Sabtu, 28 November 20

Cerita Dai Parmusi di Wamena, Rumahnya Nyaris Dibakar Karena Gencar Berdakwah

Cerita Dai Parmusi di Wamena, Rumahnya Nyaris Dibakar Karena Gencar Berdakwah
* Rumah Dai Parmusi Ustaz Hamka Yeli Pali dijaga aparat polisi karena rumah itu hendak dibakar massa. (Foto: Dokumen Pribadi)

Jakarta, Obsessionnews.com – Terlahir dari keluarga Kristiani Hamka Yeli Pali memutuskan untuk menjadi seorang mualaf di usia yang masih kecil, yakni 10 tahun. Kini menginjak usia 32 tahun, Hamka semakin matang mempertahankan keyakinannya sebagai seorang Muslim yang taat. Bahkan sekarang ia turut serta menyebarkan pengaruh Islam di Kabupaten Wamena, Provinsi Papua, dan menjadi dai Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi).

 

Baca juga:

Parmusi Save Help Turun ke Bawah Bantu Para Korban di Wamena

Peduli Wamena, Dana Kemanusian dari Parmusi Terkumpul Rp50 Juta

Desa Madani Parmusi Dibangun Mulai dari Masjid ke Masjid

 

Kehadiran dai Parmusi Ustaz Hamka Yeli Pali telah memberikan warna baru bagi perkembangan Islam di sana. Sebab, dimulai dari dakwahnya, umat Islam di kampung halamannya di Holima, Distrik Napua, kini sudah mencapai 100 orang. Meski menjadi kaum minoritas, ustaz Hamka aktif terlibat dalam setiap kegiatan sosial kemasyarakatan di sana, sehingga dakwahnya masih bisa terima. Termasuk terlibat aktif dalam penanganan bencana kemanusian dari korban kerusuhan di Wamena.

Kerusuhan di Wamena memang menyisakan tangis, karena banyak umat Islam yang turut menjadi korban. Melalui gerakan Parmusi Save Help Wamena, Ustaz Hamka turut menyalurkan bantuan bahan makanan pokok untuk diberikan kepada para korban yang masih mengungsi. Tidak hanya itu, bersama aparat TNI dan Polri, ia juga ikut melakukan evakuasi para korban untuk dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Lantas bagaimana sepak terjang ustaz Hamka dalam menjalankan aktivitas keislaman di sana?

Pria kelahiran 15 Mei 1988 itu mengungkapkan, memperjuangkan Islam agar bisa lebih besar berkembang di Bumi Cendrawasih memang tidak mudah. Sebab, agama ini menjadi kelompok minoritas. Ia sendiri kerap mendapat perlakuan diskriminatif dari kelompok luar, ruang dakwahnya dibatasi dengan adanya aksi penolakan.
Bahkan dari penuturan ceritanya, rumah dan mushala ustaz Hamka pernah nyaris dibakar massa karena mereka khawatir pengaruhnya semakin besar di Wamena. Namun, bersyukur kejadian itu tidak sampai dilakukan setelah mendapaat penjagaan dari aparat.

“Kejadian itu bermula saat saat saya mau mencalonkan diri sebagai caleg DPRD Kabupaten di Wamena Februari 2019 kemarin. Namun ada kelompok tidak senang jika ada perwakilan Muslim bisa jadi anggota dewan, khawatir pengaruhnya di masyarakat semakin besar. Akhirnya mereka sebar undang di 10 kecamatan untuk membakar rumah saya dan mushala saya. Tapi alhamdulillah itu tidak sampai dilakukan karena rumah dijaga aparat,” ujar Ustaz Hamka saat dihubungi, Kamis (2/10).

Ustadz Hamka mengungkapkan, pagi setelah shalat subuh ia bersama keluarga panik dan kaget tak kala mendapat informasi rumahnya akan dibakar oleh massa dari kalangan non Muslim. Takut hal itu terjadi, ia sempat minta bantuan warga sekitar dari kalangan Muslim untuk membantu memberikan pengamanan. Namun rupanya mereka juga takut karena massa di sana dikabarkan jauh lebih besar. Bingung dengan keadaan yang begitu mendesak, tiba-tiba dia teringat dengan janji Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang menyatakan Polri siap bersinergi bersama Parmusi dalam berdakwah.

“Pagi itu tiba-tiba saya teringat pesen Kapolri Jenderal Tito waktu acara penutupan Jambore Dai Parmusi. Jenderal Tito pernah bilang Polri siap mengawal kader-kader Parmusi dalam berdakwah di desa-desa. Dari situ saya berpikir mungkin dia bisa bantu saya,” terangnya.

Namun kebingungan itu mulai muncul lagi bagaimana bisa menghubungi Tito, sedangkan dia sendiri tidak kenal dan tidak punya jaringan ke sana. Bersyukur dia masih menyimpan nomor Ketua Umum PP Parmusi H. Usamah Hisyam, dia berpikir mungkin dari tangan Usamah dia bisa membantu. Akhirnya Ustadz Hamka memberanikan diri menghubungi Usamah dan menceritakan kondisi keluarganya yang takut rumahnya akan dibakar massa. Mendengar informasi itu, Usamah langung menghubungi Kapolri dan meminta aparatnya di Wamena bergerak mengamankan rumah Ustadz Hamka.

