Pabrik-pabrik Perusahaan Asal China di Myanmar Dibakar Massa

Militer Myanmar perluas keadaan daurat menyusul hari paling berdarah sejak kudeta, dengan pabrik-pabrik perusahaan asal China dibakar di negara mayoritas Budha tersebut. Sekitar 50 orang dilaporkan meninggal saat tentara dan polisi melepaskan tembakan ke arah pengunjuk rasa di berbagai daerah hari Minggu (14/3/2021). Sebagian besar korban meninggal berada di Yangon. Akibat kemarahan massa demonstrans di Myanmar yang nenganggap China sebagai 'dalang' di balik kudeta militer di Myanmar, pabrik-pabrik perusahaan asal China dibakar, 50 orang tewas dalam sehari di tengah aksi protes. Kalangan aktivis mengatakan, pengunjuk rasa tewas tersebut pada Minggu (14/3/2021), hari paling berdarah di Myanmar sejak militer menggulingkan pemerintahan. Pasukan keamanan melepaskan tembakan di sebuah kawasan di kota terbesar, Yangon, ke arah demonstran yang menggunakan tongkat dan pisau. Pihak militer mengumumkan keadaan darurat di kawasan tersebut setelah pabrik-pabrik China diserang. Para pengunjuk rasa meyakini China telah mendukung militer Myanmar. https://youtu.be/PG2XEAq7D24 Gelombang unjuk rasa tak berkesudahan sejak militer melakukan kudeta pada 1 Februari lalu. Militer yang berkuasa menahan Aung Aung San Suu Kyi, tokoh sipil negara itu sekaligus ketua Parta Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD). NLD memenangkan pemilu tahun lalu, tapi militer menuduh adanya kecurangan. Sejumlah anggota parlemen yang digulingkan, menolak untuk menerima kekuasaan militer bulan lalu, dan saat ini berada di persembunyian. Dalam kemunculan pertama di publik, pimpinan sekelompok politisi yang digulingkan, Mahn Win Khaing Than mendesak para demonstran untuk membela diri dari penumpasan militer selama apa yang ia sebut sebagai "revolusi". "Dalam momentum tergelap negara ini dan momentum mendekati sang fajar," katanya, sambil menambahkan: "perlawanan harus menang." https://youtu.be/MQnYQeqdhpw Sedikitnya 21 orang dilaporkan tewas di Yangon pada Minggu kemarin. Kematian dan korban luka juga di kota-kota lainnya. Kelompok pemantau Asosiasi Bantuan bagi Narapidana Politik (AAPP) mengatakan jumlah kematian pada hari itu mencapai 38 orang. Pekerja medis mengatakan jumlah orang tewas di Yango khususnya kawasan Hlaing Tharyar kemungkinan akan bertambah, menyusul puluhan orang yang mengalami luka tembak. Apa yang terjadi di Hlaing Tharyar? Junta militer mengumumkan keadaan darurat di kawasan Hlaing dan Shwepyitha setelah China mengatakan perusahaan-perusahaan yang didanai dari negeri tirai bambu itu menjadi target penyerangan, dan meminta adanya perlindungan. Beijing mengatakan orang-orang bersenjatakan tongkat besi, kapak, dan bensin telah membakar dan merusak 10 perusahaan asal China - kebanyakan pabrik pakaian atau gudang - di Yangon. Sebuah hotel China juga menjadi target penyerangan. https://youtu.be/33EvpzAkssk Dalam halaman Facebook, kedutaan China di Myanmar mengatakan sejumlah "pabrik telah dijarah dan dihancurkan, banyak karyawan China terluka dan terperangkap di dalamnya" Kedutaan mendesak Myanmar untuk "mengambil tindakan yang efektif lebih lanjut untuk menghentikan semua tindak kekerasan, menghukum para pelakunya sesuai dengan hukum, dan menjamin keselamatan jiwa, dan perusahaan-perusaan asal China termasuk personilnya di Myanmar". Media militer, Myawaddy Media melaporkan bahwa petugas pemadam kebakaran telah dihalangi untuk mengambil tindakan pemadaman oleh orang-orang yang memblokir jalan mereka. Suara tembakan terdengar sepanjang hari dan truk militer berseliweran di jalan-jalan. Para demonstran melindungi diri mereka dengan karung pasir, ban mobil dan kawat berduru saat aparat kamanan melepaskan tembakan. Dengan menggunakan tameng darurat, sejumlah demonstran maju ke depan untuk mengambil yang terluka. Seorang petugas mengunggah di media sosial, bahwa kepolisian berencana untuk menggunakan senjata berat. "Saya tidak akan memberi ampun untuk Hlaing Tharyar dan mereka akan melawan secara serius juga, karena semua jenis karakter ada di sana," kata petugas itu dalam unggahan di TikTok yang kemudian dihapus. "Tiga orang tewas di depan saya ketika saya memberikan perawatan. Saya mengirim dua lainnya ke rumah sakit. Hanya itu yang bisa saya katakan saat ini," kata soerang petugas medis kepada AFP. (Red) Sumber: BBC News





























