Selasa, 27 September 22

Aulia Penyandang Tunanetra yang Diterima di UGM

Aulia Penyandang Tunanetra yang Diterima di UGM
* Aulia Rachmi Kurnia penyandang tunanetra yang berhasil diterima di Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM). (Foto: Humas UGM)

Obsessionnews.com – Setiap orang mempunyai hak mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Termasuk bagi Aulia Rachmi Kurnia, penyandang tunanetra yang berhasil diterima di Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM). Meski memiliki keterbatasan fisik, hal itu tak menghambat Aulia dalam menggapai cita-cita dan pendidikan setinggi mungkin.

 

Baca juga:

Berusia 15 Tahun, Raja Dinobatkan sebagai Mahasiswa Termuda UGM

Diikuti 28 Negara, Rifkanisa Nur Faiza Harumkan Nama UGM di Kompetisi Mahasiswa Kedokteran Asia

Selamat! UGM Gondol Juara Umum 3 Kontes Robot Indonesia 2022

 

 

Aulia merupakan salah satu dari mahasiswa yang baru saja diterima masuk UGM pada tahun ajaran 2022/2023. Perjuangannya menjalani pendidikan dari tingkat dasar hingga UGM bukan hal yang mudah. Terlebih dengan kondisi fisiknya yang berbeda dengan remaja lain pada umumnya.

Aulia merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan Muhammad Syukur (53) dan Mira Susanti (45) asal Jakarta. Putri buruh pabrik kayu ini tidak mengalami kebutaan sejak kecil.

“Saya mulai tidak bisa melihat itu sejak kelas 2 SD,” kata Aulia dikutip dari keterangan tertulis Humas UGM, Senin (1/8/2022).

Ia menceritakan kebutaan yang dideritanya bermula saat usia 5 tahun. Kala itu ia mengalami demam yang cukup tinggi dan ada kesalahan dalam pemberian obat yang mengakibatkan kehilangan kesadaran selama tiga minggu. Begitu tersadar, penglihatannya sudah tidak bisa berfungsi optimal, semuanya terlihat kabur.

Kondisi tersebut terus berlangsung hingga Aulia duduk di bangku kelas 1 SD mulai kehilangan penglihatan pada salah satu matanya. Kondisi tak kunjung membaik dan hingga akhirnya ia kehilangan penglihatannya secara total setahun kemudian.

“Saat tidak bisa melihat saya tidak merasa gimana-gimana. Seperti anak kecil pada umumnya, tetap bermain. Bahkan naik sepeda karena gak bisa gowes ya pakai kaki aja,”kata gadis kelahiran Jakarta 17 Desember 1998 ini.

Karena kondisinya yang sudah tidak bisa melihat lagi, keluarga pada akhirnya memutuskan untuk Aulia berhenti sekolah terlebih dahulu. Sejak tahun 2006 Aulia tidak lagi melanjutkan sekolah untuk fokus menjalani terapi maupun pengobatan. Beragam upaya telah ditempuh oleh keluarga untuk kesembuhan Aulia, namun belum bisa mendapatkan hasil yang positif. Akhirnya keluarga berusaha untuk ikhlas menerima takdir yang telah digariskan oleh Allah.

Beruntung, Aulia adalah gadis yang kuat dan tak kenal putus asa. Ia tidak merasa sedih atas kondisi dirinya yang kekuarangan. Semangat untuk menjalani hidup dan bersekolah layaknya anak-anak lain pada umumnya sangat besar. Ia pun mulai melanjutkan sekolah pada tahun 2014 silam.

Semangat Aulia untuk melanjutkan sekolah patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, di tengah keterbatasannya, ia tak ragu untuk sekolah jauh dari ibu kota. Kemauan kuatnya untuk mandiri dan dorongan dari keluarga besarnya akhirnya memantapkan niatnya untuk mencari ilmu hingga ke Yogyakarta.

“Mulai 2014 saya lanjut ke salah satu SLB di Yogyakarta  yakni SLB Yaketunis dari bangku SD hingga SMP. Itu awalnya ayah dan ibu kurang setuju karena kan jauh dari rumah, namun om dan tante menyakinkan kami dan buktinya saya berhasil mandiri,” tuturnya.

Seusai tamat SMP Aulia kemudian melanjutkan pendidikan ke SMP negeri. Ia masuk melalui jalur afirmasi bagi penyandang disabilitas dan diterima di SMAN 1 Sewon Bantul. Selama menjalani masa SMA dia tidak merasa kesulitan untuk berbaur dengan pelajar lainnya. Ia merasa diterima dengan baik dan tidak sedikit teman yang membantunya selama belajar hingga lulus SMA.

Aulia memang anak yang tidak bisa hanya diam berpangku tangan. Selain sekolah ia juga aktif dalam cabang olahraga goal ball atau bola gawang yang dikhususkan bagi tunanetra. Lewat goal ball ini sukses mengantarkannya bersama tim meraih sejumlah prestasi. Beberapa di antaranya adalah  juara 1 cabang olahraga goal ball dalam Pekan Olah Raga Daerah (PORDA) DIY tahun 2019 dan  juara 3 di Kejuaraan Goal Ball Tingkat Nasional 2018.

Keinginan untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya tetap membara di hati Aulia. Selepas SMA ia memantapkan hati untuk ikut ujian masuk perguruan tinggi melalui jalur Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dengan pilihan pertama di UGM, namun gagal. Tak patah arang, ia kembali mencoba mengikuti ujian lewat jalur Computer Base Test  (CBT) UGM. Rupanya hasil tidak mengkhianati usaha, ia diterima di prodi impiannya, yakni Sastra Indonesia UGM.

“Saya itu hobi menulis, membuat puisi. Jadi senang sekali akhirnya bisa diterima di Sastra Indonesia karena di situ saya bisa semakin tertempa,” ucap Aulia.

Dia berharap kelak ia dapat menjalani kuliah di UGM dengan lancar. Ia yakin bisa menyelesaikan kuliah dengan baik terlebih dahulu di UGM yang merupakan kampus inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas. Sejak awal mengikuti tes, ia menerima fasilitasi dari UGM, seperti pendampingan saat di lokasi dan penyediaan perangkat khusus saat ujian.

“Harapannya dengan kuliah di UGM bisa sukses dan lebih baik lagi kedepannya. Meski dengan kondisi terbatas, yang penting tetap semangat. Jangan pernah menganggap diri kita tidak bisa, kita bisa melakukan apa yang orang umumnya lakukan walau dengan keterbatasan,” tandasnya. (red/arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.