Mengapa Saya Stress?!

Saya stress akibat pekerjaan yang numpuk, Saya stress selalu hidup miskin, Saya stress tidak dapat jatah dari istri, Saya stress gaji tidak naik-naik, Saya stress suami marah-marah terus, Saya stress gara-gara utang yang numpuk, Saya stress PR/tugas kuliah yang numpuk. Itulah kalimat yang mungkin selalu terucap di dalam hati atau lisan ketika setiap orang menghadapi berbagai masalah dan problemanya masing-masing. Itulah gambaran atau cerminan setiap orang yang stress atas problema dan dinamikanya masing-masing, gambaran dari jiwa-jiwa yg galau atas fenomena kehidupan yang merajalela. Mulai dari problem yang biasa hingga yang pelik. Sebuah problema gambaran silau fatamorgana dunia yang tak kunjung usai. Tahukah anda? Berbagai cara ditempuh oleh setiap orang demi mengatasi stress yang mengganggunya. Cara yang ditempuh oleh setiap orang untuk menghilangkan stresa tentu berbeda-beda, diantara mereka ada yang hang out mabuk-mabukan, joget dangdutan, main wanita, merokok berbatang-batang, karaokean, mecahin piring, dengarkan musik hingga berjam-jam, main game, jalan-jalan keluyuran yang tak jelas, semua hal ini dilakukan demi refreshing menghilangkan stress. Namun satu dikata Na'udzu billahi min dzalik. Ada rasa plong kata mereka setelah selesai dari itu semua, ibarat wes hewes hewes bablas senewene (gugup/hilang akal/stress) akan tetapi itu hanya sementara ibarat orang ketagihan pil koplo maka stress pun kembali menghampiri. Namun begitulah perputaran halusinasi hidup mereka. Jadi stress tetap tak hilang, hanya lupa saja sementara. Bahkan ketika semua cara dan jalan telah dicoba, stress pun tak kunjung reda, malah semakin menjadi-jadi, mungkin tensinya naik? Gara-gara darah tinggi. Maka jadilah ia berputus asa, ada yang menjadi gila, hilang ingatan, mendekam di penjara, ada pula yang meregang nyawa. Na'udzu billahi min dzalik. Sayang seribu sayang, mereka malah mabuk kepayang hingga terjerumus dalam kebinasaan. Sungguh amat disayangkan betapa banyak dari kita yang mengaku sebagai seorang muslim yang beriman, enggan untuk mengikuti petunjuk Allah dalam menghilangkan stress dan memperoleh ketenangan, malah sak karepe dewe. Ok, kita pahami memang setiap manusia akan mendapati jalan yg baik maupun jalan binasa dalam hidupnya, dan disini dapat dipahami memang Allah menguji keimanan setiap hambaNya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Qs Al Anbiya’: 35) Namun tatkala Allah menguji setiap hambaNya ada banyak hikmah disana. Diantara hikmah tersebut adalah bahwa Sang Pencipta kita yaitu Allah Jalla Jalaaluhu, Dialah yang paling tahu terhadap manusia baik zhohir maupun batin dari A-Z. Allah Ta'ala telah menjelaskan cara yang paling tepat untuk mengatasi problema hidup. Allah berfirman, الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ "orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. " (Ar-Ra'd : 28) Tidak hanya itu saja Allah pun menunjukkan jalan kebaikan, jalan yang terang benderang melalui lisan NabiNya shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau membahas tentang majelis ilmu, وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ... “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan)...". (HR. Muslim, no. 2699) Di sinilah adanya keterikatan orang yg beriman kepada masjid dan majelis ilmu. Dan di tempat inilah seorang hamba akan mendpat sakinah, mawaddah dan rahmah. Malaikat pun akan mendoakannya. Dalam hadits lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: جُعِلَتْ قُرُّةُ عَيْنِيْ فِى الصَّلاَةِ "Dijadikan penyejuk mataku (penenang hatiku) ada pada shalat." [HR. Ahmad dalam kitab Musnad, 3/199] Tidak hanya itu, jalan ketenangan pun dapat diperoleh melalui ibadah shalat sebagaiman hadits diatas. Oleh karena itu ibadah shalat, yang dirasakan sangat berat oleh orang-orang munafik, merupakan sumber kesejukan dan kesenangan hati bagi orang-orang mukmin. Siapa di antara kita yang ketika datang masalah yang semakin mendera, cobaan menerpa, stress datang, kita pun langsung mengambil mushaf Al Qur'an lalu membacanya? Siapa diantara kita yg datang ke mesjid, ikut kajian, belajar agama, mengkaji Al Qur'an dan hadits sebagaimana yang dituntunkan oleh Nabi? Siapa pula diantara kita yang menghamparkan sajadahnya, tunduk sujud, berdoa penuh tadarru' (kekhusyuan) memohon jalan keluar dari segala problem kehidupan hingga bulir air mata pun mengalir berlinang membasahi kedua pipi? Saudaraku begitu indah bukan solusi dari Allah?, Dzat yang paling paham tentang kehidupan manusia. Dia telah mengajarkan segala hal yang berkaitan dgn kehidupan melalui NabiNya. Hal-hal yang bisa dilakukan agar manusia memperoleh ketenangan hati. Hal-hal yang bisa dilakukan agar manusi mendapat petunjuk. Lalu sudahkah kita menempuh jalan-jalan yang mulia ini? Sungguh sebuah solusi yang indah, tidakkah kita percaya bahwa ini adalah solusinya? Ataukah mungkin karena hati telah tertutup dan membatu oleh tebalnya dosa dan maksiat yang terus kita lakukan, sehingga berat bagi kita tuk menempuh jalan ini? كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka." (Al-Muthaffifin :14) Bersikaplah husnuzhon kepada Allah, sadarilah segala cobaan, musibah, dan segala problemtika yang menghimpit pada hakikatnya adalah justru untuk kebaikan bagi diri kita sendiri, dalam rangka menyempurnakan keimanan kita dan semakin mendekatkan dirinkita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan husnuzhon tersebut Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi: أنا عند ظنّ عبدي بي “Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepadaku.” (HR. al-Bukhari no. 7066 dan Muslim no. 2675) Maknanya bahwa Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan persangkaan dan harapannya kepada Allah Ta’ala. (Lihat kitab Faidhul Qadiir, 2/312 dan Tuhfatul Ahwadzi, 7/53). Allahua'lam bishawab. (Red)




























