Saat Ada Bencana, Mengapa Berlindung Kepada Jin?

Ketika bencana terjadi secara beruntun, mengapa banyak manusia semakin merendahkan diri dan semakin mengagungkan para "pembesar jin." Yang diyakini sebagai penguasa laut, gunung-gunung, hutan-hutan atau tempat-tempat tertentu lainnya. Mengapa Allah sebagai Pencipta dan Penguasa alam semesta yang juga sebagai Pembuat bencana, justeru ditinggalkan, dilupakan dan diabaikan. Apakah para jin itu mampu mengatasi bergolaknya gelombang laut dan mampu mengendalikan lahar-lahar dan awan panas jika Allah, Penguasa alam semesta ini, menghendaki terjadinya. Firman Allah Ta'ala, أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ "Atau siapakah yang dapat mengabulkan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepadaNya, dan Yang dapat menghilangkan kesusahan dan Yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada sesembahan yang benar selainNya? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). (QS. An-Naml/27 : 62). Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan : Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan bahwa hanya Dia sajalah Yang akan menghilangkan kesulitan-kesulitan seberat apapun, dan hanya Dia sajalah sandaran harapan ketika turun bencana-bencana. Sebagaimana telah Allah firmankan dalam ayat lain: وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ "Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah (dari ingatan kamu) sesembahan yang biasanya kamu seru kecuali Allah". (QS. Al-Israa`/17 : 67). ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ "Dan bila kamu ditimpa oleh kemadharatan, maka hanya kepada Allah sajalah kamu meminta pertolongan." (QS. An- Nahl/16 : 53). Maksudnya, tidak ada Dzat yang dapat dijadikan tempat berlindung oleh orang yang terhimpit kesulitan kecuali Allah, dan tidak ada yang dapat melepaskan marabahaya dari seseorang kecuali Dia saja. Jin dalam pandangan Islam. Dalam Alquran dijelaskan bahwa manusia dan jin sama-sama dibebani hukum "taklifi" (yakni kewajiban dan larangan). Jin juga diperintahkan untuk beribadah dan hanya menyembah kepada Allah, sebagaimana manusia. (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56). Jin diciptakan lebih dahulu dari penciptaan Adam yang menjadi nenek moyang manusia. Jumlah jin ini juga sangat banyak. Mereka ada yang muslim dan ada pula yang kafir. Seperti halnya manusia, jin juga kawin, beranak pinak, makan, minum, istirahat. Mereka memiliki jenis kelamin laki-laki dan perempuan. (QS al-Jin: 6). Satu hal yang salah kalau manusia ini menyembah atau mempertuhankan jin. Misalnya di Jawa ada orang menyembah kepada Nyi Loro Kidul, sebagai ratu jin yang dianggap menguasai samudera selatan pulau Jawa. (kidul=selatan, bhs. Jawa) [Mulia Mulyadi]





























