Apakah Memang Kasus Covid-19 Indonesia Rendah?

Apakah Memang Kasus Covid-19 Indonesia Rendah?
Oleh: Patrianef Darwis, Dokter Spesialis-Subspesialis/Dosen Fakultas Kedokteran Banyak kita melihat di media massa dan media sosial yang menyandingkan kasus Covid-19 Indonesia yang rendah dan membandingkan dengan negara lain yang tinggi. Sepintas terkesan bahwa memang kasus Indonesia sangat rendah. Apakah memang begitu? Jika kita hanya melihat jumlah positif Covid-19, sesungguhnya kita bisa menepuk dada bahwa kasus kita sangat rendah dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Untuk penduduk yang jumlahnya melebih 250.000.000 jiwa kasus positif kita hari ini hanya 14.023 kasus. Sangat sedikit. Terkesan bahwa kita berlebihan dalam menyikapi Covid-19. Akibatnya di media sosial seperti FB, Instagram dan Twitter muncul perbandingan grafik perbandingan Indonesia dan negara lain. Grafik Indonesia nyaris berada di dasar dengan jumlah kasus yang sedikit. Hasil positif didapat dari hasil pemeriksaan PCR dan Test Cepat Molekular. Sampai hari ini kita telah melakukan pemeriksaan sebanyak 157.769 spesimen PCR dan 504 spesimen TCM. Semuanya itu berasal dari 113.452 orang pasien. Dari 113.452 pasien tersebut positif sebanyak 14.023 kasus dan negatif 99.420 orang. Jumlah kasus ODP saat ini sebanyak 248.690 dan PDP sebanyak 30.317. Perhatikan bahwa jumlah pasien ODP dan PDP saja sebanyak 279.007. Harusnya untuk pasien ODP dan PDP ini dilakukan pemeriksaan sebanyak 2 x 279.007 yaitu sebanyak 558.014 pemeriksaan PCR dan TCM. Jumlah kasus positif dalm sehari di Indonesia tidak akan mungkin melebihi 1000 kasus jika kemampuan pemeriksaan kita hanya sampai 10.000 pemeriksaan perhari. Secara kumulatif dari tanggal 1 Februari sampai saat ini 10 Mei sekitar 100 hari, jumlah pemeriksaan yang dilakukan hanya 157.769 atau rata rata 1500 spesimen perhari. Angka yang sangat kecil. Pemerintah saat ini menargetkan pemeriksaan 10.000 sampel perhari. Di Malaysia , positif rate pemeriksaan PCR adalah 6, 8%. Sementara di Korsel positif rate nya 2,3%. Kondisi kita saat ini positif rate nya sekitar 12,2%. Saat ini positif rate kita tinggi, karena yang diambil adalah pasien yang dalam kondisi berat. Jika kita mengacu ke Malaysia dengan positif rate 6.8%. Jika kita memeriksa sampel sehari sebanyak 10.000 maka angka maksimalnya yang bakal ditemukan positif adalah sebanyak 680 orang per hari. Jadi angka kita yang rendah itu sebetulnya mengecoh, itu terjadi karena memang jumlah pemeriksaan PCR dan TCM kita rendah. Jika kita ingin mendapatkan 1000 pasien per hari, harus diperiksa sekitar 16.000 sampel per hari. Yang ingin saya sampaikan adalah, masih banyak disekitar kita orang yang positif yang tidak terdeteksi, tanpa gejala dan tidak pernah diperiksa. Ini akan jadi bom sewaktu waktu. Saat ini karena "social ditancing" dan " physical distancing" penularannya rendah. Tetapi jika PSBB dilonggarkan, ini bisa jadi bom waktu yang akan membunuh banyak orang. Hal lain yang juga ingin saya sampaikan adalah, jumlah positif tergantung jumlah pemeriksaan. Jumlah positif dengan pemeriksaan 10.000 kasus perhari mungkin hanya sekitar 600 orang dan tidak mungkin lebih. Kurva jumlah pasien positif akan melandai diangka 400 sampai 600 an saat ini, itu karena maksimal kemampuan kita hanya memeriksa 10.000 sampel sehari. Secara grafik dan statistik jumlah pasien bisa diturunkan dengan mengurangi pemeriksaan PCR, katakanlah hanya 5000 perhari, mungkin akan didapatkan angka positif sekitar 200 sampai 300 perhari. Tetapi apa hal seperti ini yang kita inginkan?. Yang ingin saya sampaikan adalah, jika kita ingin tahu seberapa berat kondisi kita di Indonesia, kita harus memperbanyak pemeriksaan PCR dan TCM. Jika kita bisa memeriksa banyak sampel, maka Orang Tanpa Gejala yang menjadi sumber penularan bisa kita deteksi dan diisolasi sehingga penularan akan berkurang. Jakarta, 10 Mei 2020#Covid19Indonesia