Dampak Covid-19, Budidaya Ikan dalam Ember

Purwokerto - Masyarakat di seluruh dunia sedang mengalami pandemi penyakit virus Corona (Covid-19). Masyarakat di sekitar Banyumas dan Purwokerto juga mengalami hal yang sama. Akibatnya, semua orang sedang prihatin terutama rakyat miskin yang terdampak ekonominya akibat pandemi Covid-19, ungkap Humas Masjid Agung Baitussalam Purwokerto, Ir H Alief Einstein Mhum, Senin (18/5/2020). Ketua Diklat Pelatihan Ikan di Masjid Agung Prof.Ir.H.Totok Agung,DH.MP.PhD. mengatakan karena produktivitas yang menurun, diprediksi krisis pangan akan terjadi bulan Desember 2020. Kelaparan akan menyebar ke mana-mana. Jika tidak diantisipasi, maka tentu kriminalitas dan kerusuhan akan merebak luas. Upaya yang perlu dilakukan adalah menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat miskin secara langsung dengan bantuan sembako dan sekaligus berusaha memproduksi pangan di semua lahan yang ada, baik untuk tanaman maupun ternak dan ikan. Penyaluran sembako adalah satu model bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Ini sangat bagus, terbukti bermanfaat dan sudah banyak dilakukan oleh pemerintah dan berbagai pihak yang menunjukkan adanya kepedulian sesama. Hampir semua masjid melakukan kegiatan ini, pembagian sembako dan masker, termasuk Masjid Agung. Kita tidak tahu sampai kapan kondisi pandemi Covid-19 ini akan berlangsung. Maka timbullah pertanyaan mendasar, sampai kapan pemerintah dan masyarakat bisa menyalurkan bantuan sembako ini? Kalau bisa terus menerus tentulah kita bersyukur dan alhamdulillah. Model penyaluran sembako ini jelas perlu amunisi banyak. Peserta tinggal menerima sembako di rumahnya. Tapi model penyaluran sembako ini tidak sustain dalam jangka panjang. Uang derma umat dan dana dari Allah memang tidak terbatas. Tapi, kemampuan Pemerintah dan Masyarakat untuk menggalangnya tentu terbatas, kata Prof.Totok Agung,PhD. Takmir Masjid Agung menurut Prof.Totok memandang perlu untuk membantu masyarakat terdampak ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang bersifat pemberdayaan. Jika bantuan Masjid Agung disalurkan dalam bentuk alat produksi maka Masjid Agung sudah menciptakan lapangan kerja sesuai situasi dan kondisi masyarakat untuk memperoleh pendapatan. Sehingga Masjid Agung selain bersedekah juga beramal jariyah. Tentu bentuknya bisa sangat bervariasi dan tergantung ketersediaan sumber daya yang dimiliki. Di antaranya melalui kegiatan Pelatihan BUDIKDAMBER, budidaya ikan dalam ember. Kegiatan model pelatihan ini adalah melengkapi dari model memberi ikan menjadi model memberi kail. Ada usaha peserta dari hanya menerima ikan langsung dikonsumsi menjadi berlatih merawat ikan dan memanen ikan. Kita ingin melibatkan setidaknya 60 sampai 100 peserta yang betul-betul tidak punya pekerjaan, dan siap mempraktekkan. Minimal berkeinginan belajar tehniknya. Kita juga melibatkan pakar perikanan, agar mereka juga bisa ikut ber amal jariyah. Metodenya adalah learning by doing, maka panitia juga bisa menjadi peserta. Setelah selesai pelatihan, peserta dapat mempraktekkan budidaya ikan dalam ember.
