Selasa, 25 Januari 22

10 Juta Pil Covid-19 Buatan Pfizer Diborong AS

10 Juta Pil Covid-19 Buatan Pfizer Diborong AS
* Pil antivirus pfizer. (CNN)

Pemerintah Amerika Serikat (AS) membeli 10 juta obat antivirus Covid-19 buatan Pfizer senilai USD 5,29 miliar atau setara Rp 75,64 triliun. Nilai kontrak pembelian dengan Pfizer ini lebih besar dua kali lipat dari kontrak antara pemerintah AS dan Merck.

Pfizer mengumumkan bahwa pihaknya telah menandatangani kesepakatan senilai US$5,29 miliar atau Rp75,64 triliun dengan pemerintah AS untuk menyalurkan 10 juta obat antivirus Covid-19 tersebut

Perjanjian ini dibuat ketika AS bergegas untuk mendapatkan perawatan oral yang menjanjikan untuk penyakit tersebut.

Kesepakatan itu kira-kira dua kali ukuran kontrak yang dimiliki pemerintah AS dengan Merck, meskipun harga pil Pfizer lebih rendah sekitar US$530 per kursus dibandingkan dengan sekitar US$700 untuk Merck.

Pfizer mengajukan permohonan otorisasi darurat obat tersebut, yang diberi merek Paxlovid, minggu ini setelah melaporkan data yang menunjukkan bahwa obat itu 89 persen efektif mencegah rawat inap atau kematian pada orang yang berisiko.

Pfizer itu mengatakan akan memulai pengiriman pengobatan secepat tahun ini jika diizinkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS.

“Perjanjian ini akan membantu memastikan jutaan dosis obat ini akan tersedia bagi rakyat Amerika jika diizinkan,” kata Xavier Becerra, Sekretaris Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat (AS), dikutip dari Channel News Asia.

Pfizer mengatakan mereka mengharapkan untuk memproduksi 180.000 kursus perawatan pada akhir bulan depan dan setidaknya 50 juta kursus pada akhir tahun 2022.

Negara-negara telah berebut untuk mengamankan dosis obat oral Pfizer dan Merck, berdasarkan data menjanjikan yang dilaporkan oleh kedua perusahaan.

Pemerintah AS sejauh ini telah mengamankan 3,1 juta kursus pil Covid-19 Merck seharga US$2,2 miliar, dengan hak untuk membeli 2 juta kursus lagi di masa mendatang.

Pfizer izinkan Indonesia Produksi Pil Antivirus Covid-19
Perusahaan obat AS Pfizer telah menandatangani kesepakatan yang memungkinkan obat eksperimental Covid-19 buatannya diproduksi dan dijual di 95 negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kesepakatan dengan Medicines Patent Pool, organisasi nirlaba yang disokong oleh PBB, dapat membuat pengobatan itu tersedia bagi 53% populasi dunia.

Namun kesepakatan tersebut tidak melibatkan beberapa negara yang mengalami wabah Covid-19 parah, salah satunya Brasil.

Pfizer mengatakan bahwa obat antivirus Paxlovid, yang berbentuk pil, dapat mengurangi risiko penyakit parah pada orang dewasa yang rentan.

Dalam sebuah pernyataan pers pada Selasa (16/11), Pfizer mengatakan perjanjian ini akan memungkinkan produsen obat lokal untuk memproduksi pil “dengan tujuan memfasilitasi akses yang lebih besar ke populasi global”.

Pfizer tidak akan menerima royalti atas penjualan di negara-negara berpenghasilan rendah dan mengatakan akan membebaskan royalti di semua negara yang termasuk dalam perjanjian selama Covid-19 masih dinyatakan sebagai darurat kesehatan masyarakat oleh WHO.

Pada awal November, Pfizer mengatakan uji klinis menunjukkan bahwa Paxlovid mengurangi risiko perawatan di rumah sakit atau kematian sebesar 89% pada pasien dewasa berisiko tinggi.

Charles Gore, direktur Medicines Patent Pool, berkata dalam sebuah pernyataan bahwa lisensi ini penting karena “obat yang diberikan secara oral ini sangat cocok untuk negara-negara berpenghasilan rendah serta menengah dan dapat memainkan peran penting dalam menyelamatkan nyawa”.

Sebagian besar negara yang termasuk dalam kesepakatan Pfizer berada di Afrika atau Asia. Namun, negara-negara seperti Brasil, China, Rusia, Argentina, dan Thailand, yang telah mengalami wabah besar, tidak diikutsertakan dalam kesepakatan.

Beberapa pakar mengatakan langkah ini belum cukup untuk mengatasi ketidaksetaraan dalam akses ke perawatan dan vaksin Covid-19.

Pfizer dan perusahaan-perusahaan farmasi lainnya juga telah menentang seruan untuk mencabut paten pada vaksin Covid buatan mereka.

Organisasi Dokter Tanpa Batas mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada kantor berita Associated Press, mereka “berkecil hati” karena kesepakatan tersebut tidak membuat pil Covid-19 Pfizer tersedia di seluruh dunia.

“Dunia sekarang tahu bahwa akses ke alat medis Covid-19 perlu terjamin bagi semua orang, di mana saja, jika kita benar-benar ingin mengendalikan pandemi ini,” kata penasihat kebijakan hukum organisasi itu Yuanqiong Hu.

Pada Oktober lalu, produsen obat lain, Merck, mengumumkan kesepakatan serupa dengan Medicines Patent Pool untuk memungkinkan produsen memproduksi pil Covid-19 buatannya sendiri, molnupiravir. (*/CNBC/BBC/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.