Minggu, 1 November 20

Ulama-ulama Besar Nusantara yang Dimakamkan di Mekkah

Ulama-ulama Besar Nusantara yang Dimakamkan di Mekkah
* Ulama-ulama Nusantara. (Foto: Medsos)

Jakarta, Obsessionnewa.com – Bagi para jamaah haji Indonesia, tidak banyak yang tahu bahwa ada ulama-ulama Nusantara yang berjasa mengembangkan keilmuan Islam lalu wafat dan dikuburkan di Jannatul Ma’lah (Ma’la), Mekkah. Pemakaman ini menjadi saksi bisu para ulama Tanah Air yang diagungkan masyarakat Arab, sebagai tokoh penting membangun peradaban Islam dunia.

Ma’la berjarak sekitar 1,5 km dari Masjidil Haram dan dapat ditempuh dengan jalan kaki. Jamaah haji dapat menuju komplek pemakaman ini melaui pintu keluar Marwah menuju terminal bus Syib Amir. Hanya melewati satu fly over, pintu utamanya sudah dapat dijangkau tepat dibelakang Masjid Jin yang terkenal.

Hanya saja bagi yang belum pernah ke tempat ini, akan ada pemandangan berbeda antara pemakaman di Arab dan di Indonesia. Pemakaman di Tanah Haram hampir dipastikan tak memiliki ciri apapun, kecuali tumpukan batu sebagai penanda bahwa itu adalah kuburan. Tanpa nisan dan nama sehingga sulit mengetahui siapa yang bersemayam dibawah susunan batu-batu yang berjejer rapih tersebut.

Kondisi ini jauh berbeda pada sebelum. 1925 ketika wilayah Ma’la masih bernama Hijaz. Saat itu trandisi Arab Saudi mirip dengan Nusantara. Pemakaman dibuat sedemikian rupa, diberi nisan dan tanda khusus seperti dibangun kubah sebagai penjelas yang dikuburkan adalah tokoh penting yang dikagumi umat.

Beberapa makam keluarga yang terkait dengan Nabi Muhammad tampak dibedakan dan tampak jelas, walaupun setelah Dinasti Saud berkuasa, pemberangusan terhadap nilai-nilai tradisi dan budaya gencar dilakukan. Kubah yang dulu ada di bawah pusara Khadijah al-Kubra istri Rasulullah, dibongkar sehingga sulit rasanya sekarang untuk mengetahui secara pasti dimana letak makamnya.

Ma’la juga banya diziarahi terutama di musim haji. Umumnya, orang-orang Pakistan, India, Turki, Yaman, dan termasuk Malaysia dan Indonesia mendominasi para peziarah. Banyak juga para ulama Nusatara yang dikuburkan di sini. Beberapa di antaranya yang dikenal ada tiga, yakni:

1. Syekh Nawawi al-Bantani

Syekh Nawawi al-Bantani lahir di Tanara, Serang, 1230 H/1813 M dan meninggal di Makkah, 1314 H/1897 M. Ia adalah ulama mumpuni Nusantara yang juga mengajar di Masjidil Haram. Karya-karya monumentalnya dipelajari di pesantren-pesantren di Jawa bahkan di beberapa lembaga pendidikan di Timur Tengah. Syekh Nawawi sangat produktif menulis kitab, jumlah karyanya tidak kurang dari 115 kitab yang meliputi bidang ilmu fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis.

Karena kemasyhurannya, Syekh Nawawi al-Bantani kemudian dijuluki Sayyid Ulama al-Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz), al-Imam al-Muhaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq (Imam yang Mumpuni ilmunya), A’yan Ulama al-Qarn al-Ram Asyar li al-Hijrah (Tokoh Ulama Abad 14 Hijriyah), hingga Imam Ulama al-Haramain, (Imam ‘Ulama Dua Kota Suci).