Peserta menurut Prof.Totok adalah masyarakat yang terdampak ekonomi akibat pandemi Covid-19 masyarakat yang tidak punya pekerjaan/yang kehilangan pekerjaan/ yang kehilangan kesempatan bekerja/ atau yang membutuhkan pelatihan dan berniat untuk mempraktekkan hasil pelatihan. Satu paket pelatihan peserta dibatasi 15 orang. Sejumlah 15 orang peserta diseleksi oleh panitia dari peserta yang mendaftar berdasarkan prioritas kebutuhan. Materi yang disampaikan adalah teknik budidaya ikan dalam ember dipadukan dengan sayuran, aspek budidaya dan aspek ekonominya. Pemateri adalah Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unsoed, yakni Agung Cahyo Setyawan, S.Pi., M.Si, Taufik Budhi Pramono S.Pi., M.Si Joni Johanda Putra, S.Kel., M.P, dan Ren Fitriadi, S.S.T.PI., M.P. Sistem pelatihannya adalah ceramah dan diskusi langsung antara pemateri dan peserta di halaman Masjid Agung, dengan menerapkan protokol standar kesehatan. Peserta mengenakan masker dan sarung tangan plastik. Tempat duduk peserta berjarak 2 m kiri dan kanan. Peserta mempraktekan hasil pelatihan di rumah masing-masing. Satu minggu berikutnya panitia memonev ke rumah peserta untuk melihat keberhasilan dan kendala yang dihadapi peserta dalam mempraktekkan hasil pelatihan, jelas Prof.Totok Agung,PhD. Selanjutnya salah satu Tim Pelatih dari FPIK Unsoed Agung Cahyo Setyawan yang sedang menunggu ujian S3 di Copenhagen University Denmark menjelaskan bahwa setiap peserta pelatihan mendapatkan gratis satu paket bantuan lengkap berupa ember ukuran 70 liter, gelas plastik 10 buah gelas plastik, 1,5 m kawat, 1 kantong.arang kayu, 40 ekor benih lele, 1 kantong bibit kangkung, dan 1 kg pakan ikan. Follow up kegiatan pelatihan berupa pendampingan secara online melalui grup WA Budikdamber BMS. Grup ini dikawal oleh staf pengajar dari FPIK Unsoed dan terbuka untuk umum, kata Agung Cahyo Setyawan. Prof.Totok memaparkan pelatihan tahap 1 sudah dilaksanakan pada hari Jum'at 15 Mei 2020 denfan jumlah peserta 15 orang, 9 laki-laki dan 6 perempuan, peserta berasal dari berbagai kecamatan di Banyumas. Petatihan tahap 2 dilaksanakan pada hari ini Senin 18 Mei 2020. Jumlah peserta 15 orang, 9 perempuan dan 6 laki-laki juga berasal dari berbagai kecamatan di Banyumas. Prof.Totok Agung, PhD. yang juga Dosen Fakultas Pertanian Unsoed menambahkan bahwa untuk pelatihan tahap 3 dan 4 akan dilaksanakan bulan Juni 2020. Jumlah peserta ditargetkan 60 orang. Sampai saat pelaksanaan pelatihan tahap satu, sudah ada lebih dari 200 pendaftar. ()
Peserta menurut Prof.Totok adalah masyarakat yang terdampak ekonomi akibat pandemi Covid-19 masyarakat yang tidak punya pekerjaan/yang kehilangan pekerjaan/ yang kehilangan kesempatan bekerja/ atau yang membutuhkan pelatihan dan berniat untuk mempraktekkan hasil pelatihan. Satu paket pelatihan peserta dibatasi 15 orang. Sejumlah 15 orang peserta diseleksi oleh panitia dari peserta yang mendaftar berdasarkan prioritas kebutuhan. Materi yang disampaikan adalah teknik budidaya ikan dalam ember dipadukan dengan sayuran, aspek budidaya dan aspek ekonominya. Pemateri adalah Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unsoed, yakni Agung Cahyo Setyawan, S.Pi., M.Si, Taufik Budhi Pramono S.Pi., M.Si Joni Johanda Putra, S.Kel., M.P, dan Ren Fitriadi, S.S.T.PI., M.P. Sistem pelatihannya adalah ceramah dan diskusi langsung antara pemateri dan peserta di halaman Masjid Agung, dengan menerapkan protokol standar kesehatan. Peserta mengenakan masker dan sarung tangan plastik. Tempat duduk peserta berjarak 2 m kiri dan kanan. Peserta mempraktekan hasil pelatihan di rumah masing-masing. Satu minggu berikutnya panitia memonev ke rumah peserta untuk melihat keberhasilan dan kendala yang dihadapi peserta dalam mempraktekkan hasil pelatihan, jelas Prof.Totok Agung,PhD. Selanjutnya salah satu Tim Pelatih dari FPIK Unsoed Agung Cahyo Setyawan yang sedang menunggu ujian S3 di Copenhagen University Denmark menjelaskan bahwa setiap peserta pelatihan mendapatkan gratis satu paket bantuan lengkap berupa ember ukuran 70 liter, gelas plastik 10 buah gelas plastik, 1,5 m kawat, 1 kantong.arang kayu, 40 ekor benih lele, 1 kantong bibit kangkung, dan 1 kg pakan ikan. Follow up kegiatan pelatihan berupa pendampingan secara online melalui grup WA Budikdamber BMS. Grup ini dikawal oleh staf pengajar dari FPIK Unsoed dan terbuka untuk umum, kata Agung Cahyo Setyawan. Prof.Totok memaparkan pelatihan tahap 1 sudah dilaksanakan pada hari Jum'at 15 Mei 2020 denfan jumlah peserta 15 orang, 9 laki-laki dan 6 perempuan, peserta berasal dari berbagai kecamatan di Banyumas. Petatihan tahap 2 dilaksanakan pada hari ini Senin 18 Mei 2020. Jumlah peserta 15 orang, 9 perempuan dan 6 laki-laki juga berasal dari berbagai kecamatan di Banyumas. Prof.Totok Agung, PhD. yang juga Dosen Fakultas Pertanian Unsoed menambahkan bahwa untuk pelatihan tahap 3 dan 4 akan dilaksanakan bulan Juni 2020. Jumlah peserta ditargetkan 60 orang. Sampai saat pelaksanaan pelatihan tahap satu, sudah ada lebih dari 200 pendaftar. () 




























