Jumat, 13 Desember 19

Tribalisme

Tribalisme
* Hendrajit. (Foto: FB Hendrajit)

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future Institute

 

Katanya di Amerika lagi khawatir bangkitnya tribalisme atau politik identitas kesukuan atau kedaerahan. Tapi apa beralasan untuk khawatir, apalagi kalau kemudian jadi alasan buat mengimpor kekhawatiran itu ke Indonesia?

Menurut saya akar kekhawatiran orang Amerika dan Eropa karena nasionalisme mereka itu berbasis etnik. Di Amerika dan Inggris yang dominan Anglo Saxon. Yang berasal dari Jerman adalah Aria. Begitu juga yang dari Belanda.

Karena alam bawah sadar mereka merasa nasionalisme mereka berbasis etnik atau ras yang sama, mereka mengasumsikan nasionalisme Asia seperti Indonesia pun berbasis etnik atau kesukuan.

Padahal urusan etnik itu buat kita sudah selesai ketika para pemuda kita ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Sehingga ketika kita melangkah ke tahapan pembentukan negara bangsa pada 1945, agenda pembahasan bangsa lebih ke soal apa alat perekat persatuan bangsa yang efektif. Lantas apa bentuk negara yang khas karakteristik geografis negeri kita.

Itulah sebab Bung Karno menyatakan yang menyatukan Indonesia adalah geopolitik. Bukan kesamaan agama, kesukuan/etnik dan bahasa. Puncak-puncak kebudayaan masing masung daerah dan kearifan lokal itulah perekat alami bangsa.

Maka itu tidak pas hanya gegara Pilpres AS 2016 lalu muncul gejala tribalisme, lalu pemilu kita yang lalu dibaca sebagai gejala yang sama.

Di AS, terlepas Trump memang mengusung sentimen anti ras hispanik saat Pilpres, di Amerika memang hakekatnya etnich biased. Bias Anglo Saxon dan Protestan.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.