Senin, 22 Juli 19

Zaman Edan!! Suami Paksa Istri Hubungan Intim dengan Ayahnya

Zaman Edan!! Suami Paksa Istri Hubungan Intim dengan Ayahnya
* Ilustrasi ayah berhubungan intim dengan anak. (foto: dream.co.id)

Jakarta, Obsessionnews.comZaman sudah benar-bener edan!! Belum lama ini terjadi kejadian di luar pemikiran orang normal. Seperti kejadian di Lampung ini, perempuan yang masih muda berinisial PR (18) diduga dipaksa oleh suami sirinya berhubungan intim dengan ayah kandungnya sendiri yang berinisial M (53).

Berita tentang perempuan dipaksa berhubungan intim dengan ayah kandungnya itu menjadi trending topic di mesin pencari google. Pantauan Obsessionnews.com di Google Trends wilayah Indonesia pada Selasa (22/1/2019) hingga pukul 10.30 WIB kata kunci Lampung ditelusuri lebih dari 5.000 kali.

Kasus ini bermula saat video hubungan intim itu tersebar di grup WhatsApp. Dalam video itu seorang ayah dan anak perempuannya diduga melakukan hubungan intim.

Kasus dugaan hubungan inses (sedarah) antara M dan PR, anak kandungnya ini terjadi di Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan (Lamsel). Tak pelak kasus ini membuat geger. Warga langsung mengamankan M dan menyerahkan  ke Polsek Kalianda, Minggu, 6 Januari 2019. Hubungan tidak layak ini diketahui setelah video hubungan badan keduanya tersebar melalui WhatsApp.

Atas beredarnya video itu, polisi turun tangan dan menemukan fakta terbaru dalam kasus video tersebut, yakni suami korban lah dalangnya. Dari pemeriksaan dan penyelidikan Polres Lamsel dan Polsek Kalianda, terungkap keterlibatan suami korban dalam kasus hubungan intim ayah dan anak tersebut. Ternyata korban diperintah oleh suaminya sendiri untuk berhubungan intim dengan ayahnya.

“Korban PR (18) diancam suami sirinya, K yang tengah menjalani hukuman di LP Metro karena kasus narkoba,” kata Kapolres Lamsel AKBP M Syarhan, Senin (21/1).

Pria berpangkat bunga melati dua ini menjelaskan, kejadian itu berlangsung lebih dari satu kali. Hubungan intim keduanya pun direkam dan live video atas perintah pelaku. Bahkan hasil pemeriksaan terdapat fakta yang mencengangkan, pelaku tak hanya melakukan terhadap istri siri melainkan juga kepada anaknya dari pernikahan sebelumnya. Sang anak diminta melakukan hubungan intim dengan orang lain.

Dalam kasus ini, polisi telah menetapkan K sebagai tersangka atas tuduhan menyebarkan video intim tersebut. Kisah di balik video hubungan intim yang terjadi antara ayah dan anak kandungnya ini tidak seperti yang beredar di masyarakat. Dari hasil penyelidikan Polres Lamsel dan Polsek Kalianda, korban mendapatkan ancaman atau intimidasi dari suami sirinya yang saat ini menjalani hukuman di Lapas Metro karena tersandung kasus narkoba.

Dari balik penjara, K menghubungi PR untuk merekam video hubungan intim dengan ayah kandungnya. Video ini dibuat sekitar bulan Oktober (2018) lalu, sebelum PR pergi ke Jawa. PR sendiri mengaku tertekan dan ingin memutuskan komunikasi dengan tersangka dengan pergi ke Jawa.

Dalam kasus ini M (53) di bebaskan dari tuntutan, karena tidak ada pihak keluarga yang menyampaikan tuntutan dan memberi laporan ke polisi. Sementara para tokoh masyarakat meminta M agar pergi dari desanya.

Sementara itu, kasus ini juga tak luput dari pantauan Komisi Nasional (Komnas) Perempuan. Komnas Perempuan  menilai saat ini maraknya terjadi kasus inses yang menimpa perempuan dan anak di Indonesia.

Menurut catatan yang diperoleh Komnas Perempuan, dari 9.409 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan sepanjang 2017, 1.210 di antaranya merupakan kasus inses. Paling banyak kasus inses dilakukan oleh ayah kandung sebanyak 425 kasus, kemudian dilakukan oleh paman 322 kasus.

Hal ini menunjukan baik ayah maupun paman yang seharusnya menjadi pelindung, bukan lagi menjadi sosok yang aman bagi korban.

Untuk itu, Komnas Perempuan mendorong RUU penghapusan kekerasan seksual harus mengacu pada fakta-fakta korban di lapangan. Yang diharapkan bukan berdasarkan pendapat yang bersifat asumsi atau analisis yang tidak memiliki kaitan dengan fakta yang ditemukan.

UU Perlindungan Anak

Kasus kekerasan seksual anak terus meningkat dan melibatkan lebih dari satu pelaku yang justru merupakan orang dikenal bahkan orang terdekat, seperti orangtua, guru, dan teman sebaya.

Oleh karena itu pemerintah mengeluarkan Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016 terkait Perlindungan Anak guna memberikan efek jera serta mengurangi tindak kekerasan seksual terhadap anak di masyarakat.

Setelah disahkan, UU tersebut perlu disosialisasikan kepada masyarakat dan aparat penegak hukum. Hal ini dilakukan agar masyarakat mengetahui bila terjadi kekerasan seksual maka pelaku akan diberikan sanksi yang lebih berat lagi.

Sosialisasi kepada aparat penegak hukum dilakukan untuk memberikan sanksi kepada pelaku bukan hanya pidana pokok berupa penjara dan denda, tapi juga pidana tambahan berupa pengumuman identitas pelaku serta tindakan berupa pemberian kebiri kimia, pemasangan alat pendeteksi elektronik, disertai rehabilitasi. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.