“Begitu Pak Usamah menelpon Kapolri, pagi itu juga langsung datang aparat polisi dari Polres Wamena ke rumah saya. Perasaan saya sedikit lega, bersyukur alhamduillah akhirnya bantuan itu datang. Karena tahu rumah kami dijaga polisi dan kita melakukan mediasi secara baik-baik rumah tidak jadi dibakar, dan amarah warga bisa redam. Sekarang kita juga berdakwah sudah sedikit tenang karena polisi ikut membantu kami,” ungkapnya.

Ustaz Hamka adalah seorang Muslim asli pribumi Papua. Dia menceritakan masuk Islam saat masih anak-anak usia 10 tahun. Saat itu ia sering diajak oleh kakaknya yang lebih dulu masuk Islam untuk tinggal di penampungan anak di Pondok Pesantren Al Istiqomah di Distrik Walesi Kabupaten Jayawijaya. Meski dilarang oleh orangtuanya yang menganut paham kristiani, ustaz Hamka kecil tidak bergeming. Ia selalu minta ikut kakaknya untuk tinggal di pondok.

“Setiap kakak saya pulang ke rumah, saya nangis selalu minta ikut kakak tinggal di pondok. Orang tua awalnya tidak ngizinkan karena takut saya kebawa kakak. Tapi karena saya bandel minta ikut terus, akhirnya saya dibiarkan ikut kakak, dan masuk Islam belajar ngaji di sana bareng kakak. Alhamdulilah,” ujar Ustaz Hamka menceritakan.

Belakangan, ustaz Hamka malah berhasil membawa kedua orangtuanya untuk masuk Islam pada 2015 lalu. Padahal awalnya orantuanya melarang. Dari enam bersaudara, ia bersyukur empat di antaranya masuk Islam. Adapun dua saudara perempuannya tetap menjadi seorang kristiani karena mengikuti agama suaminya. Ustaz Hamka bersama kakaknya kini terus berdakwah menyebarkan Islam kepada para masyarakat pribumi Papua.

“Kelompok yang tidak senang ada saja, mereka tidak mau kita semakin berkembang. Jadi kadang-kadang kalau anak-anak kampung mau main ke rumah saya itu dilarang takut terbawa. Mushala kita juga tidak boleh pakai pengeras suara dan lebih tinggi dari ruang ibadah mereka. Tapi nggak masalah justru itu tantangnya dalam berdakwah. Insya Allah selalu diberikan jalan dan perlindungan,” jelasnya.

Ustaz Hamka juga pernah menjajal mendaftar menjadi PNS. Namun diakui menjadi PNS dari kalangan Muslim di Wamena susah, berbeda dengan umat yang lain. Kini aktivitas Ustaz Hamka hanya menjadi seorang dai, mengajari anak-anak, remaja dan orangtua mengaji di musholanya. Sebab, diakui pemahaman keislaman umat di sana masih sangat minim. Masih banyak umat Islam yang belum bisa mengaji Al-Quran dan memahami hukum-hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari.

“Di Papua itu umat Islam tidak seperti di Jawa yang sudah mayoritas Muslim. Di sini tingkat pemahaman umat tentang ajaran Islam masih minim. Mereka masih banyak yang belum bisa mengaji karena mereka menjadi mualaf di usia yang sudah tua. Jadi jadi kadang-kadang belajarnya lebih susah. Tapi ya itulah, kita harus tetap dampingi,” jelasnya.

Jambore Dai Parmusi

Pada September 2018, Ustaz Hamka menjadi satu-satunya orang Papua asli yang diberi kesempatan mengikuti kegiatan Jambore Dai Parmusi bersama 5.000 dai lain seluruh Indonesia di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat. Ia mewakili dai Parmusi dari ProvinsI Papua di Wamena. Keberadaan Ustaz Hamka mendapat perhatian oleh banyak orang termasuk Ketua Umum PP Parmusi H. Usamah Hisyam. Ia melihat dari ribuan dai yang datang ada satu yang beda.

Penasaran dengan dai yang satu ini, Usamah pun meminta ustaz Hamka naik panggung dan membaca Al-Quran pada saat acara penutupan. Selain suaranya yang enak didengar, bacaan tajwidnya juga bagus. Dari situ, Usamah memutuskan Ustaz Hamka turut bersama dai lain yang berhasil menang lomba untuk ikut ibadah umrah. Ia pun bersyukur, akhirnya penantian yang panjang itu terwujud, mampu beribadah di Tanah Suci dan berziarah ke makam kekasihnya, Nabi Muhammad Saw.

“Waktu itu saya bersyukur banget, karena kebaikan Ketum (Usamah Hisyam) saya anak kampung pendalaman yang jauh dari kota bisa pergi ke Tanah Suci. Memang awalnya terlihat tidak mungkin. Tapi kalau Allah sudah berkehendak, yang tidak mungkin jadi mungkin, yang sulit jadi mudah, yang berat jadi ringan, tidak ada yang bisa merubah ketetapan Allah. Kita yakin itu,” tuturnya.

Ustaz Hamka kini sudah menjadi bagian dari Parmusi. Ia pun sudah mengajak teman-temannya sebanyak 10 orang untuk bergabung bersama ormas ini. Ke depan ia akan terus mengembangkan Parmusi di Wamena dengan mensosialisasikan kepada masyarakat melalui forum-forum pengajian, dan kegiatan sosial kemasyarakat. Ia percaya dakwah dengan cara yang satun dan ramah tanpa kekerasan, Islam dan Parmusi akan lebih mudah diterima di hati masyarakat. (Albar)

Related posts

1 Comment

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.