Selasa, 26 Oktober 21

Gunung Api Purba 35 Juta Tahun

Gunung Api Purba 35 Juta Tahun
* Fadlin,ST.,M.Eng dan Mahasiswa Teknik Geologi Unsoed.

Jejak Gunung Api Purba yang Hampir Punah

Fadlin ST M.Eng (Dosen Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melakukan penelitian tentang Gunung Api Purba berumur 35 – 25 juta tahun lalu, bersama enam mahasiswa Teknik Geologi Unsoed (Sekar rahmadani, Bagus wicaksono, Astika aulia rahmah, Wildan Nurhamzah, Tikah , Pendi W).

Hasil survei Gunung Api Purba berumur 35 – 25 juta tahun  lalu hampir punah tersebut ternyata telah menyentak tim peneliti.  Lokasi survei “Jejak Gunung Api Purba Yang Hampir Punah” di Tanjung Karang Bata yang berada di Desa Karang Duwur Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Bidang keahlian Fadlin adalah Geokimia Umum, Vulkanologi, Geologi Eksplorasi dan Endapan Mineral. Dia sehari-harinya tergabung sebagai anggota asosiasi dari IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) dan MGEI (Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia).

Penelitian :

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang termasuk kedalam “Ring Of Fire”. Hal ini disebabkan karena Indonesia yang secara tektonik dihasilkan dari aktivitas 3 lempeng besar berupa lempeng Eurasia (relatif pasif), lempeng Hindia-Australia yang bergerak relatif kearah utara dan menunjam kebawah lempeng Eurasia sehingga menghasilkan suatu jalur subduksi, serta lempeng pasifik yang bergerak relatif kearah barat. Tektonik pulau jawa disebabkan oleh adanya tumbukan lempeng Hindia-Australia yang bergerak relatif ke utara dengan lempeng Eurasia yang relatif diam. Hal ini menyebabkan terbentukanya jalur gunungapi (volcanic belt) baik yang masih aktif maupun gunungapi purba.

Gunungapi merupakan tempat keluarnya magma yang berupa batuan pijar dan atau gas ke permukaan bumi melalui bukaan (kawah), hasil kegiatan berupa bahan padat yang terkumpul di sekitar lubang biasanya membentuk bukit atau gunung. Dimana aktivitas vulkanik sudah terjadi sejak dulu dengan  ditemukannya  banyak  batuan  gunung  api  yang  tersebar  luas  baik  di daratan maupun di lautan dengan berbagai tingkatan umur tetapi dengan sumber erupsi tidak diketahui atau dengan kata lain bentuk gunung apinya telah hilang tererosi. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Banyumas 1:100.000 (S.Asikin dkk, 1992), pada umur Tersier (Oligosen-Miosen) di daerah Dome Karangbolong banyak dijumpai batuan gunungapi yang masuk dalam Formasi Gabon (Tomg) dan dike Andesite (Tma).

Batuan gunung api di daerah penelitian belum diketahui dari mana asal sumber gunung api purbanya serta tidak diketahui dengan jelas dimana pusat erupsinya baik bekas kawah, dan fasies gunung api purbanya. Berdasarkan hal tersebutlah, sehingga melatarbelakangi Fadlin,ST,,M.Eng. melakukan penelitian berupa pemetaan geologi pada daerah penelitian dengan beberapa analisis meliputi geomorfologi, vulkanostratigrafi, struktur geologi, dan sejarah geologi. Dalam penelitian ini dilakukan juga analisis komposisi mineral dan geokimia lava basalt (Tanjung Karangbata) untuk mengetahuai karakteristik dari lava basalt tersebut. Lava basalt inilah yang diduga sebagai cikal bakal atau kegiatan gunungapi purba Menganti pertama kali, dalam hal ini diinterpretasikan bahwa umur lava basalt Tanjung Karangbata ini adalah sekitar ±35-25 juta tahun yang lalu, dimana umur tersebut disetarakan dengan umur Formasi Gabon (Tomg) dan dike Andesite (Tma).

Lokasi penelitian difokuskan pada daerah Pantai Menganti dan sekitarnya dengan luasan daerah penelitian 25 Km2 dan berada pada koordinat 9.140.000 mN – 9.144.000 mN dan 322.000 mE – 326.000 mE. Secara administrasi daerah penelitian termasuk kedalam kecamatan Ayah yang meliputi Desa Argopeni, Desa Karangduwur, Desa Strati dan Desa Argosari. Secara regional lokasi penelitian termasuk kedalam fisiografi pegunungan serayu selatan (van Bemmelen, 1949).

