HP Bisa Jadi Berhala

Dengan kecanggihan teknologi, fungsi handphone (HP) kini tidak hanya sebagai alat komunikasi biasa, tetapi dapat juga mengakses internet, sms, berfoto dan lainnya. Di satu sisi, handphone memiliki dampak positif, diantaranya adalah dapat mempermudah komunikasi, menambah pengetahuan tentang perkembangan teknologi, dan memperluas atau mempererat silaturahmi. Namun handphone memiliki dampak negatifnya, di antaranya: - Dapat menciptakan lingkungan pergaulan sosial yang tidak sehat. - Kurangnya untuk bersosialisasi secara langsung dan juga dapat terjadinya tindak kejahatan. - Ketergantungan yang tinggi kepada HP, bisa mengalahkan keyakinan pada pertolongan Allah dalam aktivitas kehidupannya. Peran Islam dalam perkembangan teknologi pada dasarnya adalah untuk menjadikan aqidah Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan. Bukan berarti Aqidah Islam sebagai sumber segala macam ilmu pengetahuan. Melainkan menjadi standar bagi segala ilmu pengetahuan. Pada dasarnya kita hidup di dunia ini tidak lain untuk beribadah kepada Allah Ta'ala. Banyak cara untuk beribadah kepada Allah Ta'ala seperti sholat, puasa dan menuntut ilmu, yang hukumnya wajib. Seperti sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam : “Mencari ilmu adalah sebuah kewajiban atas setiap muslim laki-laki dan perempuan” (HR. Ibnu Abdil Barr). Ilmu adalah kehidupan Islam dan keimanan. Maka dari itu umat muslim boleh memanfaatkan teknologi untuk melakukan dan memenuhi kebutuhan selama dalam syari’ah Islam. Lalu bagaimana pandangan Islam terhadap penggunaan handphone. Bagi masyarakat yang awam terhadap perkembangan teknologi di zaman ini, kita harus selalu bijak dalam menggunakan HP. Dan menghindari segala mudharat yang ada pada handphone. HP bisa menjadi "berhala" manakala : - Ketergantungan seseorang pada HP, jauh melebihi ketergantungan pada pertolongan Allah Ta'ala. Misalnya ketinggalan HP membuat dirinya bingung, kerepotan dalam beraktivitas, bahkan bisa lepas kontrol, merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Namun menunda sholat dan sampai kehilangan waktu sholat, dianggapnya biasa saja. Allah Ta'ala berfirman, وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا۟ إِذْ يَرَوْنَ ٱلْعَذَابَ أَنَّ ٱلْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعَذَابِ Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah;mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya [niscaya mereka menyesal] . (QS. Al-Baqarah:165). (*/Red)





























