Rabu, 30 September 20

Sofyan Djalil Tinjau Implementasi Penataan Ruang Berbasis Mitigasi Bencana

Sofyan Djalil Tinjau Implementasi Penataan Ruang Berbasis Mitigasi Bencana
* Sofyan Djalil menggelar dialog di Rumah Susun Lokbin, Kelurahan Tegal Alur. (Foto: Pessy/ON)

Jakarta, Obsessionnews.com — Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sofyan Djalil meninjau implementasi penataan ruang berbasis mitigasi bencana di Kelurahan Tegal Alur dan Kelurahan Semanan, Jakarta Barat. Selain memantau pemasangan pelang rawan banjir, Sofyan juga menggelar dialog interaktif dengan warga setempat.

“Membikin pelang mengingatkan tentang banjir, walaupun masyarakat juga tahu bahwa banjir ini sesuatu yang akan berulang-berulang terjadi. Oleh karena itu persoalan ini harus diselesaikan, tidak sebentar dan harus jangka panjang,” kata Sofyan di Rumah Susun Lokbin, Kelurahan Tegal Alur, Jakarta Barat, Rabu (5/8/2020). Sofyan hadir bersama jajaran Kementeriaan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Sofyan mengatakan penataan banjir di kawasan ini tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Mitigasi bencana itu membutuhkan koordinasi antar kementerian dan pemerintahan daerah yang masuk dalam daerah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur (Jabodetabekpinjur).

Menurut dia, pemerintah pusat sedang memperbaiki sistem penataan jalur Jabodetabekpunjur. Namun di sisi lain, masyarakat juga diminta harus teliti dan jangan hanya melihat bahwa permasalahan banjir tersebut sebagai masalah lokal. Tetapi, dapat dilihat kepada permasalahan yang lebih mendalam lagi.

“Ini (Tegal Alur) adalah hilir, tapi pada banjir yang menjadi masalah kita di bagian lain Jakarta, adalah banjir kiriman yang berasal dari hulu. Oleh sebab itu, pengendaliannya harus sinkron. Di hulu, di tengah, dan hilirnya,” katanya.

Sofyan menjelaskan, di bagian hulu pemerintah sedang membangun dua waduk di kawasan Puncak sampai Ciawi, Bogor. Jika waduk itu selesai, sebagian besar air akan bisa ditampung di waduk tersebut sehingga tidak langsung menuju ke kawasan Jakarta.

“Pemerintah yang masuk ke daerah Jabodetabekpunjur sudah mengidentifikasi semua program. Sudah ada komitmen dari kementerian dan pemda terkait itu dalam waktu lima tahun akan selesai,” tuturnya.

Anggaran yang dikeluarkan dalam penataan Jabodetabekpunjur, kata Sofyan, Rp35 triliun. Selain membuat waduk, pemerintah juga akan menertibkan kawasan Puncak dengan mengembalikan daerah-daerah resapan air yang hilang akibat masifnya pembangunan perumahan dan vila di kawasan tersebut.

Kawasan Puncak, kata dia, saat ini penuh dengan pembangunan rumah. Tanah-tanah perkebunan juga dikonversi. Karena itu, nantinya akan dikembalikan ke fungsi awal sehingga volume air saat musim hujan tidak akan sebesar sekarang.

Untuk permasalahan di tengah, pemerintah akan kembali menata situ-situ (danau) di Jakarta, Tangerang, Bogor, Depok, yang beralih fungsi. Penataannya, kata Sofyan bertujuan agar daerah resapan dapat berfungsi kembali seperti sedia kala.

“Kemudian banyak program lagi. Tetapi ingat masalah banjir ini tidak bisa diselesaikan dalam waktu yang sebentar, targetnya, paling sedikit lima tahun ke depan dan sekarang alhamdulilah sudah mulai bekerja. Tapi karena Covid-19 ada juga yang terganggu,” kata dia. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.