Wartawan BBC Ditahan di Myanmar Saat Bentrokan

Wartawan BBC Ditahan di Myanmar Saat Bentrokan
Seorang wartawan BBC Birma ditahan di Myanmar di tengah bentrokan yang terus berlanjut antara demonstran dan pihak keamanan. Aung Thura dibawa oleh tentara tak berseragam saat melapor dari depan pengadilan di ibu kota, Nay Pyi Taw. BBC mengatakan dalam satu pernyataan, sangat prihatin dan menyerukan agar pemerintah militer membantu memberi tahu lokasi wartawan tersebut. https://youtu.be/-sVlZMTRGEY   Setidaknya delapan orang dilaporkan meninggal dalam rangkaian protes terakhir yang berlangsung di beberapa kota. Aung Thura dibawa bersama wartawan lain, Than Htike Aung, yang bekerja untuk media setempat, Mizzima. Izin Mizzima telah dibekukan pemerintah militer bulan ini. Pria yang menahan wartawan tiba dengan mobil van sekitar tengah hari Jumat (19/03) waktu setempat. BBC belum berhasil mengontak Aung Thura sejak itu. "BBC sangat memperhatikan keselamatan semua staf di Myanmar dan kami akan melakukan apa pun untuk mecari Aung Thura," kata BBC dalam satu pernyataan. https://youtu.be/wqPmWeWoeDw "Kami menyerukan pemerintah untuk mencarinya dan memastikan bahwa dia selamat. Aung Thura adalah wartawan BBC yang berpengalaman dalam meliput peristiwa di Nay Pyi Taw." Sejak kudeta militer pada 1 Februari lalu, 40 wartawan ditahan sejauh ini. Pemerintah militer mencabut izin lima media. Delapan orang yang meninggal Jumat (19/03) ditembak mati oleh aparat keamanan di kota Aungban, menurut media lokal dan pihak yang mengurus pemakaman. "Pihak keamanan tiba dan memindahkan semua blokade namun warga bertahan, tapi mereka melepaskan tembakan," menurut serorang saksi kepada kantor berita Reuters. https://youtu.be/F_zLJjTdwBI   Laporan dari Yangon menyebutkan jalan-jalan padat karena banyak orang yang melarikan diri dari kekerasan. Polisi juga dilaporkan memaksa demonstran menggeser barikade yang mereka dirikan. Kekerasan paska kudeta sejauh ini menelan korban jiwa paling tidak 232 orang, menurut kelompok aktivis Assistance Association for Political Prisoners. Salah satu hari paling berdarah adalah tanggal 14 Maret. https://youtu.be/b0SkVOPG8a0   Pekan lalu, militer Myanmar memperluas kondisi darurat di sejumlah tempat di seluruh negeri, menyusul hari paling berdarah dalam aksi-aksi protes menentang kudeta pada awal Februari lalu. Sekitar 50 orang dilaporkan meninggal saat tentara dan polisi melepaskan tembakan ke arah pengunjuk rasa di berbagai daerah hari Minggu (14/03). Sebagian besar korban meninggal berada di Yangon. Para pengunjuk rasa menuntut dibebaskannya pemimpin sipil yang ditahan, Aung San Suu Kyi. https://youtu.be/0LJ7YZGMmwQ   Pasukan keamanan melepaskan tembakan di sebuah kawasan di kota terbesar, Yangon, ke arah demonstran yang menggunakan tongkat dan pisau. Pihak militer mengumumkan keadaan darurat di kawasan tersebut setelah pabrik-pabrik China diserang. Para pengunjuk rasa meyakini China mendukung militer Myanmar. Gelombang unjuk rasa terus berlanjut sejak militer melakukan kudeta pada 1 Februari lalu. Militer yang berkuasa menahan Aung Aung San Suu Kyi, pemimpin Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD). NLD memenangkan pemilu tahun lalu, tapi militer menuduh adanya kecurangan. Sejumlah anggota parlemen yang digulingkan, menolak untuk menerima kekuasaan militer bulan lalu, dan saat ini berada di persembunyian. (Red) Sumber: BBC News