironi, dicantumkan ssebagai Pahlawan Nasional tetapi peninggalannya tidak bisa dirasakan. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.