Tips Orangtua Tangani Pacaran Anak Zaman Now

Tips Orangtua Tangani Pacaran Anak Zaman Now

Jakarta, Obsessionnews.com - Gaya pacaran anak zaman sekarang seringkali mengkhawatirkan bagi para orang tua. Sebab itu, sangat penting berdiskusi secara terbuka antara orangtua dengan anaknya tentang pacaran anak zaman now.

Saat memasuki usia pubertas biasanya anak sudah mulai mengerti pacaran, terkadang orangtua dibuat bingung bukan kepalang.

Sehingga banyak pertanyaan yang muncul di kepala;Apa yang harus dilakukan? Batasan apa yang harus diberikan? Terlebih lagi, remaja pintar dalam merahasiakan banyak hal yang sedang terjadi di dalam hidupnya, terutama tentang kisah kasih di sekolah atau cerita manis romansa lainnya.

Berikut beberapa tips dari CCO/head of programmes & research Tagar Tegar Elizabeth Raisa untuk orang tua agar bisa menangkis hal buruk tentang gaya pacaran anak zaman now:

1. Pembentukan Attitude Sejak Kecil

Semua anak akan beranjak remaja dan ingin berpacaran. Menjadi pacar yang baik (tidak 'beracun' ) sudah etika dan perilaku sedari dini sebenarnya. Pembentukan attitude itu sejak kecil, dan akan susah diubah ketika beranjak dewasa kecuali orang itu sendiri sadar bahwa mereka punya disorder tertentu. Pada umumnya kekerasan dalam pacaran (KDP), pasangan juga mempunyai kondisi disorder tertentu seperti narcisstic personality disorder (NDP), gaslighter, bipolar disorder, anxiety, Borderline personality disorder (BPD), possessive.

Sebaiknya dari orangtua menasehati anak untuk menghormati semua orang, karena yakin tidak ingin menyakiti orang lain. Jika anak tersebut punya kesadaran dan akal sehat, saya yakin bisa menjalankan relasi-relasi yang sehat.

2. Orangtua Harus Mendapatkan Trust (Kepercayaan)

Sebelum membawa topik yang berat ini kepada anak remaja yang sedang dalam fase rebel, soul searching, orangtua harus mendapatkan Trust dulu. Jika anak sudah mendapatkan Trust dari orangtua. Dengan begitu si anak akan senang mendiskusi apa pun dan akan terbuka untuk curhat.

Karena, seringkali jembatan kehangatan antar orangtua dan anak yang beranjak usia remaja akan semakin rentan, karena kalau anak semakin dihakimi, semakin mereka menjauh. Orangtua sudah terbiasa untuk mendikte anaknya, dan lupa ketika beranjak remaja, cara pendekatannya sudah harus beda. Kalau anak kecil akan selalu mematuhi orangtua, mereka belum ada input lingkup sosial sekuat teman-teman remaja.

3. Orangtua Harus Bisa Menjelaskan Apa Itu Nafsu, Obsesi, dan Cinta

Nafsu adalah hasrat alami dan bersifat kimiawi, terpicu dan diproduksi ketika terangsang lewat 5 senses manusia. Tidak menggunakan akal sehat untuk keharmonisan di masyarakat sosial, akan dicap sebagai orang 'sakit' karena hypersex, catcalling, melecehkan.

Obsesi, yakni sifat yang sering di-cap tidak sehat terhadap seseorang atau sesuatu karena berlebihan (OVER). Sedangkan Cinta adalah kata kerja untuk saling mengasihi, memberi kasih sayang dan menjaganya, bisa ke orang, ke binatang, ke alam, ke semuanya, universal sifatnya.

4. Orangtua Harus Berdiskusi Tentang Seks

Diskusi tentang seks tentu harus dibicarakan, agar tidak menyakiti anak dari keluarga lain, memberi dampak trauma yang bisa berakibat seumur hidup jika tidak betul-betul dihimbau. Selain di sekolah, harus dimulai di rumah sendiri. Relasi sehat dimulai dari ikatan erat orangtua dan anak. Setelah itu dia akan mencontoh hubungan yang sehat dari orangtua dan diaplikasikan secara tidak sadar ke teman-temannya sendiri.

5. Tetapkan Batasan

Di budaya Timur, masih sering melihat orangtua yang membatasi seberapa jauh anaknya berpacaran. So far, masih dianggap lazim dan tidak masalah, namun orangtua sudah harus tahu bahwa zaman sudah jauh berubah dengan perilaku dan budaya modern jaman now. Jangan kaget.

6. Jangan Hentikan Komunikasi dengan Anak

Tentu jangan berhenti komunikasi, namun perhatikan anaknya sudah berubah dengan kebutuhan dan pendekatan dan relasi yang berbeda. Beda dengan bayi, anak TK, SD, remaja, kuliah, dan eksekutif muda.

7. Berikan Dukungan

Dukungan seperti mengantarkan anak bertemu dengan pacarnya, hingga menjadi “telinga” yang siap mendengar curhatan sang anak, merupakan bentuk dukungan yang dibutuhkan sang anak. Buatlah anak Anda percaya bahwa orangtuanya selalu siap untuk memberikan dukungan, kapan pun dan di mana pun.

8. Mengenal Orangtua Pacar Anak

Salah satu cara untuk merasa tenang di saat anak sudah mulai berpacaran adalah mengenal orangtua dari pasangan anak Anda. Dengan begitu, Anda bisa berdiskusi juga dengan orangtua lain supaya hubungan pacaran menjadi “sehat” dan tidak menjurus ke hal-hal negatif. (Poy)