Jumat, 5 Juni 20

Di Sidang Kabinet, Menteri ESDM dan BUMN Kena Tegur Jokowi

Di Sidang Kabinet, Menteri ESDM dan BUMN Kena Tegur Jokowi
* Presiden Jokowi memimpin sidang kabinet di Istana Bogor. (Foto: Setneg)

Bogor, Obsessionnews.com – Sesibuk apa pun aktivitas Joko Widodo (Jokowi), dia tetap memantau kinerja para anak buahnya di kabinet. Dalam sidang kabinet paripurna di Istana Bogor, Presiden Jokowi tampaknya kesal dengan sejumlah menteri yang dianggap kurang bagus dalam bekerja.

 

Baca juga:

Kunjungan ke Sulut, Jokowi Akan Tinjau Infrastruktur Pendukung Pariwisata

Jokowi Beberkan Tiga Syarat Untuk Jadi Menteri di Kabinet Kerja Jilid II

Pertemuan Jokowi dan Prabowo Segera Terwujud

 

Secara eksplisit Jokowi menyoroti defisit neraca perdagangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang ditampilkan Presiden memperlihatkan ekspor pada Januari-Mei 2019 mengalami penurunan hingga 8,6 persen.

Defisit neraca perdagangan tersebut disebabkan tingginya impor, yang tidak sebanding dengan ekspor. Jokowi menyebut impor yang tinggi itu justru berada di sektor minyak dan gas.

“Artinya neraca perdagangan kita, Januari-Mei ada defisit US$2,14 miliar. Coba dicermati angka-angka ini dari mana, kenapa impor jadi sangat tinggi, kalau didetailkan lagi migasnya ini naiknya gede sekali. Hati-hati di migas pak menteri ESDM yang berkaitan dengan ini, bu menteri BUMN yang berkaitan dengan ini, karena rate-nya yang paling banyak ada di situ,” kata Presiden Jokowi, di Istana Bogor, Senin (8/7/2019).

Jokowi menilai seharusnya peluang Indonesia untuk ekspor sangat besar di tengah perang dagang antara AS dan China. Produk-produk dalam negeri bisa masuk ke pasar kedua negara. Namun sayangnya, justru tidak ada intensif yang diberikan. Akibatnya, pengusaha Indonesia juga tidak bisa masuk ke sana.

“Kalau hanya rutinitas dan tidak memberikan insentif untuk eksportir-eksportir baik yang kecil, besar maupun sedang ataupun insentif-intensif yang berupa bunga misalnya, ya sulit untuk mereka bisa menembus. Baik ke pasar yang tadi saya sampaikan maupun pasar-pasar yang baru,” kata Jokowi.

Menurutnya, Indonesia punya sektor riel yang bisa diandalkan. Misalnya tekstil yang berpeluang bisa masuk lebih besar ke pasar-pasar tersebut lalu sektor furnitur. Jokowi menyayangkan, justru peluang ini tidak dilihat oleh jajarannya sebagai cara untuk meningkatkan ekspor di tengah-tengah perang dagang itu.

“Inilah yang selalu kita kalah memanfaatkan peluang, ada kesempatan tidak bisa kita ambil karena insentif-intensif itu tidak kita berikan,” katanya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.