Wartawan Ini Ungkap China Tumpas Muslim Uighur

Wartawan Ini Ungkap China Tumpas Muslim Uighur
Pemerintah China disebut "menggunakan" undangan bagi wartawan asing ke Xinjiang untuk mengontrol narasi pemberitaan tentang perlakuan yang dialami minoritas Muslim Uighur di Xinjiang. Kesimpulan ini tercantum dalam laporan yang dikeluarkan oleh Federasi Wartawan Internasional (IFJ). Dokumen itu menyebut undangan bagi wartawan asing, baik dari negara Muslim maupun non-Muslim, untuk meliput ke Xinjiang adalah bagian dari upaya "melawan" pemberitaan gencar media internasional soal perlakuan buruk yang dialami warga Muslim Uighur. Berbagai organisasi hak asasi manusia menyatakan setidaknya satu juta warga Uighur dimasukkan secara paksa ke kamp-kamp indoktrinasi. Banyak pihak mengatakan kamp ini tak ubahnya seperti tempat "untuk mencuci otak". Pernyataan tentang kamp-kamp indoktrinasi tersebut ditolak oleh pemerintah di Beijing yang bersikukuh bahwa warga Muslim Uighur ini "mengikuti pendidikan vokasi". Meski dalam pemberitaannya, sejumlah wartawan yang diundang rezim Beijing membela China soal muslim Uighur, namun ada seorang wartawan yang kukuh pendiriannya dengan mengungkap bahwa China berupaya menumpas muslim Uighur. Dia adalah salah satu wartawan yang diundang ke Xinjiang adalah wartawan lepas Albania-Kanada, Olsi Jazexhi. Bersama 19 wartawan dari 16 negara, Jazexhi terbang ke Xinjiang pada Agustus 2019. Undangan untk Jazexhi dikeluarkan oleh kedutaan besar China di ibu kota Albania, Tirana. Latar belakangnya sebagai ahli sejarah membuat Jazexhi tidak begitu saja menerima informasi resmi yang dikeluarkan pemerintah China soal warga Muslim Uighur di Xinjiang. "Selama kunjungan di Xinjiang dan setelah kunjungan ini, saya membuat beberapa video dan artikel untuk menunjukkan kepada masyarakat internasional, bagaimana China beruapa menumpas Uighur dan kelompok-kelompok Muslim lain di Xinjiang," kata Jazexhi dalam satu video. "(Saya ingin menunjukkan bagaimana) China menggunakan kamp-kamp reedukasi, yang di Barat yang kami menyebutnya kamp konsentrasi, untuk menghancurkan identitas keislaman warga di Xinjiang," katanya. Ia menggambarkan apa yang dilakukan Beijing terhadap warga Muslim di Xinjiang adalah "genosida budaya". Jazexhi mengunggah video di YuoTube wawancaranya dengan beberapa warga Muslim Xinjiang yang diharuskan masuk ke pusat-pusat reedukasi, yang menurutnya adalah kamp konsentrasi. Perempuan Muslim bernama Kurikumal Maula Turdi kepada Jazexhi mengatakan bahwa ia dikirim ke kamp reedukasi karena pada 2014 ia mengikuti kelas Quran. Di kamp ini, ia diberi pemahaman bahwa "meyakini adanya Tuhan adalah kekeliruan". Tokniaz mendekam di pusat reedukasi karena melihat video soal kewajiban bagi Muslim untuk menjalankan salat lima waktu. (Red) Sumber: BBC Magazine