Selasa, 5 Maret 24

Wamenag Zainut: Konsep Khairu Ummah Sejalan dengan Moderasi Beragama

Wamenag Zainut: Konsep Khairu Ummah Sejalan dengan Moderasi Beragama
* Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa'adi saat memberikan sambutan mewakili Menag Yaqut Cholil Qoumas pada pembukaan Konferensi Islam ASEAN ke-2  di Nusa Dua, Bali. (Foto: Humas Kemenag)

Obsessionnews.com — Konsep Khairu Ummah yang menjadi tema besar Konferensi Islam ASEAN 2022 sejalan dengan konsep Moderasi Beragama yang menjadi amanah RPJMN dan program prioritas Kementerian Agama (Kemenag) RI.

 

Baca juga:

Wamenag Zainut: Peran Perempuan dalam Islam Beda dengan Women Liberation Barat

Buka Rakornas BWI, Wamenag Zainut Pesan Pentingnya Pemerataan Ekosistem Wakaf Berbasis KUA

 

 

 

Hal ini disampaikan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi saat mewakili Menag Yaqut Cholil Qoumas pada pembukaan Konferensi Islam ASEAN ke-2  di Nusa Dua, Bali. Konferensi  yang diikuti 140 peserta dari negara-negara ASEAN ini berlangsung 21-23 Desember 2022, dan dibuka oleh Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin.

Menurut Wamenag Zainut, individu atau kelompok masyarakat yang berhasil mempraktikkan Moderasi Beragama sudah tentu akan menjadi pribadi terbaik. Sebab mereka menempatkan sesuatu secara seimbang dan proporsional, bersikap pertengahan dalam pandangan dan praktik beragama, bermasyarakat, dan berbangsa.

 

 

“Serta pelopor dalam sikap saling menghargai dan menghormati, juga adaptif terhadap budaya dan adat istiadat lokal,” kata Wamenag dikutip dari siaran pers Humas Kemenag, Jumat.

“Khairu Ummah juga akan terwujud dengan sikap saling menyayangi dan menghormati dengan sesama umat manusia. Perbedaan hanyalah identitas yang disatukan dengan kuatnya komitmen untuk berbuat yang terbaik bagi umat, bangsa, negara serta kepentingan dunia. Khairu Ummah adalah mereka yang paling besar rasa kasih sayangnya kepada sesama umat manusia dan alam semesta,” sambungnya..

Konsep ini, tutur Wamenag, sering dicontohkan oleh manusia terbaik, Nabi Muhammad SAW, dalam menyampaikan dakwahnya, salah satunya adalah peristiwa penolakan dakwah di Thaif.

 

 

Nabi yang ditolak kehadirannya, bahkan dilempari batu hingga bersimbah darah, saat itu memiliki kesempatan untuk membalas. Namun ketika malaikat penjaga gunung menawarkan untuk membinasakan kaum Thaif saat itu, Nabi dengan besar dan luasnya kasih sayang berujar penuh kebijaksanaan.

“Aku berharap dari keturunan mereka lahir generasi yang meng-Esa-kan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun,” ujar Wamen menirukan perkataan Nabi saat itu.

Konferensi yang bertajuk ‘Khairu Ummah’ ini diikuti sekitar 140 peserta dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Filipina, Laos, Myanmar, Vietnam, Timor Leste, serta Arab Saudi. Ma’ruf berharap acara ini dapat mengukuhkan kerja sama antarnegara.

Hadir dalam pembukaan adalah Menteri Urusan Islam, Dakwah, dan Penyuluhan Kerajaan Arab Saudi Abdullatif bin Abdul Aziz Alu Syaikh, Dubes Arab Saudi untuk Indonesia Esam bin Abid Al-Thaqafy, Gubernur Bali Wayan Koster, dan Dirjen Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin.

“Konferensi ini sangat strategis dan memiliki relevansi yang kuat untuk merespons berbagai persoalan dan krisis kemanusiaan yang semakin kompleks dan memerlukan panduan keagamaan yang mencerahkan dan menyejukkan. Predikat khairu ummah hanya akan terwujud tatkala umat Islam mampu menjadi pionir tegaknya amar makruf nahi mungkar dan menghadirkan kemaslahatan di muka bumi,” ujar Wamenag. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.