Minggu, 3 Juli 22

Toleransi Muslim Terhadap Hari Raya Umat Lain

Toleransi Muslim Terhadap Hari Raya Umat Lain

Oleh: Ustadz Felix Siauw, Pengemban Dakwah

Faktanya, bagi umat Nasrani, 25 Desember itu merayakan Natal (kelahiran) Yesus Kristus yang bagi mereka adalah Tuhan. Sedangkan Muslim mengimani Yesus Kristus (Isa Al-Masih), hanya sebagai Nabi dan Rasul Allah, bukan sebagai Tuhan.

Maka saat kita mengucapkan “Selamat Natal”, sejatinya kita mengakui yang mereka yakini, bahwa Tuhan lahir di tanggal itu, meski kita berdalih, niat dan dalam hati saya tidak begitu.

Dalam Islam, jelas-jelas ulama bersepakat bahwa haram hukumnya mengucapkan tahniah (selamat) pada hari raya dan syiar-syiar agama lain yang bertentangan dengan keyakinan kita

Toleransi adalah meyakini keyakinan kita, dan membiarkan yang lain meyakini sesuai keyakinan mereka. Beribadah dengan cara kita dan membiarkan yang lain beribadah dengan cara mereka.

Karena itu, toleransi dalam hal ini membiarkan umat Nasrani melakukan apa yang mereka yakini tanpa mengganggu mereka. Bukan ikut-ikutan dalam perayaan mereka dalam bentuk apapun.

Justru intoleransi, apabila memaksa Muslim untuk mengakui, mengucapkan selamat, atau mengikuti perayaan selain Islam. Karena mereka sudah meminta kita meyakini yang mereka yakini.

Tak mengucap selamat pada hari raya pada umat lain, bukan berarti kita harus membenci mereka. Kita mencintai mereka sebagai sesama manusia, dan mendoakan mereka agar beroleh hidayah dan bersama di dalam agama yang haq, yaitu Islam.

Selamat berdakwah, sampaikan pada sahabat, beginilah toleransi kaum Muslim pada mereka yang berlainan keyakinan, saat mereka merayakan hari raya mereka.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.