Sofjan Wanandi Tokoh di Balik Penentuan SBY-JK di Pilpres 2004, Begini Ceritanya

Sofjan Wanandi Tokoh di Balik Penentuan SBY-JK di Pilpres 2004, Begini Ceritanya
Jakarta, Obsessionnews.com - Berbicara politik pasti selalu ada drama yang menyertainya. Drama paling seru tentu menyangkut cerita di balik penentuan nama cawapres. Seperti halnya cerita gagalnya mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD sebagai cawapres Joko Widodo (Jokowi), serta cerita gagalnya Agus Harimurti Yudhoyono menjadi cawapres Prabowo Subianto. Cerita mengenai penentuan cawapres ini memang cukup menarik sekaligus mengejutkan, karena terjadi di menit-menit terakhir pendaftaran  Komisi Pemilihan Umum (KPU). Peristiwa mengejutkan itu juga terjadi dengan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK) pada Pilpres 2004. Dalam biografi terbaru bertajuk Sofjan Wanandi dan Tujuh Presiden karya Robert Adhi Ksp, terungkap bagaimana SBY diusulkan menjadi capres dan JK sebagai cawapres. Ada drama seru yang menyelimutinya. Cerita bermula pada tahun 2003, saat itu Sofjan Wanandi selaku ketua Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) menjadi pembicara dalam Musyawarah Nasional Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) di Hotel Hard Rock, Bali. Pembicara lain adalah SBY yang menjabat Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam). Sofjan mengenalnya sejak menjabat Menteri Pertambangan dan Energi pada 1999. “Bagaimana saudara-saudara kalau kita jadikan SBY presiden?” tanya Sofjan. Banyak anggota HKI berteriak, “Setujuuu.” Mendapat respons positif, SBY tersenyum. Dia kemudian menulis di secarik kertas kecil: “Sdr. Sofjan, apakah Anda serius?” Sofjan menulis jawabannya juga pada kertas kecil: “Serius, Pak.” Setelah kembali ke Jakarta, Sofjan menemui SBY di kantor Menko Polkam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Rupanya SBY masih penasaran dan kembali bertanya tentang keseriusan Sofjan “Sdr. Sofjan, saudara mengusulkan saya menjadi presiden. Apakah saudara serius? Bukankah saya tidak punya apa-apa.” “Saya serius, tapi dengan syarat wakil presiden harus berasal dari kalangan pengusaha,” kata Sofjan seperti dikutip Historia, Jumat (25/1/2019). Sofjan menyata serius mengusung SBY dengan syarat menawarkan dua nama pengusaha: Ketua Kadin Aburizal Bakrie (Ical) atau Menko Kesra Jusuf Kalla. “Kalau Pak SBY mau pilih pengusaha,” kata Sofjan, “saya akan galang dana dari pengusaha untuk mendukung Pak SBY.” Sofjan kemudian mengatur pertemuan SBY dengan Ical. Setelah tiga kali pertemuan, Ical menolak menjadi cawapres karena merasa partainya, Golkar, lebih besar dari Demokrat, partai baru yang didirikan SBY. Ical juga akan maju menjadi capres. Namun, dalam konvensi Partai Golkar, dia kalah melawan Wiranto. Kandidat lain yang kalah, Prabowo Subianto, mendirikan partai baru, Gerindra, dan Surya Paloh mendirikan Partai NasDem. Wiranto berpasangan dengan Salahuddin Wahid di Pilpres 2004. Setelah Ical menolak, Sofjan beralih ke JK. Ternyata, JK juga menolak menjadi cawapres. Alasannya, JK mengatakan, “Pak Sofjan, saya tidak mau. Dia susah ambil keputusan.” “Kalla tidak ingin berpasangan dengan SBY yang dinilainya lemah dan tidak mampu mengambil keputusan segera,” kata Sofjan. Belakangan Sofjan tahu kalau JK ingin menjadi cawapres Megawati Sukarnoputri. Namun, pertemuan JK dan Mega tak membuahkan hasil. “Jusuf Kalla berpikir, Megawati sebagai calon presiden harus lebih dulu memintanya menjadi wakil presiden. Namun, sesuai kultur Jawa, Megawati sebagai perempuan menunggu dipinang,” kata Sofjan. Megawati memilih Ketua UMum PBNU KH Hasyim Muzadi di Pilpres 2004. JK akhirnya bersedia menjadi cawapres SBY dengan perjanjian tertulis tentang pembagian tugas dengan SBY. Karena mendukung SBY-JK, Sofjan “berkelahi” dengan abangnya, Jusuf Wanandi, yang mendukung Megawati-Hasyim Muzadi. Mereka tak berbicara selama tiga bulan sampai didamaikan oleh ibunya, Katrina, ketika liburan keluarga ke Tiongkok. Pilpres 2004 diikuti lima pasang. Karena tak ada yang memperoleh suara lebih dari 50%, putaran kedua mempertemukan SBY-JK dan Megawati-Hasyim Muzadi. SBY-JK terpilih menjadi presiden dan wakil presiden dengan raihan suara 60,62%. SBY dan JK berpisah pada Pilpres 2009. SBY berpasangan dengan Boediono sedangkan JK sebagai capres berpasangan dengan Wiranto. SBY-Boediono keluar sebagai pemenang dengan suara 60,80%. Pada Pilpres 2014 Sofjan kembali memainkan peran memasangkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dengan JK. Jokowi-JK terpilih sebagai presiden dan wakil presiden periode 2014-2019. “Sofjan tidak hanya mengusulkan, tetapi juga mengajak teman-temannya di Apindo untuk mendukung kami,” kata JK. Sebelumnya, Sofjan dan JK yang mengusulkan Jokowi kepada Megawati agar Wali Kota Solo itu menjadi calon gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Jokowi-Ahok terpilih sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Menurut Sofjan, kepentingan Apindo sebenarnya hanya berkaitan dengan soal upah pekerja. Pengusaha meminta agar kenaikan upah lebih reasonable agar tidak memberatkan dunia usaha. Soal itu, Jokowi meminta Ahok untuk menerima para pengusaha Apindo. Namun, Ahok mengatakan, “Saya tidak mau diatur.” “Itu menjadi pertemuan pertama saya sekaligus terakir dengan Ahok sebagai pejabat,” kata Sofjan. (Albar)