Jibriel, Sopir Silver Bird: Wabah Corona Ujian Terberat Bagi Saya!

Jakarta, Obsessionnews.com– Banyak jiwa melayang di dunia, termasuk di Indonesia, gara-gara virus corona atau Covid-19. Selain itu jumlah pasien positif Covid-19 terus bertambah. Jubir Pemerintah untuk Covid-19 dr Achmad Yurianto membeberkan data pada Jumat 17 April 2020 jumlah orang di Indonesia yang meninggal dunia bertambah 42 orang, total 520 orang. Sementara pasien konfirmasi positif Covid-19 bertambah 407 orang, total 5.923 orang. Selain itu corona juga mengguncangkan perekonomian Indonesia. Banyak perusahaan yang mengurangi produksinya, dan merumahkan para karyawannya. Pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran di depan mata! Yang juga terimbas dari serangan corona adalah para sopir yang bekerja di Blue Bird. Salah seorang di antaranya adalah Jamril. Pria yang akrab dipanggil Jibriel ini adalah sopir Silver Bird (executive taxi) di Jakarta. Ia membawa mobil Toyota Alphard. Sebanyak 80% penumpangnya adalah orang asing. Halaman selanjutnya Jibriel ditargetkan mendapat uang Rp 1.350.000 per hari. Sebelum ada corona target itu selalu tercapai. Dari jumlah sebesar itu ia mengantongi Rp 200 ribu per hari, di luar tips dari penumpang. Ketika corona menyerbu ke Indonesia Blue Bird menurunkan target menjadi Rp 275 ribu. Dari jumlah itu sopir mendapat Rp 75 ribu. “Tapi untuk mencapai target Rp 275 ribu itu sangatlah sulit, karena sepi penumpang yang ke bandara. Begitu pula sepi mendapat order ke hotel-hotel. Padahal bandara dan hotel andalan tamu Silver Bird,” kata Jibriel ketika diwawancarai obsessionnews.com via WhatsApp, Sabtu (18/4/2020). Halaman selanjutnya Jibriel yang sejak 2015 menjadi sopir taksi menjelaskan, sepinya penumpang mulai terasa pada awal Maret 2020. Kedatangan pesawat internasional mulai berkurang. “Pada pertengahan Maret banyak hotel bintang lima di Jakarta yang tutup,” ujarnya. Ia menambahkan, selama menjadi sopir taksi wabah corona merupakan ujian terberat bagi dirinya. “Dulu awal menjadi driver taksi ada saingan taksi online. Tapi, nggak lama bisa menyesuaikan, dan bangkit kembali. Tapi wabah corona ini benar-benar ujian terberat bagi saya,” tandasnya. Sepinya penumpang itu membuat Jibriel semakin bingung dan khawatir, karena pendapatannya semakin hari merosot drastis. Halaman selanjutnyaPulang Kampung Karena sulit memperoleh penumpang, akhirnya banyak sopir yang pulang kampung. Termasuk Jibriel. Ia pulang ke kampung halaman istrinya di Desa Bojong RT 08/RW 02, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, pada minggu pertama April 2020. Selama bekerja di Jakarta Jibriel tinggal di mess karyawan. Sementara keluarganya tinggal di Tegal. Jibriel mempunyai lima anak dari hasil penikahannya dengan Umi Yanti. Kelima anak itu adalah Fernando Mustaqim, Niko dan Niki (kembar), Meisy Eva Riski, dan Mikel Riski. Fernando sudah bekerja. Niko dan Niki bersekolah di SMP. Meisy dan Mkel bersekolah di SD. [caption id="attachment_310686" align="alignleft" width="360"]
Jibriel bersama keluarganya di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (Foto: dok. pribadi)[/caption] Umi, panggilan akab istri Jibriel, berjualan minuman di objek wisata air panas Guci, Tegal. Sejak ada pandemi global wabah corona Guci ditutup, dan ini berarti istrinya kehilangan mata pencaharian. “Pusing, bingung. Nganggur, nggak ada penghasilan di kampung istri. Makan seadanya aja. Yang penting masih ada beras untuk dimasak. Lauknya seadanya,” ucap Jibriel. Kerabat Sutradara Almahum Arizal Lelaki yang hobi bermain tenis meja atau pingpong ini dilahirkan di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), 44 tahun yang lalu. Ia dibesarkan di Desa Koto Lawas, Kecamatan X koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar. Jibriel lulus STM muhamadiah Bukittinggi tahun 1996. Setelah itu merantau ke Jakarta. Ia tinggal di rumah kerabatnya, almarhum Arizal, di Utan Kayu, Jakarta Timur. Arizal sutradara film terkenal yang antara lain sukses menyutradarai film-film Warkop DKI. Perhatian keluarga almarhum Arizal begitu besar pada Jibriel. Jibriel dibiayai kursus