Ini Cara Panti Asuhan Desa Putera Hadapi Pandemi Covid-19

Jakarta, obsessionnews.com - Situasi masa Pandemi Covid-19 ini beragam permasalahan dan tantangan yang dihadapi oleh panti asuhan. Dari kegiatan yang dilakukan sehari-hari sampai sistem beribadah yang harus di ubah. Mengingat ada beberapa panti asuhan di wilayah DKI Jakarta yang anak asuhannya tak sedikit terjangkit Covid-19. lalu seperti apa sih yang dilakukan Panti asuhan Desa Putera dalam menghadapi masa Pandemi Covid-19 ini? berikut penuturan Pimpinan panti asuhan Desa Putera, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Pimpinan Panti Asuhan Desa Putera Tarcisius Kasino mengaku, yang dilakukan dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini adalah yang pertama mengadakan sosialisasi kepada anak-anak panti dan karyawan panti Desa Putera. “Bagaimana kita supaya tidak kena dan menyebarkan Corona. Anjuran dari pemerintah kan harus sering mencuci tangan. Memang terkadang anak panti sangat sulit diatur ya, tapi yang jelas mereka selalu mencuci tangan dan memakai masker. Terlebih kalau karyawan wajib mengenakan masker, karena dia datang dari luar,” ujar Tarcisius kepada obsessionnews.com belum lama ini. Tak hanya itu, setiap pagi anak asuhan dikasih vitamin dan madu. Lalu semprotan disinfektan selalu dilakukan, minimal seminggu tiga kali disemprot. Kemudian kalau ada yang menyumbang berupa barang, itu dilihat terlebih dahulu, kecuali yang makanan, kalau makanan itu tertutup bisa disemprot. “Biasanya pengantar sumbangan melalui driver online yang dibungkus rapat itu kita semprot dulu. Semua itu hanya untuk antisipasi saja,” ungkapnya.
Selain itu, anak-anak asuh tidak boleh ke luar komplek panti asuhan, mereka kalau mau bermain cukup luas di tempat ini. Kalau memang harus terpaksa ke luar komplek mereka harus pakai masker, dah harus seizin pengasuhnya. “Mau ke mana dan mau apa harus seizin pengasuhnya,” ucapnya. Kalau untuk segi kesehatan yang harus dicatat adalah gizi makanan. Yang biasanya kalau makan tidak pakai daging, sekarang lebih ditingkatkan menjadi pakai daging. Kemudian buah, sekarang setiap hari anak asuhan harus dikasih buah, seperti pepaya, pisang, jeruk dan lain-lainnya. “Kalau dahulu mungkin kadang-kadang seminggu sekali kita kasih buah, kalau sekarang hampir setiap hari kita kasih buah. Maksudnya supaya tenaga fisik mereka kuat dan dapat meningkatkan imun. Kalau imun kuat mereka dapat bertahan dari serangan virus Corona,” ujarnya. Terkait kekawatirannya soal penyebaran Covid-19 dilingkungan panti, dia mengakui adanya kekhawatiran. Mengingat tak sedikit panti asuhan di Jakarta yang terkena Covid-19. “Kalau khawatir itu selalu ada ya, justru itu kita harus menjaga. Misalnya kalau karyawan, tetangganya kena Covid, kita lihat dulu karyawan itu bagaimana, terkena juga atau tidak. Dulu ada karyawan istrinya terkena Covid, lalu karyawan tersebut jangan kita suruh masuk dulu. Lalu periksa dulu, kalau hasilnya negative boleh masuk. Tapi meski begitu, dia tidak boleh masuk selama 2 minggu dia isolasi mandiri dulu, lalu boleh masuk kembali,” jelas Tarcisius. Tak hanya soal cara menangani pandemi saja, ada juga perubahan soal kegiatan di masa pandemi dengan sebelum pandemi. Misalnya dalam cara belajar dan mengajar anak asuh sampai sistem kegiatan beribadahnya. “Banyak perubahan ya. Sebelum Covid, biasanya banyak tamu-tamu yang datang ke sini membawa sumbangan dengan rombongan, merayakan ulang tahun dengan anak-anak panti, selama pandemic Covid-19 ini kegiatan seperti itu kita stop semua. Kecuali satu atau dua orang boleh, tapi kalau rombongan kita stop dulu,” ungkapnya. “Kemudian kalau soal belajar mengajar kita menggunakan sistem online. Dari pagi sampai sore menyelesaikan tugasnya. Lalu setelah