Senin, 14 Oktober 19

Chrisye Tak Lagi Nyaman Lihat Dirinya di Depan Cermin

Chrisye Tak Lagi Nyaman Lihat Dirinya di Depan Cermin
* Penyanyi legendaris Indonesia Chrisye. (Foto: Instagram/@vinogbastian)

Jakarta, Obsessionnews.com – Berita tentang penyanyi legendaris Chrisye masih menjadi trending topic di mesin pencari Google. Pantauan obsessionnews.com di Google Trends wilayah Indonesia pada Selasa (17/9/2019) pukul 09.23 WIB, berita tentang pria yang mempunyai nama asli Chrismansyah Rahadi ini telah ditelusuri lebih dari 2 juta kali.

Salah satu beritanya yang menjadi trending topic itu adalah kisah yang dialami Chrisye selama menjadi ‘orang minoritas’ pada kala itu. Seperti dilansir dari buku berjudul Chrisye, Sebuah buku terbitan Gramedia, yang ditulis Alberthiene Endah.

Baca juga: Chrisye Tayang di Google Doodle

Menjadi seorang keturunan Cina tidak sepenuhnya bisa lepas dari kehidupan Chrisye, terutama ketika mengenang kembali pengalamannya di sekolah dasar. Suatu siang, ketika pulang sekolah, ia mendengar celetukan yang cukup menohok di sebuah jalan. “Cina Lo!” teriakan itu datang tanpa diketahui dari mana asalnya.

Tak lama berselang, sebuah batu kecil mulai menghantam kepalanya. Ia kebingungan sembari menoleh ke kiri dan kanan. Kemudian, segerombolan anak datang dan berteriak ke arahnya. “Cina! Cina! Cina!”. Teriakan itu terdengar keras. Ia mulai kelabakan saat beberapa anak kembali melemparkan batu kepadanya.

Lalu ia berlari menyelamatkan diri sambil memegang kepala yang berdarah. Sesampai di rumah, cepat-cepat ia bersihkan bekas luka dan memilih tidak menceritakan pengalaman buruk itu kepada ibunya. “Itu peristiwa yang menancap cukup dalam di benak saya,” kata Chrisye ketika menceritakan kembali pengalamannya.

Peristiwa rasial dan persekusi itu benar-benar menancap di kepalanya. Bahkan Chrisye tak lagi nyaman melihat diri sendiri di depan cermin, karena merasa terancam saat melihat kulit putih dan mata sipitnya di cermin. Kekerasan yang dialaminya itu, kenang Chrisye, begitu menancap di alam bawah sadarnya, bahkan semakin kuat ia menepis rasa ketakutan itu, semakin kuat pula ingatan itu muncul pada saat-saat tertentu.

Tidak heran bila Chrisye menolak menjadi ketua kelas dan organisasi saat di sekolah karena tak mau menjadi terkenal. “Saya takut menjadi sorotan dan orang menyadari bahwa saya orang Cina,” kenangnya. Untung saja, masalah ini tidak berlarut-larut.

Hal itu disebabkan berkat pergaulan dan orang tua membuat dia tenang kembali. Meskipun membutuhkan waktu yang lama untuk menenangkan perasaan.

Justru Chrisye merindukan rumahnya karena sudah tidak diwarnai dengan hiasan khas Cina seperti teman-teman Tionghoa lainnya. Hal itu kemudian membuatnya senang bila berkumpul di acara keluarga. Apalagi saat sang paman dari ibunya menyambangi rumahnya, ia senang karena sang paman sering memberi salam dengan membungkuk badan, seperti khas Tionghoa. “Apalagi bila paman bicara dengan logat Tionghoa yang kental dan sedikit cadel. Saya merasa punya cipratan budaya yang menarik,” ungkap dia.

Namun masalah ‘kecinaan’ ini tetap berkembang menjadi sebuah problem, terutama ketika sudah menjadi penyanyi terkenal. Sampai ia berusia setengah abad pun, Chrisye masih dihantui dengan sebuah pertanyaan. ‘Haruskah saya mengaku Cina?’ Seandainya saat itu ada seseorang yang berhasil menenangkan ketakutannya, mungkin saja ia tidak pernah trauma mengaku diri seorang keturunan Cina. “Saya merasa rugi memiliki ketakutan semacam itu.”

Untuk diketahui, Chrisye dilahirkan dengan nama Christian Rahadi pada 16 September 1949 di Jalan Teuku Cik Ditiro, Jakarta. Darah Tionghoa ia peroleh dari sang ayah bernama Laurens Rahadi berdarah Betawi-Cina yang lahir pada tanggal 14 Juli 1918 di Jakarta. Sementara ibunya keturunan Sunda-Cina yang lahir di Bogor pada 26 Agustus tahun 1923.

Chrisye meninggal di Jakarta, 30 Maret 2007 pada umur 57 tahun. Dia merupakan seorang penyanyi dan pencipta lagu asal Indonesia.

Chrisye menjadi tertarik dengan musik saat masih muda. Waktu masih belajar di SMA, Chrisye main gitar bas dalam sebuah band yang ia bentuk bersama kakaknya, Joris. Pada akhir dasawarsa 1960-an dia menjadi anggota band Sabda Nada, yang kemudian hari berganti nama menjadi Gipsy.

Pada 1973, setelah mengambil cuti beberapa lama, dia mengikuti band tersebut ke New York untuk main musik. Setelah kembali ke Indonesia untuk waktu singkat, dia kembali ke New York dengan band lain, yaitu The Pro’s. Sekembali ke Indonesia, pada 1976 dia bekerja sama dengan Gipsy dan Guruh Soekarnoputra untuk merekam album indie Guruh Gipsy.

Setelah keberhasilan Guruh Gipsy, pada 1977, Chrisye menghasilkan dua karya terbaiknya, yaitu ‘Lilin-Lilin Kecil’ tulisan James F. Sundah serta album jalur suara Badai Pasti Berlalu. Sukses kedua karya ini membuat Chrisye direkrut oleh Musica Studios, dengan perusahaan rekaman itu dia merilis album solo perdananya, Sabda Alam, pada 1978. Selama kariernya yang lebih dari 25 tahun dia menghasilkan 18 album solo lain, serta main dalam satu film, yakni Seindah Rembulan (1981).

Chrisye meninggal di rumahnya di Jakarta pada 30 Maret 2007 setelah bertahun-tahun mengidap kanker paru-paru. Dia meninggalkan seorang istri, Gusti Firoza Damayanti Noor, dan empat anak.

Dikenal untuk vokalnya yang halus dan gaya panggung yang kaku, Chrisye dianggap salah satu penyanyi Indonesia legendaris. Lima album yang termasuk karyanya dimuat dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik oleh majalah musik Rolling Stone Indonesia.

Lima lagunya dimuat dalam daftar lagu terbaik oleh majalah yang sama pada 2009. Beberapa albumnya disertifikasi perak atau lebih tinggi. Dia menerima dua lifetime achievement award, satu pada 1993 dari BASF Awards dan satu lagi pada 2007 dari stasiun televisi SCTV. Pada tahun 2011, Rolling Stone Indonesia mencatat Chrisye sebagai musisi Indonesia terbaik nomor tiga sepanjang masa. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.