Selasa, 27 Oktober 20

Bank Mandiri Dukung Upaya Restrukturisasi Debitur Terdampak Covid-19

Bank Mandiri Dukung Upaya Restrukturisasi Debitur Terdampak Covid-19
* Bank Mandiri. (Foto: bankmandiri.co.id)

Jakarta, Obsessionnews.com –  Di tengah pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Bank Mandiri masih menunjukkan kinerja yang sehat pada Triwulan I tahun 2020. Bank Mandiri memproyeksikan dampak pandemi COVID-19 tersebut baru akan terlihat pada pencapaian kinerja Triwulan II 2020. Hingga Maret 2020 badan usaha milik negara (BUMN) ini masih mampu membukukan laba bersih sebesar Rp7,92 triliun, tumbuh 9,44% dibanding Maret 2019 yang tercatat Rp7,23 triliun. Capaian ini didukung oleh pertumbuhan pendapatan berbasis biaya sebesar Rp7,74 triliun di Maret 2020, tumbuh 23,95% dibanding Maret 2019 yang sebesar Rp6,24 triliun.

 

Baca juga:

Bank Mandiri Fokus Kembangkan Layanan Digital

Permudah Transaksi Bisnis di Tengah Covid-19, Bank Mandiri Buka Layanan Ini

 

Selain itu kenaikan laba juga didorong oleh pertumbuhan kredit konsolidasi sebesar 14,20%, dari Rp790,5 triliun pada Maret 2019 menjadi Rp902,7 triliun di Maret 2020, dengan NPL gross terjaga di level 2,36%. Portofolio kredit di segmen wholesale (bank only) sampai dengan Maret 2020 mencapai Rp513 triliun atau tumbuh 17,92% YoY. Sementara pada segmen retail (bank only) sebesar Rp273,1 triliun, tumbuh 9,47% secara tahunan.

Bank Mandiri juga memiliki konsistensi dalam mengembangkan segmen UMKM. Kredit UMKM hingga Maret 2020 mencapai Rp 89,2 triliun, tumbuh 6,90% secara yoy, kepada lebih dari 929 ribu pelaku UMKM. Untuk program Kredit Usaha Rakyat (KUR), selama tahun 2020 hingga Bulan Maret (YtD) , total KUR yang disalurkan mencapai Rp6,58 triliun, tumbuh 27,2% YoY dengan jumlah penerima sebanyak 79.060 debitur.

“Saat ini kami terus berupaya menjaga kualitas asset dan bisnis karena pandemi ini sangat berpotensi memberikan dampak bagi bisnis perseroan,” ujar Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar dalam keterangan tertulis, Senin (8/6/2020).

Royke menjelaskan, salah satu yang dilakukan Bank Mandiri untuk menghadapi efek pandemi Covid-19  terhadap bisnis adalah dengan menjaga kecukupan likuiditas, termasuk menerbitan obligasi rupiah sebesar Rp1 triliun dan emisi global bonds US$500 juta, serta meningkatkan pengumpulan dana murah.

Untuk menekan dampak pandemi Covid-19, Bank Mandiri juga mendukung upaya restrukturisasi debitur terdampak Covid-19. Hingga saat ini jumlah debitur yang mengajukan restrukturisasi memang sebagian besar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan ritel. Sampai dengan 29 Mei 2020 Bank Mandiri telah melakukan restrukturisasi terhadap lebih dari 323 ribu debitur dengan nilai Rp60,8 Triliun atau 8% dari total kredit Bank Mandiri. Dari total debitur yang direstrukturisasi 72% di antaranya merupakan debitur segmen Small and Medium Enterprise (SME) dan Mikro dengan nilai sebesar Rp25,6 triliun.

Dan mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) 11/POJ.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian sebagai Kebijakan Countercyclical di tengah pandemi COVID-19, skema yang kami lakukan untuk melakukan restrukturisasi debitur antara lain penundaan angsuran pokok dan bunga (grace period), perpanjangan tenor, dan perubahan angsuran.

“Kami terus memonitor perkembangan perekonomian nasional maupun global untuk menentukan langkah-langkah berikutnya,” tutur Royke. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.