Ternyata, Jodohmu adalah Cerminan Dirimu?

Ternyata, Jodohmu adalah Cerminan Dirimu?
Seorang muslim atau muslimah yang shalih, pastinya sangat menginginkan kebaikan. Terutama dalam hal memilih pasangan hidup yang akan menemani seumur hidupnya. Dalam hal ini, agama Islam telah memerintahkan seorang muslim dan muslimah untuk memilih pasangan dengan kriteria yang sesuai dengan tuntunan sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, bersabda: تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك “Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim.) إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير “Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi.) Kedua hadits di atas adalah patokan untuk laki-laki dan perempuan yang beragama Islam. Tentu, semuanya menganut sistem akhlaq dan juga kebaikan agama. Sebagaimana hadits berikut ini: من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين “Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat kebaikan akan dipahamkan terhadap ilmu agama.” (HR. Bukhari-Muslim.) Yakni, kebaikan yang dikehendaki untuk ada pada seseorang adalah tidak bernilai dari harta atau kecerdasan duniawi-nya. Akan tetapi terhadap keimanan, keshalihan, dan ke-alimannya terhadap ilmu-ilmu Islam. Maka, baik seorang muslim atau muslimah dianjurkan untuk *MENCARI* pasangan hidup yang beriman kepada Allah, bertaqwa, serta berilmu dan berakhlaq mulia. Lalu apa maksud Jodoh adalah cerminan diri? Dalam Islam, tentu hal ini tidak bisa dikatakan salah. Karena terdapat sebuah dalil yang sangat kuat. Yakni, apabila seorang ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka sebaiknya ia persiapkan dirinya untuk menjadi seorang yang siap berubah menjadi lebih baik. Sebagai seorang muslimah, maka kita disarankan untuk merubah pribadi menjadi wanita yang shalihah dimata agama Islam. Yakni, dengan mempelajari Tauhid, mempelajari bab Aqidah, Fiqih, dan ilmu-ilmu Islam untuk bekal diakhirat kelak. Selain itu, banyak beribadah dan memperbaiki kualitas diri sebagai muslimah dengan bercontoh kepada para Shahabiyyah juga para istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wassalam yang bisa didapatkan dengan banyak membaca biografi para Istri-istri Nabi dan juga para shahabiyah (Sahabat dari kalangan muslimah). Allah Swt. berfirman : اَلْخـَبِيـْثــاَتُ لِلْخَبِيْثـِيْنَ وَ اْلخَبِيْثُــوْنَ لِلْخَبِيْثاَتِ وَ الطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَ الطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبَاتِ. “Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik." (Qs. An Nur:26) Lalu bagaimana jika seseorang yang baik mendapatkan wanita yang tidak baik? Ayat di atas pemahaman saya bukan janji Allah tentang otomatisnya orang baik akan mendapat pasangan yang baik. Ayat tersebut secara umum memberitahukan kita bahwa orang-orang yang baik akan mendapat pasangan yang baik juga, dengan berusaha mengondiskan diri menjadi baik dan juga berikhtiar mencari pasangan yang baik. Dan ada perumpamaan bagaimana seorang yang baik mendapatkan pasangan yang tidak baik. Hal ini dapat kita lihat pada kisah nabi Nuh, Nabi Luth, dan juga Fir'aun. “Allah membuat istri nabi nuh dan istri nabi luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah ikatan pernikahan dengan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba kami. lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suami mereka, maka kedua suami mereka itu tidak dapat membantu mereka sedikitpun dari siksa Allah, dan dikatakan kepada keduanya: ‘masuklah kalian berdua ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk neraka’.” (at-tahrim: 10) Allah menakdirkan istri kedua nabi yang mulia ini justru tidak menerima dakwah suami mereka. padahal keduanya adalah belahan jiwa yang saling melengkapi, saling menemani dan mendampingi. kedua istri ini mengkhianati suami mereka dalam perkara agama, karena keduanya beragama dengan selain agama yang diserukan oleh suami mereka. keduanya enggan menerima ajakan kepada keimanan bahkan tidak membenarkan risalah yang dibawa suami mereka. Lalu diayat selanjutnya kita temukan perumpamaan lain tentang suami yang tidak baik(fasik) dengan istri sholehah, salah satunya adalah asiyah binti mazahim, istri fir’aun. Walau berada dalam kekuasaan fir’aun, asiyah mampu menjaga akidah dan harga dirinya sebagai seorang muslimah. Asiyah lebih memilih istana di surga daripada istana di dunia yang dijanjikan fir’aun. Allah mengabadikan doanya, dan Allah menjadikan perempuan fir’aun teladan bagi orang-orang beriman, dan ia berdoa : "Yaa Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zhalim (at tahriim [66]: 11)" ...Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagi kamu. Allah Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah:ayat 216) (*/Red)