Rhoma Tak Kecewa Pada PKB Meski 'Dikibuli' Jadi Capres

Jakarta, Obsessionnews - Raja dangdut Rhoma Irama membantah jika maksud mendirikan Partai Islam Damai Aman (IDAMAN) adalah sikap kekecewaaanya terhadap Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang pernah 'mengibuli' dirinya sebagai calon presiden (capres) di Pemilihan Presiden (Pilpers) 2014. "Saya tidak kecewa dengan PKB, saya tidak merasa kecewa. Saya hanya ingin memberikan kontribusi dan semoga bermanfaat," jelasnya di depan wartawan saat konferensi pers di Restauran Arab Raden Baharai Jl. Mampang Prapatan Raya, Jakarta, Sabtu (11/7/2015). Sebagaimana diketahui, Rhoma Irama pernah menjadi juru kampanye PKB pada Pemilu 2014 lalu, hingga dia dijanjikan untuk diberi kesempatan bertarung sebagai capres. Namun sayang hal itu ternyata hanya sekadar janji 'angin sorga'. PKB ingkar janji, tidak jadi mengusung Rhoma sebagai capres dan malah berkoalisi dengan PDI-P dengan mengusung pasangan Jokowi-JK sebagai Capres-Cawapres 2014-2019. Tidak sampai di situ, Rhoma seolah menunjukkan perlawanannya dengan langsung mengambil sikap politik mendukung pasangan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa. Meski akhirnya Jokowi-JK secara meyakinkan menaklukkan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa dalam Pilpes 2014. Memang tak bisa dipungkiri juga Rhoma memberikan jasanya kepada partai PKB. Sejak pesta demokrasi pemilihan legislatif 2014, Rhoma dan Soneta Group terlihat super aktif berkampanye di berbagai daerah. Alhasil, karena popularitasnya dan jasanya itu mampu mendongkrak suara PKB melejit naik.
Walaupun tidak jadi diusung sebagai capres dari partai PKB, sepertinya Rhoma tetap berjuang untuk eksis terus di partai politik, dengan ditandainya Rhoma masuk Partai Bulan Bintang (PBB). Namun lagi-lagi Rhoma gagal bersaing dengan Yusril Izha Mahendra dalam Muktamar PBB di Bogor, Jawa Barat, pada 25 April 2015 lalu. Dan sepertinya mendirikan Partai Idaman akan menjadi kendaraan Rhoma untuk maju sebagai capres pada Pilpres 2019 mendatang. Memang Rhoma juga meyakini dalam menyelamatkan bangsa tentu melalui partai politik, maka tidak heran si Raja Dangdut ini tetap gentol untuk berpartai. Menurutnya, umat Islam perlu bersatu dan bahu membahu memajukan bangsa Indonesia, tanpa mengotak-kotakan diri. "Hanya partai politik yang bisa merubah bangsa. Maka melalui kesempatan ini kami mendirikan partai Idaman," ujarnya. Selama ini, lanjut Rhoma, Islam di Indonesia tiarap, tidak berani mengakui identitasnya dan terstigma sebagai teroris, rasis sehingga tidak hanya malu tapi tidak berani menunjukkannya. "Islam sangat konsultif untuk pergaulan. Islam memberikan nilai-nilai positif di Indonesia dan dunia. Kita bangkitkan mengajukan kepala dan keberanian untuk menjamin kedamain Indonesia. Inilah harus kita tunjukan pada internasional. Hari in kita launching agar Indonesia tahu kalau ada Partai Idaman, kita juga akan mengakomodir seluruh umat," pungkasnya. Meskidirinya sudah mendirikan partai dan menjabat sebagai ketua umum Partai Idaman, bukan berarti Rhoma akan meninggalkan talentanya dalam dunia musik. Sepertinya dia akan tetap memanfaatkan kelebihannya itu untuk menarik simpati masyarakat menyiarkan partainya. "Kalau partai ya partai, kalau musik tetap bermusik," tuturnya.