 

Fadlin,ST.,M.Eng dan Mahasiswa Teknik Geologi Unsoed

 

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan adalah pemetaan geologi permukaan, dengan pengambilan sampel batuan secara random dan bersifat selektif. Kegiatan pemetaan dilakukan untuk mengetahui kondisi tatanan geologi pada daerah penelitian yang meliputi geomorfologi, vulkanostratigrafi, struktur geologi, dan sejarah geologi. Dalam penelitian ini dilakukan juga analisis komposisi mineral dan analisa geokimia lava basalt (Tanjung Karangbata) pada laboratorium Hard Rock Teknik Geologi UNSOED dan Laboratorium Geokimia Aachen University Jerman. untuk mengetahuai karakteristik dari lava basalt tersebut untuk menentukan jenis batuan, proses evolusi magma yang terjadi, serta tatanan tektonik daerah penelitian.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN :

 

GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

Geomorfologi merupakan studi bentang lahan dan proses yang mempengaruhi pembentukannya. Pengamatan yang dilakukan berupa pengamatan pada citra SRTM dan peta topografi yang meliputi pengamatan perbedaan  ketinggian  dan  relief  yang dilihat  dari kerapatan  kontur. Dalam pengelompokan satuan bentang lahan penulis menggunakan klasifikasi Van Zuidam  (1985), dalam hal ini daerah penelitian terdiri dari Satuan Perbukitan  Karst (K2), Satuan Perbukitan Intrusi (S11), Satuan Perbukitan Aliran Lava (V7) dan Satuan Perbukitan Denudasional (V14). Dari hasil kegiatan lapangan berupa pemetaan geologi permukaan yang dilakukan dilokasi penelitian, maka dihasilkan beberapa satuan batuan mulai dari yang paling tua hingga yang muda yaitu Satuan Lava basalt Tanjung Karangbata, Satuan Breksi Gunungapi, Satuan Lava Andesit, dan Satuan Batugamping Terumbu. Sedangkan bedasarkan hasil pengamatan langsung dilapangan, diperoleh beberapa kenampakan struktur geologi di daerah penelitian. Struktur geologi yang ada didaerah  penelitian  berupa  patahan turun  yang  diperkirakan.  Patahan  turun  ini berarah utara-selatan mengikuti arah morfologi triangular facet.

 

Fadlin,ST.,M.Eng

 

PETROLOGI DAN GEOKIMIA LAVA BASALT TANJUNG KARANGBATA

Satuan batuan ini terdiri lava basalt dan breksi hyaloclastic yang merupakan hasil dari aktivitas gunungapi purba bawah laut. Lava basalt pada daerah penelitian berwarna hitam dengan struktur colummnar joint (kekar kolom berbentuk segi enam), sheeted Joint (kekar berlembar) dan Pillow lava texture (lava bantal). Pada permukaan batuan terdapat struktur vesikuer dan  lava basalt ini diinterpretasikan sebagai batuan tertua di daerah Menganti dan sekitarnya, dan merupakan cikal bakal dari permulaan kegiatan gunungapi (volcanism) di selatan jawa. Sedangkan litologi breksi hyalocalstic merupakan breksi yang dihasilkan dari aktivitas gunungapi bawah laut, batuan ini memiliki tekstur afanitik dengan derajat kristalitas hipokristalin. Karakteristik breksi hyaloklastik  memiliki  warna  abu-abu  gelap  dengan  tektur  berupa  jigsaw (seperti susunan puzzle).

Fragmennya berupa basalt dengan matriks dan semen mengandung unsur karbonat, dan hal tersebut adalah bukti bahwa batuan ini terbentuk dibawah laut. Berdasarkan hasil analisis petrologi atau kajian secara ilmu tentang batuan serta kajian geokimia batuan dapat disimpulkan bahwa batuan gunungapi berupa lava basalt yang berada di Tanjung Karangbata merupakan batuan beku ekstrusiv hasil erupsi gunung api purba bawah laut yang memiliki sifat yang basaltic atau dengan kata lain tersusun atas mineral mineral mafik seperti plagioklas Ca, olivine dan piroksen (ortho-piroxen), dimana mineral-mineral tersebut banyak membawa unsur-unsur seperti Ca, Mg dan Fe.

Sedangkan berdasarkan hasil analisis geokimia batuan yang dilakukan di Laboratorium Aachen University Jerman dengan metode ICP-MS maka dapat disimpulkan bahwa batuan gunungapi berupa lava basalt ini memiliki tingkat afinitas magma yang bersifat Tholeitic yang terbentuk dekat dengan jalur subduksi atau dekat dengan batas penunjaman lempeng dengan komposisi Silica dan potassium yang cukup rendah, lava basalt ini memiliki karakter magma pembentuk berupa magma primer, dimana magma ini belum banyak mengalami perubahan komposisi pada saat pengalami proses differensiasi. Berdasarkan hasil klasifikasi unsur geokimia REE yang dilakukan maka diketahui bahwa Setting tektonik dari lava ini adalah pada zona ACM active Continental Margin.

