Kamis, 16 September 21

Engeline Ikon Anti Kekerasan Kepada Anak

Engeline Ikon Anti Kekerasan Kepada Anak

Denpasar, Obsessionnews – Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPA) mendeklarasikan Engeline (sebelumnya ditulis Angeline) sebagai ikon anti kekerasan dan gerakan ‘stop kejahatan terhadap anak’ yang digelar di depan rumah Engeline di Jalan Sedap Malam, Denpasar, Sabtu (20/6/2015).

“Kami bersama Pemerintah Kota Denpasar mencanangkan Engeline sebagai ikon melawan kekerasan dan kejahatan terhadap anak Indonesia,” kata Ketua KPA Arist Merdeka Sirait.

KPA memilih bocah kelas 2-B di SDN 12 Sanur, Denpasar, itu karena kasus pembunuhan yang menimpa anak itu telah menjadi perhatian nasional dan dunia. (Baca: Angeline: Mengapa Aku Harus Dilahirkan? (Sebuah Dramatisasi) 2)

“Walaupun banyak kasus yang kami perjuangkan, tetapi ini momentum untuk menyatakan tidak ada toleransi terhadap kekerasan kepada anak,” tegas Arist.

Arist bersumpah untuk tidak akan berhenti hanya pada seremoni semata namun tetap mengawal kasus ini, termasuk mendukung polisi menyingkapkan tabir kematian bocah cantik berusia delapan tahun itu. (Baca: Angeline: Mengapa Aku Harus Dilahirkan? (Sebuah Dramatisasi) 3)

“Kami tidak akan berhenti mencari tahu dan mengungkap tabir Engeline yang meregang nyawa. Ini yang harus kami perjuangkan,” ujar dia.

Deklarasi ini dihadiri para pemuda dan pemudi Forum Anak Daerah Provinsi Bali yang membentangkan spanduk kain putih yang disediakan bagi masyarakat menuliskan aspirasinya menyangkut kasus Engeline. (Baca: Ibu Angkat Angeline Idap Gangguan Jiwa)

Mereka juga membagikan brosur deklarasi Engeline sebagai ikon anti-kekerasan dan stop kejahatan terhadap anak kepada masyarakat dan para pengendara yang melintas. (Baca: Irgan: Pembunuh Angeline Pantas Dihukum Mati)

Beberapa teman sekelas Engeline di SDN 12 Sanur juga turut menuliskan salam perpisahan kepada bocah yang dikuburkan di halaman rumahnya sendiri dan ketika ibu angkatnya juga tengah berada di rumahnya itu. (Baca: FOTO 1000 Lilin Mengenang Angeline)

Masyarakat memadati depan kediaman Engeline di pinggir jalan raya sehingga laju lalu lintas melambat, sedangkan acara deklarasi juga dihadiri Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra dan sejumlah instansi terkait lain.

Kasus Engeline mulai mengusik perhatian publik ketika dilaporkan hilang oleh ibu angkatnya, Margareith, pada 16 Mei 2015. Margareith menyebut bocah itu tiba-tiba raib ketika sedang main di depan rumah. (Baca: Shock Therapy, Pembunuh Angeline Didor Saja!)

Karena sudah menjadi isu nasional aparat Kepolisian Daerah (Polda) Bali bekerja ekstra keras dan akhirnya menemukan Engeline telah tak bernyawa. Tubuh bocah itu terkubur di bawah kandang ayam di halaman belakang rumahnya di Jalan Sedap Malam, Denpasar, Rabu (10/6). Jasadnya ditemukan dalam keadaan utuh dalam posisi tertekuk. Jasadnya berbalut pakaian warna abu-abu dan ditemani boneka berbentuk perempuan Korea. (Baca: Polisi Temukan Angeline Membusuk di Bawah Pohon Pisang)

Selanjutnya polisi menetapkan Agus, mantan pembantu rumah tangga di rumah Margareith, dan Margareith sebagai tersangka. Mereka ditahan di Polda Bali. (Baca: Keterangan Pembunuh Angeline ‘Main-main’)

Engeline anak kandung Hamida, wanita asal Banyuwangi, Jawa Timur, yang merantau ke Bali. Karena alasan ekonomi Hamida menyerahkan Engeline yang berusia tiga hari kepada Margareith dan suaminya. Pasangan suami istri itu kemudian membesarkan Engeline di rumah mereka di Denpasar. (Baca: Bajingan Kamu Margaret…. Kenapa Bunuh Anakku?)

Beberapa tahun lalu, suami  Margareith yang merupakan warga negara asing meninggal. Kabarnya, Engeline mendapat warisan dengan nilai cukup besar dari ayah angkatnya itu.  (ant/arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.