Sudah Saatnya Bangsa Ini Mandiri

Sudah Saatnya Bangsa Ini Mandiri
.Oleh : Hari Utomo, Pemerhati Bangsa  Dua hari yang lalu, tim Vent-I, di bawah pimpinan Dr.Syarif Hidayat, berangkat dari Masjid Salman ITB menuju Kantor Kementerian Pertahanan untuk mengantarkan pemberian 5 buah CPAP Ventilator Vent-I kepada Menteri Pertahanan, Jendral Prabowo Subianto. Dr. Syarif menyampaikan bahwa CPAP ventilator ini di dedikasilan untuk para dokter, perawat dan para tentara yg telah berjibaku untuk melindungi rakyat Indonesia dari serangan Covid19. Mereka yang berada di garda paling depan dan paling beresiko tertular oleh virus Sars-Cov2, yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Diharapkan Ventilator non invasif ini dapat dipakai untuk menyelamatkan para penderita Covid19 yg saat ini sdh mencapai lrbih 12.000 orang. "Saya bangga, Indonesia memiliki patriot seperti anda. Yang telah berjasa mengembangkan ventilator untuk kebutuhan bangsa di kala semua bangsa kesulitan mendapatkan ventilator saat ini. Saya akan membeli 1000 unit ventilator untuk dikirimkan ke rumah sakit militer dan non militer untuk merawat penderita Covid19", demikian disampaikan oleh Jendral Prabowo Subianto ketika menerima 5 buah CPAP Ventilator buatan ITB- Masjid Salman ITB-Universitas Pajajaran Bandung. Kemudian ventilator tersebut diberikan kepada Rumah Sakit RSPAD Gatot Subroto, RSUD Tangerang dan RSUD Suyoto untuk dimanfaatkan merawat para Pasien Dalam Pengawasan Covid19 di RS tersebut. Inilah salah satu matematika dalam beramal untuk kebaikan orang banyak. Apapun kebaikan yg kita lakukan, meskipun kecil, kalau kita ikhlas mengerjakannya, maka Allah akan memberkan balasan dengan kebaikan yg ber lipat lipat. Kita memberikan 5 buah ventilator dan oleh Allah, melalui pak Menhan, diganti dengan 1000 buah. Apa yg dilakukan oleh Jendral Prabowo Subianto ini tentu menjadi contoh yg membanggakan bagi masyarakat Indonesia. Kebahagiaan para inventor adalah ketika alat teknologi yg mereka ciptakan dimanfaatkan oleh negara secara luas dan dapat menyelamatkan ratusan bahkan ribuan nyawa dari penderita covid19. Saat ini CPAP Ventilator Vent-I sedang di uji klinis di 11 RS di Bandung untuk mendapat masukan kinerjanya. Tapi baru beberapa RS yg bisa mendapatkan pasien yg cocok untuk uji klinis. Memang tidak mudah menfapatkan ijin untuk uji klinis dari rumah sakit. Padahal semakin cepat uji klinis semakin bagus. Untungnya kemarin Dr.Ike bisa mengajak dr. Arief dari RS Darurat Wisma Atlet untuk berkunjung ke Masjid Salman ITB melihat fasilitas workshop pembuatan Vent-I yg canggih. Akhirnya beliau memboyong 2 buah ventilator Vent-I untuk uji klinis di Jakarta. RS Darurat Wisma Atlet merupakan rumah sakit yang paling banyak menampung penderita Covit19. Dan dikelola oleh tentara sehingga perijinan lebih mudan dan cepat untuk uji klinis. Alhamdulillah. Semangat untuk membantu penemuan ilmuwan bangsa sendiri ini yang harus terus diperkuat dan ditingkatkan. Sikap mental yang meremehkan hasil karya anak bangsa serta mengagungkan hasil karya bangsa lain mesti dibuang. Sudah terlalu lama negara ini tidak berpihak kepada anak anak bangsanya sendiri. Hal ini bisa dilihat dari tingkat importasi alkes yg mencapai 93%. Di bidang bidang lain seperti industri farmasi, industri telekomunikasi, industri militer menunjukkan hal yg sama, yaitu ketergantungan pada produk impor yg lebih dari 50%. Ketentuan ketentuan undang undang atau standard alat yg sering mengacu pada standard di luar negeri 100%, sering tidak memberi ruang untuk para start up industri Alkes lokal dan industri lainnya untuk bisa tumbuh. Kita sering tidak memberikan peluang industri lokal menjalani proses untuk tumbuh menjadi industri besar. Inginnya langsung harus hebat dan canggih. Dulu kita punya inovator mobil listrik alumni Bandung yg sdh mau bersusah payah membuat beberapa prototype kendaraan listrik dengan uang sendiri atau bahkan uang pinjam kiri kanan dan terbukti bisa berjalan, akhirnya harus masuk penjara karena keruwetan sistem aturan di Indonesia. Ada beberapa inventor mobil listrik yg dulu mau pulang ke Indonesia dari luar negeri untuk ikut membangun teknologi mobil listrik pada jamannya pak DI, akhirnya diterlantarkan dan tidak dimanfaatkan oleh Pemerintah dgn bijak. Sudah saatnya negara memberikan bukti dan dukungan yg nyata kepada para ilmuwan dan inventor yg telah mau bersusah payah mencari solusi bagi keselamatan dan kemajuan bangsanya. Mereka sudah berjuang dan berkorban untuk membangun kemandirian bangsa Indonesia. Adanya Pandemi Covid19 membuka mata kita betapa ketergantungan akan produk alkes luar negeri ini sudah sangat membahayakan. Kita akhirnya sadar bahwa kalau ada kasus panddmi seperti ini, setiap bangsa akan memprioritaskan rakyat masing-masing. Bagi bangsa yang tidak punya teknologi alkes sendiri, akhirnya selalu mengandalkan kebaikan bangsa lain untuk menyelamatkan rakyat sendiri. Ini tidak boleh terjadi lagi. Kita harus menjadi bangsa yang mandiri dalam bidang alat kesehatan. Bangsa yang bisa melindungi kesehatan rakyatnya dengan teknologi yang dimilikinya. Bahkan kalau bisa menjadi bangsa yang bisa membantu bangsa lain yang menderita pandemi dengan teknologi yang kita miliki. Bangsa yg terbaik adalah bangsa yang banyak membantu bangsa lain yang menderita. (*)