Rabu, 20 November 19

Anak-anak dan Pancasila

Anak-anak dan Pancasila
* Pancasila. (Foto: Wikipedia)

Oleh: Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute

 

Mengatakan anak-anak kita cenderung lebih menyukai ideologi lain daripada Pancasila, sepertinya kok terkesan buat pembenaran diri kita yang tua-tua ini, atas kondisi sekarang yang didominasi kapitalisme liberal.

Kalau benar-benar prihatin, masalah pokok adalah gagalnya kita menciptakan strategi komunikasi yang jenius untuk menanamkan penghayatan kesadaran tentang Pancasila. Punya pandangan dan pengertian.

Bukannya malah mengajak kita mengasihani diri sendiri. Buat anak-anak kita, soalnya bukan menyukai ideologi lain. Tapi mendorong hasrat anak-anak kita belajar dan mengeksplorasi banyak hal dari mana saja. Agar memperkaya dan meluaskan wawasannnya. Untuk kemudian melahirkan ide-ide baru yang khas negeri dan bangsa kita.

Para bapak pendiri bangsa yang berkumpul di sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) menjelang kemerdekaan 1945 maupun pada Kongres Pemuda 1928, merupakan pemuda pelajar yang belajar dan menggali pengetahuan dari berbagai sumber dan rujukan. Termasuk dari negara negara Eropa, Jepang dan Cina. Juga India.

Toh mereka tetap saja melahirkan sesuatu yang khas dan orisinal bangsa sendiri. Pancasila dan Sumpah Pemuda.

Mengapa begitu? Nah, ini yang tidak dilakukan kita yang tua-tua sekarang, seperti para senior dari founding fathers kita dulu. Betapa para senior dan mentor para aktivis 1928 dan 1945 bukannya sekadar ngasih petuah dan menyalahkan anak muda. Tapi mereka ngasih road map atau peta jalan. Buat bekal.

Ya. Anak-anak kita sekarang lebih butuh peta jalan. Bukannya petuah yang menggurui. Atau mengatur-atur.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.