Bahasa Inggris dan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Gunadarma Depok. Ia menikmati bangku kuliah tahun 1997-1998, lalu drop out (DO). Halaman selanjutnya “Saya DO karena nilai IP cuma 1,6. Mata kuliah akuntansi sangat asing asing bagi saya yang lulusan STM jurusan mesin. Nggak nyambung . Yang menolong nilai IP saya cuma Bahasa Ingris, Bahasa Indonesia, dan mata kuliah lainnya yang tidak berhubungan dengan mata kuliah akuntansi,” ujar Jibriel. Karena nilainya tidak bagus Jibriel memutuskan berhenti kuliah. Ia kemudian bekerja di perusahaan garmen di PT Winner di Bogor tahun 1999 sebagai staf purchasing. Ia bekerja di perusahaan tersebut selama enam tahun. Dari kerja kerasnya tersebut Jibriel mampu membeli sebuah rumah di Ciparigi, Kedunghalang, Bogor. Halaman selanjutnya Tahun 2006 PT Winner bangkrut. Hal ini jelas memukul batin Jibriel, karena ia kehilangan pekerjaan. Tahun 2007-2008 ia menganggur karena tidak mendapatkan pekerjaan yang cocok. Kemudian pada periode 2008-2009 ia membuka usaha home industri pembuatan kaos kaki di Bandung. Tetapi usaha ini tak berumur panjang. Ia kembali menganggur. Jibriel lalu memutuskan menjual rumah. Ia dan keluarganya kemudian pulang ke Tegal pada tahun 2009. Uang dari penjualan rumah dipergunakan untuk membuka usaha steam mobil dan warung masakan Padang. Semula sukses, namun kemudian bangkrut. Meski demikian Jibriel tidak putus asa. Ia kemudian merantau ke Jakarta dan menjadi sopir taksi sejak lima tahun lalu. (arh)
Jibriel bersama keluarganya di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (Foto: dok. pribadi)[/caption] Umi, panggilan akab istri Jibriel, berjualan minuman di objek wisata air panas Guci, Tegal. Sejak ada pandemi global wabah corona Guci ditutup, dan ini berarti istrinya kehilangan mata pencaharian. “Pusing, bingung. Nganggur, nggak ada penghasilan di kampung istri. Makan seadanya aja. Yang penting masih ada beras untuk dimasak. Lauknya seadanya,” ucap Jibriel. Kerabat Sutradara Almahum Arizal Lelaki yang hobi bermain tenis meja atau pingpong ini dilahirkan di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), 44 tahun yang lalu. Ia dibesarkan di Desa Koto Lawas, Kecamatan X koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar. Jibriel lulus STM muhamadiah Bukittinggi tahun 1996. Setelah itu merantau ke Jakarta. Ia tinggal di rumah kerabatnya, almarhum Arizal, di Utan Kayu, Jakarta Timur. Arizal sutradara film terkenal yang antara lain sukses menyutradarai film-film Warkop DKI. Perhatian keluarga almarhum Arizal begitu besar pada Jibriel. Jibriel dibiayai kursus Bahasa Inggris dan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Gunadarma Depok. Ia menikmati bangku kuliah tahun 1997-1998, lalu drop out (DO). Halaman selanjutnya “Saya DO karena nilai IP cuma 1,6. Mata kuliah akuntansi sangat asing asing bagi saya yang lulusan STM jurusan mesin. Nggak nyambung . Yang menolong nilai IP saya cuma Bahasa Ingris, Bahasa Indonesia, dan mata kuliah lainnya yang tidak berhubungan dengan mata kuliah akuntansi,” ujar Jibriel. Karena nilainya tidak bagus Jibriel memutuskan berhenti kuliah. Ia kemudian bekerja di perusahaan garmen di PT Winner di Bogor tahun 1999 sebagai staf purchasing. Ia bekerja di perusahaan tersebut selama enam tahun. Dari kerja kerasnya tersebut Jibriel mampu membeli sebuah rumah di Ciparigi, Kedunghalang, Bogor. Halaman selanjutnya Tahun 2006 PT Winner bangkrut. Hal ini jelas memukul batin Jibriel, karena ia kehilangan pekerjaan. Tahun 2007-2008 ia menganggur karena tidak mendapatkan pekerjaan yang cocok. Kemudian pada periode 2008-2009 ia membuka usaha home industri pembuatan kaos kaki di Bandung. Tetapi usaha ini tak berumur panjang. Ia kembali menganggur. Jibriel lalu memutuskan menjual rumah. Ia dan keluarganya kemudian pulang ke Tegal pada tahun 2009. Uang dari penjualan rumah dipergunakan untuk membuka usaha steam mobil dan warung masakan Padang. Semula sukses, namun kemudian bangkrut. Meski demikian Jibriel tidak putus asa. Ia kemudian merantau ke Jakarta dan menjadi sopir taksi sejak lima tahun lalu. (arh)




























