Selasa, 26 Oktober 21

Banyak Pungli, Aceh Minim Investasi

Banyak Pungli, Aceh Minim Investasi
* Yunidar ZA, tokoh pemuda Aceh

Jakarta, Obsessionnews – Aceh pasca dilanda badai tsunami tahun 2004 terus diperbincangkan di dalam negeri dan di luar negeri. Sejauh mana perkembangan pembangunan Aceh pasca tsunami, obsessionnews.com mewawancarai Yunidar ZA, salah seorang tokoh pemuda Aceh, di Jakarta, Senin (16/3) siang. Yunidar alumni Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Ia pernah bekerja sebagai asisten anggota DPR RI asal Aceh, dan tenaga ahli di Bappenas RI. Selain itu Yunidar juga bekerja di United Nations Development Programme (UNDP) Tata Kelola Pemerintahan. Berikut petikan wawancara dengan Yunidar.

Bagaimana perkembangan pembangunan Aceh pasca tsunami?

Gempa bumi kemudian disusul dengan tsunami sangat dahsyat yang terjadi di Aceh Desember 2004, membuka mata masyarakat dunia dalam melihat Aceh yang pada waktu itu masih sebagai daerah operasi militer 2003 – 2004. Sebagai daerah tertutup Aceh tidak mudah dimasuki orang luar. Setelah tsunami, masyarakat dunia dengan solidaritas dan empati kemanusiaan datang ke Aceh, kemudian Aceh menjadi arena baru sebagai masyarakat terbuka. Semua bangsa di dunia ikut membantu menolong yang sakit akibat reruntuhan bangunan, terjepit kayu, dibawa arus air, tersangkut di pepohonan. Bahkan yang sangat berat mengumpulkan ribuan mayat untuk dikebumikan. Lebih dari tiga bulan pertama pada masa tanggap darurat, relawan tiada henti berkerja mengumpulkan puing-puing air bah. Bahkan sampai setahun untuk mengembalikan kehidupan yang dicabik-cabik bencana alam. Bangsa Indonesia wajib berterima kasih atas bangunan yang telah diberikan oleh masyarakat dunia.

Masyarakat dunia membangun Aceh, dan ini sungguh luar biasa. Gedung, jembatan, rumah, pasar, kehidupan, semuanya dibangun. Sehingga bangunan yang dulunya dibangun apa adanya, setelah bencana alam lebih bangus kualitasnya yang dibangun oleh bangsa dan negara lain. contoh jalan dibangun oleh United States Agency for International Development (USAID) atau Badan Bantuan Pembangunan Internasional Amerika, dan rumah dibangun oleh pemerintah Turki, kecuali rumah yang dibangun Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias banyak masalah.

Aceh dalam kehidupan baru dibangun dari ketertinggalan akibat konflik yang lebih dari 30 tahun sebelum tsunami dan ketertinggalan akibat bencana alam. Jadi, Aceh benar-benar menjadi perhatian masyarakat dunia. Dan semuanya berempati membangun kemanusiaan di Aceh, semua orang menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Aceh, dan memang Aceh sangat bermartabat, berperadaban dalam pluralisme dan egalitarian.

Masyarakat miskin, terbelakang, dan orang-orang yang di pedalaman juga mendapat perhatian khusus. Bahkan untuk membangun Aceh semua pihak yang sebelumnya berselisih paham, bertikai dengan menggunakan kekerasan dapat bersatu, bersama menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) atau nota kesepahaman di Helsiki, Finlandia, tahun 2005, agar benar- benar Aceh dapat dibangun dalam suasana damai.

Aceh berkembang menjadi wilayah dan peradaban baru, globalisasi masuk dari warung-warung kopi yang semuanya hot pot (wifi). Mereka saling bertukar pengalaman dan mengabarkan dengan satu dan teman teman yang berada nun jauh di sana. Pemerintah juga mulai terbuka untuk melibatkan partisipasi masyarakat dalam berbagai masalah. Bahkan untuk membuat regulasi ada pelibatan masyarakat sebagai pengambil manfaat. Semuanya serba terbuka, bahkan hampir tidak ada informasi yang ditutup-tutupi, walaupun masih ada kekurangan dan cara pikir masa lalu sebagian orang Aceh. Secara umum Aceh sudah menjadi wujud dari masyarakat terbuka.

