Senin, 20 September 21

Banyak Uang ‘Haram’ Diparkir di Singapura

Banyak Uang ‘Haram’ Diparkir di Singapura

Jakarta, Obsessionnews – Kondisi ekonomi Indonesia semakin menurun, nilai tukar rupiah semakin melemah. Itulah kondisi yang tidak bisa terhindarkan dan mau tidak mau masyarakat harus menerima serta menanggung resikonya.

“Tidak ada jalan mau menyelesaikan kondisi ini, sebab langkah pemerintah tidak akan memiliki dampak ekonomi yang baik kalau mau menaikkan atau menurunkan suku bunga. Lemahnya nilai tukar rupiah yang berada di rata-rata Rp13.000 mengakibatkan nilai ekonomi menurun. Kalau pemerintah terus membiarkan maka kerentanan ekonomi akan tinggi,” ujar Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah kepada obsessionnews.com, Sabtu (19/6/2015).

“Menurut hemat saya kalau pemerintah berani menurunkan suku bunga sama saja pemerintah kita ambil pistol ditaruh di kepala lebih cepat lagi ekonomi kita runtuhnya. Tapi kalau naikkan suku bunga juga sama bunuh diri juga. Jadi salah satu opsi melakukan tax amnesty (pengampunan pajak),” tambahnya.

Halim mengungkapkan bahwa menurut pengamat uang Indonesia di Singapura, Kristianto Disono, uang Indonesia banyak parkir di Singapura. Jumlah unit di Singapura dalam campuran mata uang dolar dengan non rupiah kurang lebih 1.200 miliar dolar, yang diperkirakan seperempatnya milik Indonesia.

“Jadi diperkirakan 300-400 miliar dolar itu miliknya Indonesia. Ini sumbernya campuran, ada uang halal ditamba uang haram juga. Kalau misalnya tax amnesty besar dugaan akan masuk di Indonesia termasuk uang dalam bentuk kertas yang disimpan selama ini di rumah atau di kantor jumlahnya banyak,” bebernya.

Menurut Halim, kalau uang itu diberikan pengampunan pajak atau tax amnesty maka uang itu akan masuk ke kas negara, hanya masalahnya pemerintah belum siap. “Tapi ini salah satu langkah yang bisa dikakukan dengan catatan uang itu bisa dipegang oleh negara dan dipakai dengan produktif,” tandasnya.

“Kalau hanya sekedar memutihkan terutama uang-uang judi, kita tahu ini uang judi uangnya banyak, begitu pun uang yang datang dari kegiatan illegal lainnya seperti narkoba. Ini jumlahnya miliaran dolar berdasarkan dugaan beberapa pihak,” paparnya.

Kalau uang dibiarkan diputihkan masuk bank Indonesia dan tidak ditangkap dengan baik oleh pemerintah, lanjutnya, maka uang itu akan cepat masuk. “Gampang saja dalam tempo hitungannya paling masuk sehari, besok ditransfer lagi ke luar negeri, besoknya sudah putih. Yang tadinya tidak bias, jadi bisa sekarang. Oleh karena itu kita harus hati-hati. Kondisi penyimpanan uang di luar negeri rentan terjadi di saat pertumbuhan ekonomi kita lemah, ini perlu diamati apakah tren ini masih akan berlanjut,” tuturnya.

Ia pun menambahkan, kalau titik rentan kedua yaitu besarnya peran asing dalam memegang obligasi negara, hal ini memicu ketika Amerika menaikkan suku bunga. “Karena porsinya sekarang sudah dari 100 persen yang diterbitkan oleh pemerintah dan 38 persen itu dimiliki asing dan jumlahnya mencapai normal 100 triliun dimiliki oleh asing,” jelas Halim.

“Kerentanan ketiga mengenai seberapa cepat pemerintah menarik pajak atau menambah pendapatnya. Bila tiga hal ini tidak dilakukan dengan solusi baik saya khawatir, muda-mudahan yang terburuk di negara kita terjadi,” imbuhnya. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.