POTENSI GEOWISATA GUNUNGAPI PURBA

Geowisata adalah suatu kegiatan wisata berkelanjutan dengan fokus utama pada kenampakan geologi permukaan bumi dalam rangka mendorong pemahaman akan lingkungan hidup dan budaya, apresiasi dan konservasi serta kearifan lokal (Cooper, C, Fletcher, 1998). Dowling (2009:24) menyebutkan bahwasanya terdapat 5 prinsip geowisata, antara lain: (1) geowisata berbasis pada kenampakan geologis; (2) keberlanjutan dalam ekonomi, masyarakat dan nilai konservasi; (3) memberikan nilai edukasi; (4) memberikan keuntungan bagi lingkungan sekitar; (5) memberikan kenyamanan kepada pengunjung. Dari kelima prinsip tersebut, prinsip pertama merupakan prinsip dari geowisata, sedangkan 2 prinsip terakhir merupakan prinsip dari pariwisata. Sedangkan nilai bentang alam geologi sebagai warisan alam dikelompokkan menjadi empat jenis yaitu:

  1. Nilai ilmiah (rekaman evolusi bumi)
  2. Nilai estetika (keunikan dan keindahan alam)
  3. Nilai rekreasi (potensi unsur rekreasi)
  4. Nilai budaya (arti sejarah dan budaya)

Berdasarkan syarat tersebut, keberadaan Gunungapi Purba Menganti dengan salahsatu produk batuannya berupa lava basalt yang memiliki bentuk dan geometri yang cukup unik dan langka yaitu berupa kekar kolom, kekar berlembar hingga berbentuk lava bantal serta kehadirannya sangat jarang di temukan di wilayah pulau jawa khusunya, sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu geoheritage yang patut dilindungi. Dalam hal ini juga dapat dikembangkan sebagai prospek atau potensi geowisata dimana dalam hal ini selain merupakan wisata keindahan dan keunikan suatu objek tetapi juga menawarkan kepuasan psikologi dalam artian ada transfer knowledge ilmu kebumian bagi wisatawan atau pengunjung.

 

Gunung Api Purba

 

KESIMPULAN

  1. Batuan gunungapi Lava basalt Menganti merupakan batuan hasil erupsi gunungapi purba bawah laut yang diduga berumur Oligosen-Miosen atau sekitar berumur 35-25 juta tahun yang lalu dan merupakan cikal bakal permulaan dari aktivitas gunungapi di selatan Pulau Jawa yang kemudian tertutup oleh batuan karbonat berupa batugamping.

 

  1. Lava basalt yang berada di Tanjung Karangbata merupakan batuan beku ekstrusiv hasil erupsi gunung api purba bawah laut yang memiliki sifat yang basaltic atau dengan kata lain tersusun atas mineral mineral mafik seperti plagioklas Ca, olivin dan piroksen (ortho-piroxen), dimana mineral-mineral tersebut banyak membawa unsur-unsur seperti Ca, Mg dan Fe.

 

  1. Hasil analisis geokimia batuan yang dilakukan di Laboratorium Aachen University Jerman dengan metode ICP-MS (Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry) maka dapat disimpulkan bahwa batuan gunungapi berupa lava basalt ini memiliki tingkat afinitas magma yang bersifat Tholeitic yang terbentuk dekat dengan jalur subduksi atau dekat dengan batas penunjaman lempeng dengan komposisi Silica dan potassium yang cukup rendah, lava basalt ini memiliki karakter magma pembentuk berupa magma primer, dimana magma ini belum banyak mengalami perubahan komposisi pada saat pengalami proses Berdasarkan hasil klasifikasi unsur geokimia REE yang dilakukan maka diketahui bahwa Setting tektonik dari lava ini adalah pada zona ACM Active Continental Margin.

 

SARAN

  1. Mengingat keberadaan Lava basalt hasil dari kegiatan Gunungapi purba Menganti cukup unik dan langka dengan geometri dan bentuk berupa kekar kolom, kekar berlembar hingga berbentuk lava bantal serta kehadirannya sangat jarang di temukan di wilayah pulau jawa khusunya sehingga dapat dijadikan
  2. Keberadaan Lava basalt yang merupakan bukti keberadaan Gunungapi purba Menganti ini harus di lindungi dan dijaga kelestarianya atau dengan kata lain perlu dilakukan langkah konservatif yang bersifat Sustainable Development.
  3. Lava basalt dengan geometri dan bentuk berupa kekar kolom, kekar berlembar hingga berbentuk lava bantal ini serta karakternya yang unik dan langka, sehingga dapat dijadikan atau dikembangkan sebagai potensi wisata minat khusus, dalam hal ini dapat dikembangkan sebagai prospek atau potensi geowisata dimana dalam hal ini selain merupakan wisata keindahan dan keunikan suatu objek tetapi juga menawarkan kepuasan psikologi dalam artian ada transfer knowledge ilmu kebumian terhadap wisatawan atau pengunjung.
  4. Pemerintah Kabupaten Kebumen perlu merencanakan penelitian yang lebih detil tentang keberadaan batuan gunungapi yang tersebar di wilayah pantai Menganti dan sekitarnya, untuk pengembangan Potensi Geowisata Gunungapi Purba.

 

Purwokerto, 15 November 2017

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.