Selasa, 29 September 20

Budaya Adat Mentawai Kian Terkikis Ada di Pameran Foto Ini

Budaya Adat Mentawai Kian Terkikis Ada di Pameran Foto Ini
* Pameran foto dan peluncuran buku foto bertajuk 'Disrupsi'. (Foto: Istimewa)

Jakarta, Obsessionnews.com – Pewarta Foto aktualitas.id Rengga Satria akan menggelar pameran foto dan peluncuran buku foto bertajuk ‘Disrupsi’ di Matalokal Creative Space, Mbloc, Jakarta Selatan. Pameran tersebut akan berlangsung pada 8-15 Desember 2019.

“Pembukaannya pukul 19.30 WIB di matalokal, Mbloc, nantinya dibuka oleh Kasubdit P3D3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pak Sasmita,” kata Rengga di Jakarta, Sabtu, (7/12/2019).

Rangga mengaku, proses pembuatan buku foto hingga menggelar pameran tunggal ini, memakan waktu kurang lebih selama dua tahun. Dalam pameran ini akan ada 20 karya foto terkait budaya adat Mentawai, Sumatera Barat.

“Prosesnya mulai dari pengambilan gambar, riset, dan data dari 2018 – 2019. Nantinya yang dipamerkan berjumlah 20 karya foto yang juga sudah saya tuangkan dalam bentuk buku,” ungkapnya.

Menurutnya, dunia mengenal masyarakat adat Mentawai sebagai produsen seni tato tertua di jagad raya, lebih tua 200 tahun dari tato mesir yang muncul pada 1300 SM.

Selain itu, masyarakat adat Mentawai juga dikenal sebagai satu dari sedikit masyarakat pemburu, peramu dan pengumpul tertua di dunia yang masih eksis hingga kini.

“Saat ini orang hanya tahu seni tatonya saja. Tapi selain itu masih ada orang yang betul-betul menjaga hutan Indonesia dengan sangat baik, yaitu orang-orang pedalaman mentawai itu sendiri,” jelasnya.

Namun eksistensi budaya adat Mentawai itu kini kian terkikis karena modernisasi dan pembangunan yang gencar dilakukan oleh pemerintah semakin memojokan adat dan budaya Mentawai itu sendiri.

“Di satu sisi kita gencar mempromosikan budaya sebagai jualan untuk mendatangkan devisa, namun di sisi lain pembangunan infrastruktur juga secara tidak langsung mengikis eksistensi budaya itu sendiri,”pungkasnya.

Selain pameran foto, akan diselenggarakan juga bedah buku foto ‘Disrupsi’ dan diskusi ‘Why Print is Matter’ yang menghadirkan sejumlah penggiat penerbitan indie yang fokus pada ranah buku foto dan buku seni. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.