2. Syekh Ahmad Nahrowi Al Banyumasi

Komunitas Pegon berhasil menemukan sebuah karya intelektual Syekh Nahrawi. (Foto: PC NU Banyuwangi)

Salah satu ulama Banyumas yang menjadi guru para ulama di Mekkah adalah Syaikh Achmad Nahrawi Mukhtarom Al Banyumasi Al Makki. Dari tangannya Thariqah Syadziliyah berkembang sampai ke Indonesia

Syaikh Achmad Nahrowi lahir di Banyumas sekitar pada 1800 M. Beliau adalah putra pasangan KH Hardja Muhammad dan Nyai Salamah, generasi ketiga imam Masjid Darussalam (Masjid Kauman Purbalingga).

Saat itu bertepatan dengan puncak geger Perang Diponegoro (1825-1830 M) banyak sekali santri dan kalangan terpelajar dari tanah Jawa pergi ke luar negeri untuk mempelajari agama sambil lalu menunggu suasana tanah air tenang termasuk Syaikh Nahrawi.

Syaikh Nahrawi Mukhtarom Al Makki Al Banyumasi wafat pada tahun 1926 M pada usia 125 tahun dan dimakamkan di Mekkah. Meski demikian kiprah dakwahnya di tanah air tidak pernah terputus. Dakwah terus bersambung dilanjutkan keluarganya di Purbalingga.

3. Kiai Maimun Zubiar

Kiai Haji Maimun Zubair atau biasa disapa Mbah Moen meninggal dunia di Mekkah, Arab Saudi, Selasa (6/8/2019), saat tengah menjalankan ibadah haji. Ia berpulang di Tanah Suci, tempat ia pernah belajar mengaji pada usia 21 tahun. Meninggal dan dan dimakamkan di Mekkah adalah impiannya sejak masih hidup.

Diketahui, pada usia 21 tahun, Maimun Zubair meninggalkan kampung halaman di Rembang, Jawa Tengah, menuju Mekkah, Arab Saudi. Ia berada di bawah bimbingan Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syekh al-Imam Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Quthbi, Syekh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Qodir al-Mandaly dan beberapa ulama lain.

Mbah Moen adalah putra ulama Kiai Zubair. Ayahnya merupakan seorang alim dan faqih, murid dari Syaikh Saíd al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al-Makky. Selain di Tanah Suci, Mbah Maimun juga belajar mengaji di sejumlah pesantren di tanah Jawa, di antaranya Pesantren Lirboyo, Kediri, di bawah bimbingan Kiai Abdul Karim.

Mbah Maimun merupakan kawan dekat dari Kiai Sahal Mahfudh, yang sama-sama santri kelana di pesantren-pesantren Jawa, sekaligus mendalami ilmu di tanah Hijaz.

Selain itu, Mbah Maimun juga mengaji ke beberapa ulama di Jawa. Para ulama itu di antaranya Kiai Baidhowi, Kiai Ma’shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), dan Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban).

Hingga akhirnya Mbah Moen dikenal sebagai seorang alim, faqih, sekaligus muharrik (penggerak). Ia kerap menjadi rujukan ulama Indonesia dalam bidang fiqh karena menguasai secara mendalam ilmu fiqh dan ushul fiqh.

Pada 1965, Mbah Moen mulai mengembangkan Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Pesantren ini menjadi rujukan santri untuk belajar kitab kuning dan mempelajari turats secara komprehensif.

Kini, Mbah Moen, kelahiran 28 Oktober 1928, telah berpulang. Ia meninggal dunia saat tengah menjalankan ibadah haji. Jenazah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) itu dishalatkan di Masjidil Haram dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Ma’la, salah satu tempat pemakaman tertua di kota Mekkah. (Albar)

Related posts

1 Comment

  1. Ali al itos

    Asss… saya sebagai warga masyarat paling bawah. Ingin saya sampai kan kpd ulama indonesia khususnya. Saya minta ijin untuk menyebarkan do’a tawasul ini. Yg insyaallah bisa menyembuhkan dan menolak wabah covid19 yg saat ini meresahkan dunia.

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.