Selasa, 19 November 19

Kemenperin Genjot Investasi dan Ekspor Manufaktur

Kemenperin Genjot Investasi dan Ekspor Manufaktur
* Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (Foto: Kemenperin)

Jakarta, Obsessionnews.com –  Pemerintah sedang memprioritaskan peningkatan investasi dan ekspor untuk memperbaiki struktur perekonomian nasional. Dua faktor tersebut, juga menjadi kunci untuk memacu daya saing Indonesia agar lebih kompetitif baik di tingkat regional maupun global.

“Dalam hal ini industri manufaktur berperan penting karena telah menjadi penggerak utama bagi perekonomian. Dengan investasi dan ekspor meningkat, kami optimis ekonomi kita menjadi lebih sehat,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta melalui siaran pers, Rabu (20/2/2019).

 

Baca juga:

Tenaga Kerja Industri Manufaktur Terus Meningkat

Brand Manufaktur Taiwan Unjuk Gigi di Indonesia

4 Tahun Kinerja Jokowi-JK Populasi Industri Manufaktur Meningkat

 

Airlangga menegaskan pihaknya tengah fokus menggenjot investasi dan ekspor di lima sektor yang menjadi prioritas dalam Making Indonesia 4.0, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronika.

“Sebab, kelima sektor manufaktur ini mampu memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian,” tuturnya.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, realisasi total nilai investasi di sektor industri manufaktur sepanjang tahun 2018 mencapai Rp222,3 triliun. Adapun sektor yang menjadi penopang utamanya yakni, industri logam, mesin dan elektronika, dan industri instrumen kedokteran, presisi, optik dan jam dengan nilai sebesar Rp60,12 triliun.

Kemudian, disusul industri makanan dengan nilai investasi mencapai Rp56,60 triliun, industri kimia dan farmasi Rp39,31 triliun, industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain Rp14,85 triliun, industri kertas dan percetakan Rp11,84 triliun, serta industri mineral logam Rp10,63 triliun.

Selanjutnya investasi industri karet dan plastik sebesar Rp9,40 triliun, industri tekstil Rp7,68 triliun, industri kayu Rp5,23 triliun, industri barang dari kulit dan alas kaki Rp3,54 triliun, serta industri lainnya Rp3,04 triliun.

“Formulasi yang dipakai pemerintah untuk mengurangi impor adalah dengan mendorong tumbuhnya industri substitusi impor, kemudian untuk mendorong ekspor juga dengan meningkatkan investasi berorientasi ekspor,” imbuhnya.

Dengan formula yang diterapkan tersebut, diharapkan terjadi loncatan pertumbuhan ekonomi nasional yang signifikan. Hal ini akan mendukung target Making Indonesia 4.0, yakni masuk 10 besar perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030.

“Maka itu, perlu mengakselerasi ekspor produk yang memiliki nilai tambah tinggi,” ujarnya. Dalam hal ini Kemenperin serius menjalankan kebijakan hilirisasi industri, yang juga mampu membawa efek berantai pada penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa.

 

Baca halaman selanjutnya

Pages: 1 2

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.