mengejakan tugas mereka olahraga,” tambah Tarcisius. Soal ibadah selama ini panti asuhan Desa Putera melakukannya secara online. Walaupun gereja sudah dibuka namun terbatas, hanya untuk usia 17 dan di bawah umur 60 tahun saja. “Sementara untuk anak-anak ibadahnya melalui online,” jelasnya. Untuk itu dia berharap kepada pemerintah untuk segera menuntaskan permasalahan Covid-19 ini. Dia juga mengakui kalau pemerintah sebenarnya sudah berusaha dengan mengeluarkan kebijakan PSBB, walaupun dilihatnya masyarakat tidak begitu tertib oleh anjuran tersebut. “Saya berharap semua usia mendapatkan vaksin ya, jangan ada ketentuan yang mendapatkan vaksin tersebut. Karena virus ini bisa menyerang siapa saja, bukan orang dewasa saja, namun juga anak-anak kecil juga bisa terkena virus ini,” pungkasnya. (Poy)
Selain itu, anak-anak asuh tidak boleh ke luar komplek panti asuhan, mereka kalau mau bermain cukup luas di tempat ini. Kalau memang harus terpaksa ke luar komplek mereka harus pakai masker, dah harus seizin pengasuhnya. “Mau ke mana dan mau apa harus seizin pengasuhnya,” ucapnya. Kalau untuk segi kesehatan yang harus dicatat adalah gizi makanan. Yang biasanya kalau makan tidak pakai daging, sekarang lebih ditingkatkan menjadi pakai daging. Kemudian buah, sekarang setiap hari anak asuhan harus dikasih buah, seperti pepaya, pisang, jeruk dan lain-lainnya. “Kalau dahulu mungkin kadang-kadang seminggu sekali kita kasih buah, kalau sekarang hampir setiap hari kita kasih buah. Maksudnya supaya tenaga fisik mereka kuat dan dapat meningkatkan imun. Kalau imun kuat mereka dapat bertahan dari serangan virus Corona,” ujarnya. Terkait kekawatirannya soal penyebaran Covid-19 dilingkungan panti, dia mengakui adanya kekhawatiran. Mengingat tak sedikit panti asuhan di Jakarta yang terkena Covid-19. “Kalau khawatir itu selalu ada ya, justru itu kita harus menjaga. Misalnya kalau karyawan, tetangganya kena Covid, kita lihat dulu karyawan itu bagaimana, terkena juga atau tidak. Dulu ada karyawan istrinya terkena Covid, lalu karyawan tersebut jangan kita suruh masuk dulu. Lalu periksa dulu, kalau hasilnya negative boleh masuk. Tapi meski begitu, dia tidak boleh masuk selama 2 minggu dia isolasi mandiri dulu, lalu boleh masuk kembali,” jelas Tarcisius. Tak hanya soal cara menangani pandemi saja, ada juga perubahan soal kegiatan di masa pandemi dengan sebelum pandemi. Misalnya dalam cara belajar dan mengajar anak asuh sampai sistem kegiatan beribadahnya. “Banyak perubahan ya. Sebelum Covid, biasanya banyak tamu-tamu yang datang ke sini membawa sumbangan dengan rombongan, merayakan ulang tahun dengan anak-anak panti, selama pandemic Covid-19 ini kegiatan seperti itu kita stop semua. Kecuali satu atau dua orang boleh, tapi kalau rombongan kita stop dulu,” ungkapnya. “Kemudian kalau soal belajar mengajar kita menggunakan sistem online. Dari pagi sampai sore menyelesaikan tugasnya. Lalu setelah mengejakan tugas mereka olahraga,” tambah Tarcisius. Soal ibadah selama ini panti asuhan Desa Putera melakukannya secara online. Walaupun gereja sudah dibuka namun terbatas, hanya untuk usia 17 dan di bawah umur 60 tahun saja. “Sementara untuk anak-anak ibadahnya melalui online,” jelasnya. Untuk itu dia berharap kepada pemerintah untuk segera menuntaskan permasalahan Covid-19 ini. Dia juga mengakui kalau pemerintah sebenarnya sudah berusaha dengan mengeluarkan kebijakan PSBB, walaupun dilihatnya masyarakat tidak begitu tertib oleh anjuran tersebut. “Saya berharap semua usia mendapatkan vaksin ya, jangan ada ketentuan yang mendapatkan vaksin tersebut. Karena virus ini bisa menyerang siapa saja, bukan orang dewasa saja, namun juga anak-anak kecil juga bisa terkena virus ini,” pungkasnya. (Poy) 



























