Rabu, 8 Februari 23

Di Hadapan Pemuka Kristen, Din Syamsuddin Sebut Dakwah Jangan Ganggu Kerukunan

Di Hadapan Pemuka Kristen, Din Syamsuddin Sebut Dakwah Jangan Ganggu Kerukunan
* Din Syamsuddin menghadiri Konferensi Pekabaran Injil 2018 di Brastagi, Sumatera Utara. (Dok: UKP-DKAAP)

Jakarta, Obsessionnews.com –Utusan Khusus Presiden RI Untuk Dialog Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP) Din Syamsuddin menghadiri Konferensi Pekabaran Injil 2018 di Brastagi, Sumatera Utara.

Konferensi Pekabaran Injil 2018 yang berlangsung pada 29-31 Mei tersebut diselenggarakan oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bekerja sama dengan Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII).

Din mengatakan, Muyawarah Besar “Pemuka agama untuk kerukunan bangsa” yang diselenggarakan oleh Kantor UKP-DKAAP di Jakarta pada Februari lalu, para pemuka agama telah menyepakati, fondasi relasi harus bersandar pada persahabatan berdasarkan kemanusiaan sejati.

Din menggarisbawahi, kerukunan yang diperjuangkan bukan saja berdasarkan kebutuhan bangsa, tetapi juga kebutuhan orang perorang, kelompok per kelompok. Dalam kaitan ini kerukunan tak boleh menghalangi misi dan dakwah.

“Sebaliknya juga misi dan dakwah tak boleh mengganggu kerukunan,” ujar Din dalam keterangan tertulis yang diterima Obsessionnews.com, Kamis (31/5/2018).

Di hadapan lebih dari 300 Pemuka Agama Kristen tersebut Din menggakui, seringkali umat Muslim tersinggung terhadap perkembangan misi Kristen di Indonesia. Ini karena merasa umatnya digerus. Beberapa penelitian menunjukan bahwa annual growth rate Protestan meningkat, terutama di beberapa kantong Muslim seperti Yogyakarta dan Sumatera Barat.

“Data-data seperti ini mengentalkan berkembangnya isu kristenisasi, yang pada gilirannya turut mempengaruhi berkembangnya radikalisme Islam di Indonesia,” jelasnya.

Menurutnya, ekslusivisme, absolutisme, dan monopolistis adalah masalah pemuka agama di Indonesia saat ini. Terutama, ketika pemuka agama menjadikan masyarakat sebagai pasar bebas agama dengan dasar logika kebebasan dan hak azasi.

“Perlu dipahami bahwa misi kerasulan Muhammad SAW adalah menyebarkan rahmat bagi alam semesta. Lil ‘alamin artinya seuruh alam, jadi bukan lil muslimin, atau rahmat hanya untuk seluruh Muslim,” katanya.

 

Islam, Kristen, dan Yahudi memiliki banyak persamaan

Pada dasarnya agama Islam, Kristen, dan Yahudi memiliki lebih banyak persamaan dibandingkan dengan perbedaan. Contohnya, antara Islam dan Kristen sama-sama menerima Yesus. Bedanya hanya soal penyebutan gelar kepada Yesus. Islam menerimanya sebagai salah satu rasul yang agung, sementara Krisen mengakuinya sebagai Tuhan. Dalam Qurán penyebutan nama Isa Almasih lebih banyak ketimbang Muhammad.

“Selain itu, agama Islam dan Kristen sama-sama merupakan agama misioner. Kristen menyebutnya misi, sementara Islam menyebutnya dakwah,” tambah Din.

Din melanjutkan, jalan Allah SWT dalam pengertian ini merujuk pada kebaikan bersama (Common Good). Disini semua agama punya persepsi yang sama, sekalipun sebutannya berbeda. Jelas disini bahwa dakwah itu bukan untuk mengajak orang masuk Islam, tetapi menuntun orang ke jalan yang benar.  (Popi)

 

Baca juga:

Din Syamsuddin Ajak 450 Pemuka Agama Jaga Kerukunan

Din Tegaskan Mubes Pemuka Agama Bukan ‘Alat’ Pilkada

Mubes Pemuka Agama Digelar Libatkan Ribuan Umat

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.