Menurut Anda bagaimana perhatian pemerintah pusat terhadap Aceh?

Perhatian terus diberikan oleh pemerintah pusat terhadap Aceh. Namun kita tahu bahwa pemerintah pusat bukan hanya melihat Aceh saja, Indonesia sangat luas sekali. Saya hanya ingin menyampaikan pemerintah harus menepati janji-janjinya. Jangan hanya berdalih dan menjadikan Aceh sebagai manjamen konflik.

Apakah Anda melihat kemajuan ekonomi rakyat Aceh dalam lima tahun terakhir?

Aceh maju secara ekonomi, namun kemajuan ekonomi belumlah merata. Perang boleh berakhir, namun makan harus berlanjut. Orang yang pernah hidup pada masa perang tidak mudah untuk berbagi, sehingga mereka tetap saja berkompetisi, sehingga masyarakat masih merasakan hidup dalam kemiskinan. Kelompok yang berkuasa hanya mementingkan kelompoknya saja, mereka masih mengabaikan masyarakat.

Terus terang, ekonomi berkaitan dengan kualitas manusia dan pelibatan terhadap kebutuhan masyarakat di semua sektor, pertanian, perikanan, sektor usaha, dan pasar harus diberi peluang untuk maju. Ini tidak mungkin terjadi kalau Angggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) masih menjadi rebutan para pihak yang hanya punya akses kepada kekuasaan atau gubernur dan wakil gubernur dari kelompok mereka, dan terbatas.

Apakah investor asing tertarik berinvestasi di Aceh?

MoU banyak sekali yang ditandatangani dengan pihak luar negeri dan pihak dalam negeri agar berinvestasi di Aceh. Namun yang terjadi adalah hanya 1% investasi yang masuk di Aceh, dan minimnya investasi di Aceh ini sungguh memprihatinkan.

Mengapa begitu kecil investasi yang masuk di Aceh?

Penyebabnya macam-macam, baik dari peraturan (regulasi) maupun kendala di lapangan, banyaknya pungutan liar (pungli) baik yang resmi maupun yang tidak resmi. Selain itu enggannya investor berinvestasi di Aceh karena infrastruktur dan suprastruktur belum mendukung. Semoga ke depan banyak investor berminat berinvestasi di Aceh, karena lapangan kerja di Aceh memprihatinkan dan pengangguran berlimpah ruah.

Potensi apa saja yang menjadi daya tarik Aceh?

Saya kira alam Aceh masih menjanjikan untuk parawisata, kemudian juga sektor perikanan sangat memungkinkan. Ikan Aceh sangat banyak. Sektor pertanian dan mineral, bahkan alam Aceh masih banyak mengandung kekayaan yang luar biasa. Ada batu giok, emas, dan lain-lain.

Perdana Menteri Australia Tony Abbott mengaitkan bantuan Australia untuk Aceh dengan permintaan pembebasan terpidana mati dua warga negaranya yang menjadi gembong narkoba dalam jaringan Bali Nine. Komentar Anda?

Saya mengapresiasi negara maju itu yang begitu kukuh membantu warganya yang menjadi terpidana mati agar tetap hidup. Dan ini luar biasa, terlepas apapun konsekuensi yang ditanggungnya. Dan memang hal yang wajar Tony Abbott menggunakan segala macam cara untuk pembebasan warganya.

Semoga kita juga bisa belajar dari negara maju untuk dapat melindungi segenap warga negara dan memberikan kesejahteraan.

Bagaimana tanggapan Anda tentang aksi pengumpulan koin di Indonesia untuk Tonny Abbott?

Aksi pengumpulan koin itu ya sah-sah saja, namun juga harus berterima kasih atas bantuan Australia. Saya lihat bagaimana Australia membawa segala macam alat untuk membantu pada saat tanggap darurat. Namun koin yang telah dikumpulkan harus diberikan untuk pemerintah Australia. (Arif RH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.