Di Masa Pandemi Covid-19, Barter Jadi Gaya Hidup Sebagian Kelompok Masyarakat

Jakarta, Obsessionnews.com – Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) berdampak pada setiap lini kehidupan masyarakat. Adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengharuskan para pegawai untuk bekerja dari rumah atau work from home (WFH) dan masyarakat diimbau untuk menghindari kerumunan mengakibatkan banyak kegiatan yang terdampak, seperti laju penggunaan teknologi yang terus meningkat dikarenakan kegiatan bekerja dari rumah, bertemu teman, pengajian, arisan, belanja semua dilakukan secara elektronik. Baca juga:Hasil 14 Ribu Rapid Test, di Kebumen Tidak Ada Penambahan Kasus CoronaPKS Desak Pemerintah Tindak Tegas Penyebar Info Nakes Jadikan Covid-19 Lahan Bisnis Uang sudah semakin langka dipergunakan karena transaksi lebih sering terjadi secara online. Oleh karenanya pembayaran pun dilakukan secara elektronik. Tetapi rupanya keadaan tersebut tidak berlaku secara umum, karena sebagian masyarakat tidak dapat bertransaksi secara elektronik karena memang tidak punya uang. Pada fase seperti ini simbol-simbol kemodernan di abad ke-21 seolah-olah menghilang. Orang kembali berpikir bagaimana mendapatkan barang, baik barang pokok maupun bahan baku untuk produksi, dapat dilakukan secara barter. Notaris/pemerhati koperasi dan ekonomi kreatif Dr. Dewi Tenty Septi Artiany, S.H., M.H., M.Kn mengungkapkan, barter adalah cara di mana orang menukar barang dengan barang, atau barang dengan jalan melepaskan hak milik dari satu pihak kepada pihak lain dengan dasar saling rela. “Barter merupakan sebagai sebuah kegiatan yang bisa dilakukan di dalam kegiatan perdagangan dengan cara mempertukarkan barang yang satu dengan barang yang lain. Jadi dalam barter terjadi proses jual beli, namun pembayarannya tidak menggunakan uang, melainkan menggunakan barang,” kata Dewi dalam keterangan tertulis yang diterima obsessionnews.com, Rabu (10/6/2020). Halaman selanjutnyaSejarah Barter Ia menjelaskan dalam sejarahnya barter merupakan salah satu bentuk awal perdagangan. Sistem ini menfasilitasi pertukaran barang dan jasa saat manusia belum menemukan uang. Sejarah barter dapat ditelusuri kembali hingga tahun 6000 SM. Diyakini bahwa sistem barter diperkenalkan oleh suku-suku Mesopotamia. Sistem ini kemudian diadopsi oleh orang Fenisia yang menukarkan barang-barang mereka kepada orang-orang di kota-kota lain yang terletak diseberang lautan. Sebuah sistem yang lebih baik dari barter dikembangkan di Babilonia. “Kelemahan utama dari barter adalah tidak adanya kriteria standar untuk menentukan nilai barang dan jasa yang mengakibatkan rawannya perselisihan. Hal ini kemudian membuat orang berpikir bagaimana cara membuat suatu alat tukar yang dapat dipergunakan untuk semua, yaitu uang,” ujar Dewi. Menurutnya, penemuan uang ternyata tidak lantas mematikan sistem barter. Saat krisis moneter, misalnya, banyak orang kembali melirik barter karena fluktuasi nilai mata uang yang tidak menentu. Seperti di masa pandemi Covid-19 ini sebagian kelompok masyarakat kembali melakukan gerakan kolektif dengan cara barter, baik antar perseorangan maupun antar kelompok masyarakat dengan tujuan untuk menata kembali sosial ekonomi masyarakat. Atau dengan kata lain barter menjadi gaya hidup sebagian kelompok masyarakat di masa pandemi Covid-19. Pada perseorangan barter lazim dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat dan untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), barter dapat dilakukan untuk saling memenuhi kebutuhan bahan baku. Halaman selanjutnyaTerinspirasi dari Penjual Madu Baduy Salah satu contoh Dewi terinspirasi dari pengalaman Erwin Winaldi, salah satu pelaku UMKM yang tergabung dalam umkmalumni, yakni tempat berkumpulnya para pelaku umkm alumni UNPAD. Erwin berkegiatan sebagai penjual madu Baduy. “Menurutnya, ada beberapa konsumen yang memerlukan madu untuk kesehatan, yang memang harus dijaga di masa pandemi Covid-19, tetapi yang bersangkutan tidak punya uang untuk membayar kegiatannya. Sedangkan Kang Erwin memerlukan power bank yang dapat digunakan untuk meningkatkan promosi usaha melalui media online,” ujar Dewi. [gallery link="file" columns="2" size="medium" ids="315474,315475"] Ia melanjutkan, transaksi terjadi dengan nilai yang sudah disepakati. Jadilah barter antara power bank dengan madu Baduy. Ini adalah salah satu contoh geliat perekonomian yang dilakukan secara barter. Masih banyak contoh barter lain saling bertukar bahan pokok makanan dan batang barang pokok lain yang diperlukan. “Hal ini yang saat ini menjadi lazim dilakukan oleh masyarakat sebagai upaya untuk mengoptimalisasi dan membuat tetap optimis, bahwa life must go on dan untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah dan gemilang,” pungkas Dewi. (arh)





