Nama Rhoma Irama mulai dikenal di tahun 1970-an dengan lagu Begadang. Popularitasnya pun dimanfaatkan oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Rhoma juga berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU) sehingga saat itu dia bersedia menjadi jurkam PPP pada Pemilu 1977. PPP yang didirikan pada 5 Januari 1973 merupakan fusi dari tiga partai Islam, yakni NU, Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan Partai Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). Namun pada era Orde Baru yang diperbolehkan bertarung pada pesta demokrasi hanya terdapat tiga partai, yakni Golongan Karya (Golkar), PPP, dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Pada Pemilu 1977 PPP meraih suara terbesar kedua setelah Golkar. Dan Rhoma berperanan besar dalam perolehan suara partai berlambang Ka’bah itu. Akibat aktivitasnya mendukung PPP, Rhoma Irama dicekal tampil di TVRI. Selain itu ia sering dipersulit memperoleh izin pementasan grup dangdut pimpinannya, Soneta Group. Pada Pemilu 1997 publik dikejutkan dengan kepindahan Rhoma dari PPP ke Golkar. Bahkan Rhoma menjadi caleg partai penguasa Orde Baru itu. Dan akhirnya dia berhasil melenggang ke Senayan, sebutan populer untuk Gedung MPR/DPR yang terletak di Senayan, Jakarta Pusat. Selanjutnya pada Pemilu 2009 Rhoma kembali ke PPP. Ia menjadi caleg DPR untuk daerah pemilihan (dapil) Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tetapi, dia gagal terpilih menjadi anggota DPR. Karena kegagalannya di PPP Rhoma lalu bergabung dengan PKB pada Pemilu 2014. Di partai ini pun Rhoma gigit jari, karena tidak diusung menjadi capres pada Pilpres 2014. (Asma)
Walaupun tidak jadi diusung sebagai capres dari partai PKB, sepertinya Rhoma tetap berjuang untuk eksis terus di partai politik, dengan ditandainya Rhoma masuk Partai Bulan Bintang (PBB). Namun lagi-lagi Rhoma gagal bersaing dengan Yusril Izha Mahendra dalam Muktamar PBB di Bogor, Jawa Barat, pada 25 April 2015 lalu. Dan sepertinya mendirikan Partai Idaman akan menjadi kendaraan Rhoma untuk maju sebagai capres pada Pilpres 2019 mendatang. Memang Rhoma juga meyakini dalam menyelamatkan bangsa tentu melalui partai politik, maka tidak heran si Raja Dangdut ini tetap gentol untuk berpartai. Menurutnya, umat Islam perlu bersatu dan bahu membahu memajukan bangsa Indonesia, tanpa mengotak-kotakan diri. "Hanya partai politik yang bisa merubah bangsa. Maka melalui kesempatan ini kami mendirikan partai Idaman," ujarnya. Selama ini, lanjut Rhoma, Islam di Indonesia tiarap, tidak berani mengakui identitasnya dan terstigma sebagai teroris, rasis sehingga tidak hanya malu tapi tidak berani menunjukkannya. "Islam sangat konsultif untuk pergaulan. Islam memberikan nilai-nilai positif di Indonesia dan dunia. Kita bangkitkan mengajukan kepala dan keberanian untuk menjamin kedamain Indonesia. Inilah harus kita tunjukan pada internasional. Hari in kita launching agar Indonesia tahu kalau ada Partai Idaman, kita juga akan mengakomodir seluruh umat," pungkasnya. Meskidirinya sudah mendirikan partai dan menjabat sebagai ketua umum Partai Idaman, bukan berarti Rhoma akan meninggalkan talentanya dalam dunia musik. Sepertinya dia akan tetap memanfaatkan kelebihannya itu untuk menarik simpati masyarakat menyiarkan partainya. "Kalau partai ya partai, kalau musik tetap bermusik," tuturnya.
Nama Rhoma Irama mulai dikenal di tahun 1970-an dengan lagu Begadang. Popularitasnya pun dimanfaatkan oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Rhoma juga berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU) sehingga saat itu dia bersedia menjadi jurkam PPP pada Pemilu 1977. PPP yang didirikan pada 5 Januari 1973 merupakan fusi dari tiga partai Islam, yakni NU, Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan Partai Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). Namun pada era Orde Baru yang diperbolehkan bertarung pada pesta demokrasi hanya terdapat tiga partai, yakni Golongan Karya (Golkar), PPP, dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Pada Pemilu 1977 PPP meraih suara terbesar kedua setelah Golkar. Dan Rhoma berperanan besar dalam perolehan suara partai berlambang Ka’bah itu. Akibat aktivitasnya mendukung PPP, Rhoma Irama dicekal tampil di TVRI. Selain itu ia sering dipersulit memperoleh izin pementasan grup dangdut pimpinannya, Soneta Group. Pada Pemilu 1997 publik dikejutkan dengan kepindahan Rhoma dari PPP ke Golkar. Bahkan Rhoma menjadi caleg partai penguasa Orde Baru itu. Dan akhirnya dia berhasil melenggang ke Senayan, sebutan populer untuk Gedung MPR/DPR yang terletak di Senayan, Jakarta Pusat. Selanjutnya pada Pemilu 2009 Rhoma kembali ke PPP. Ia menjadi caleg DPR untuk daerah pemilihan (dapil) Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tetapi, dia gagal terpilih menjadi anggota DPR. Karena kegagalannya di PPP Rhoma lalu bergabung dengan PKB pada Pemilu 2014. Di partai ini pun Rhoma gigit jari, karena tidak diusung menjadi capres pada Pilpres 2014. (Asma) 



























