Rabu, 26 Januari 22

Aksi Keji Teror di Palopo, Ini Analisis Pengamat

Aksi Keji Teror di Palopo, Ini Analisis Pengamat
* Daftar DPO teroris (foto : Ist)

Jakarta, Obsessionnews.com – Aksi biadap yang dilakukan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora di Sigi, Sulteng (27/11/2020) menyebabkan 4 orang tewas mengenaskan. Aksi keji itu disertai dengan pembakaran tempat ibadah jemaah Bala Kesalamatan.

Stanislaus Riyanta, Analis Intelijen dan Terorisme, mengatakan bahwa teror yang dilakukan oleh kelompok MIT menunjukkan bahwa aksi mulai kembali menggeliat. Menurutnya salah satu momentum favorit bagi kelompok teroris di Indonesia untuk melakukan aksinya adalah saat akhir tahun, terutama pada saat Natal dan tahun baru. Kelompok teroris di Indonesia saat ini yang eksis adalah kelompok yang berafiliasi dengan ISIS seperti JAD dan MIT, dan kelompok yang berafiliasi dengan AL Qaeda seperti Al-Jamaah Al-Islamiyyah (JI) yang sebelumnya sempat surut dan sekarang mulai bangkit lagi.

“Dengan penguasaan medan di hutan Poso, Sigi dan Parigi Moutong yang sangat luas dan lebat, serta adanya dukungan dari simpatisan maka kelompok ini masih terus eksis, meskipun anggotanya terus menyusut karena tekanan dari Satgas Tinombala,” ujar Riyanta dalam keterangannya, Rabu (2/12/2020).

Aksi kelompok MIT di Sigi juga dimungkinkan sebagai kebutuhan eksistensi pasca dua anggotanya ditembak oleh Satgas Tinombala di Kabupaten Parigi Moutong pertengahan November 2020. Selain memang kebutuhan untuk memperoleh logistik dari masyarakat dengan cara kekerasan, maka aksi di Sigi dapat dinilai sebagai aksi untuk memenuhi kebutuhan eksistensi, balas dendam dan operasi logistik dari kelompok MIT Ali Kalora.

Daftar aksi teror yang terjadi pada mejelang natal hingga tahun baru sudah cukup panjang, begitu juga jumlah korbannya. Hal ini menunjukkan bahwa momentum natal dan tahun baru merupakan salah satu waktu favorit bagi kelompok teroris di Indonesia untuk beraksi. Diperkuat dengan fenomena akhir-akhir ini yang terjadi seperti rangkaian penangkapan kelompok teroris JI yang mulai bangkit kembali setelah surut beberapa lama pasca kematian Osama Bin Laden, dan aksi teror yang dilakukan oleh kelompok MIT di Sulteng menunjukkan bahwa perlu kewaspadaan terkait ancaman terorisme pada akhir tahun ini.

Berbagai motif yang bisa muncul dari kelompok radikal terorisme untuk melakukan aksi pada akhir tahun antara lain motif eksistensi dan balas dendam atas rangkaian penangkapan, selain itu didorong dengan kuat oleh ideologi yang mereka anut dengan cara kekerasan sebagai salah satu jalan untuk mencapai tujuan. Hal tersebut menunjukkan bahwa ancaman teror pada akhir tahun ini tidak bisa disepelekan lagi.

“Untuk mencegah terjadinya aksi teror di akhir tahun ini maka kerja keras dari aparat keamanan terutama dari Densus 88 dan intelijen mutlak diperlukan. Selain itu peran serta masyarakat untuk pro aktif melakukan deteksi dini lingkungan masing-masing terutama jika terdapat orang atau kelompok yang patut dicurigai sangat dibutuhkan,” ulasnya.

Terorisme dapat dideteksi dan dicegah jika terjadi kekompakan aparat keamanan, pemerintah, dan masyarakat. Jika muncul ketidakpedulian bahkan pembiaran maka hal tersebut justru menjadi celah bagi kelompok teror untuk dimanfaatkan sebagai pintu masuk ancaman menjadi nyata. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.