Minggu, 15 September 19

Usai Ramadhan, Kerajaan Arab Saudi Bakal Eksekusi Mati Tiga Ulama Sunni

Usai Ramadhan, Kerajaan Arab Saudi Bakal Eksekusi Mati Tiga Ulama Sunni
* Tiga ulama yang dilaporkan akan dieksekusi mati otoritas berwenang Arab Saudi usai Ramadhan nanti. Foto/Twitter @thevoiceofresi1

Jakarta, Obsessionnews.com – Pemerintah Arab Saudi sepertinya tidak akan memberikan ampun terhadap tiga ulama Sunni. Mereka dilaporkan akan dieksekusi mati usai Ramadhan karena diduga kuat terlibat kasus teroris.

Laporan itu dipublikasikan Middle East Eye, Rabu (22/5). Laporan media yang berbasis di London itu mengutip sumber di Saudi. Namun, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi belum mengonfirmasi rencana eksekusi mati tersebut.

Ketiga ulama Sunni tersebut antara lain Wad al-Qarni, Ali al-Omari, dan Sheikh Salman al-Odah. Ketiganya ditangkap pada bulan September 2017 bersama 20 ulama lainnya dalam tindakan keras terhadap perbedaan pendapat.

Al-Odah adalah ulama yang paling banyak pengikutnya. Akun Twitter-nya memiliki 13,4 juta follower. Para follower tersebut telah mengampanyekan tagar #freesalmanalodah dan kampanye pernyataan “Salman al-Odah bukan teroris”. Stasiun televisi yang dikelola al-Odah, “For Youth” juga memiliki banyak pendukung.

Dalam kasus yang menjeratnya, Al-Odah dikenai 37 dakwaan terorisme karena begitu keras mengkritik pemerintah. Dia juga dituduh berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin, sebuah gerakan Islam yang pernah memiliki hubungan dekat dengan monarki Saudi.

Namun dalam perjalanannya, hubungan Ikhwanul Muslimin dengan Kerajaan Saudi rusak setelah kelompok itu semakin kritis terhadap aturan keras Riyadh dan dekat dengan Qatar yang saat ini menjadi rival Kerajaan Saudi secara politik.

Pada 2014, pihak kerajaan melalui Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menyatakan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris.

Jurnalis Jamal Khashoggi, yang dibunuh di Konsulat Saudi di Istanbul pada Oktober 2018, juga seorang pengkritik pemerintah Saudi dan dituding dekat dengan Ikhwanul Muslimin.

Seorang sumber Saudi mengatakan kepada Middle East Eye bahwa Riyadh pada awalnya berhati-hati untuk mengejar eksekusi bagi para ulama.

“Tetapi ketika mereka menemukan ada sangat sedikit reaksi internasional, terutama di tingkat pemerintahan dan kepala negara, mereka memutuskan untuk melanjutkan,” katanya.

Sumber itu juga mengatakan pemerintah berharap untuk mengambil keuntungan dari ketegangan AS dengan Iran, untuk meminimalkan pukulan balik internasional dari rencana eksekusi tersebut.

Bulan lalu, Arab Saudi mengeksekusi 37 orang, sebagian besar aktivis Syiah, atas tuduhan terorisme. Menurut kelompok HAM Reprieve, negara itu telah mengeksekusi 105 orang pada tahun ini, 44 di antaranya warga negara asing. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.