Bahaya Klorokuin dan Hidroksi-Klorokuin Untuk COVID-19

UJI KLINIS KLOROKUIN DAN HIDROKSI-KLOROKUIN UNTUK COVID-19 @BRAZIL & PERANCIS Oleh: Karimah Muhammad, Clinical Pharmacist. CPE Alumni ITB Tahun 2012 ketika wabah MERS (Middel-East Respiratory Syndrome) mewabah, klorokuin sudah pernah diteliti potensinya untuk terapi MERS, namun kesimpulan sementara waktu itu: klorokuin tidak cukup efektif terhadap virus MERS. Desain: uji klinis fase II. Tujuan: -Mengetahui efektivitas klorokuin dan hidroksi-klorokuin untuk terapi Covid-19 -Mengetahui dosis optimal untuk terapi -Evaluasi profil keamanan obat. BRAZIL Uji dimulai dengan 81 pasien dengan gangguan saluran pernafasan yang parah (severe respiratory syndrome). Rencana: total 440 pasien, Dua jenis dosis klorokuin yang digunakan: HIGH DOSE: 41 pasien mendapat 12 gram klorokuin selama 10 hari, atau 1,2 gram/hari, atau 4 tablet klorokuin, 2x sehari. LOW DOSE: 40 pasien mendapat 2,7 gram klorokuin selama 5 hari. Hari pertama: 3 tablet, 2x sehari. Hari ke-2 hingga 5: 3 tablet, 1x sehari Semua pasien juga mendapatkan antibiotik ceftriaxone dan azithromycin. Tidak disebutkan dosisnya. HASIL SEMENTARA: -EFEKTIVITAS: belum dilaporkan. -DOSIS OPTIMAL: belum diketahui. Dosis tinggi LANGSUNG DIHENTIKAN di hari keENAM, dari 10 hari yang direncanakan, karena: -Sebagian pasien meninggal: dua pasien di dosis tinggi mengalami ventricular tachycardia, suatu bentuk aritmia yang dapat mengarah pada kematian mendadak (sudden cardiac death). Pasien akhirnya meninggal di 3 hari pertama uji klinis. -Munculnya lebih banyak problem irama denyut jantung (aritmia) pada kelompok high dose. -Adanya “kecenderungan risiko kematian yang lebih besar”. Uji akhirnya dilanjutkan dengan memberi semua pasien dosis rendah. Total pasien meninggal pada kedua kelompok: 11 orang.
PROFIL KEAMANAN: Klorokuin berpotensi menghasilkan dampak yang serius bagi pasien yang memiliki penyakit penyerta kardiovaskular: aritmia (denyut jantung tidak teratur), ventricular tachycardia, long QT syndrome (keduanya merupakan jenis aritmia), dan meningkatnya risiko kematian mendadak (sudden death). Klorokuin dosis tinggi SEBAIKNYA TIDAK DIBERIKAN untuk terapi Covid-19. Hasil lanjut dari uji klinis ternyata lebih buruk: 16 pasien meninggal di kelompok high dose, dan 6 di low dose. Total yang meninggal: 22 orang dari 81 peserta uji klinis. PERANCIS: Sementara itu uji klinis dengan hidroksi-klorokuin di Perancis juga DIHENTIKAN karena adanya risiko kerusakan jantung. Uji yang sejenis dengan pemberian kombinasi hidroksi-klorokuin dengan antibiotik azitromisin, ternyata azitromisin sendiri juga memiliki risiko efek samping gangguan ritme jantung. Selain Perancis, AS juga melakukan uji klinis dengan menggunakan kombinasi hidroksi-klorokuin dan azitromisin. SWEDIA: Rumah sakit- rumah sakit di Swedia sudah mendapat petunjuk agar tidak menggunakan klorokuin maupun hidroksi-klorokuin untuk menangani Covid-19, kecuali untuk keperluan uji klinis. Alasan: efektivitasnya sangat rendah, sedangkan efek sampingnya sangat serius. Swedia sudah menghentikan penggunaan kedua obat tersebut sejak beberapa minggu yang lalu. Secara umum profil keamanan hidroksi-klorokuin memang LEBIH BAIK dibandingkan klorokuin. Tapi untuk efek samping di jantung keduanya dianggap sama buruknya. Ini adalah hasil uji klinis yang pertama kali dibuka untuk publik. Jika anda ingin bertanya, pastikan anda sudah membaca tulisan saya sebelumnya: “OBAT: COST & BENEFIT RATIO”. Bagi anda yang sudah latah membeli klorokuin atau hidroksi-klorokuin, saya anjurkan untuk SEGERA mengembalikannya atau menyerahkan ke apotek terdekat. Anda , without proper knowledge, tidak pernah tahu betapa bahayanya kedua obat tersebut di tangan orang yang tidak berhak memilikinya. KM. 16 April 2020
PROFIL KEAMANAN: Klorokuin berpotensi menghasilkan dampak yang serius bagi pasien yang memiliki penyakit penyerta kardiovaskular: aritmia (denyut jantung tidak teratur), ventricular tachycardia, long QT syndrome (keduanya merupakan jenis aritmia), dan meningkatnya risiko kematian mendadak (sudden death). Klorokuin dosis tinggi SEBAIKNYA TIDAK DIBERIKAN untuk terapi Covid-19. Hasil lanjut dari uji klinis ternyata lebih buruk: 16 pasien meninggal di kelompok high dose, dan 6 di low dose. Total yang meninggal: 22 orang dari 81 peserta uji klinis. PERANCIS: Sementara itu uji klinis dengan hidroksi-klorokuin di Perancis juga DIHENTIKAN karena adanya risiko kerusakan jantung. Uji yang sejenis dengan pemberian kombinasi hidroksi-klorokuin dengan antibiotik azitromisin, ternyata azitromisin sendiri juga memiliki risiko efek samping gangguan ritme jantung. Selain Perancis, AS juga melakukan uji klinis dengan menggunakan kombinasi hidroksi-klorokuin dan azitromisin. SWEDIA: Rumah sakit- rumah sakit di Swedia sudah mendapat petunjuk agar tidak menggunakan klorokuin maupun hidroksi-klorokuin untuk menangani Covid-19, kecuali untuk keperluan uji klinis. Alasan: efektivitasnya sangat rendah, sedangkan efek sampingnya sangat serius. Swedia sudah menghentikan penggunaan kedua obat tersebut sejak beberapa minggu yang lalu. Secara umum profil keamanan hidroksi-klorokuin memang LEBIH BAIK dibandingkan klorokuin. Tapi untuk efek samping di jantung keduanya dianggap sama buruknya. Ini adalah hasil uji klinis yang pertama kali dibuka untuk publik. Jika anda ingin bertanya, pastikan anda sudah membaca tulisan saya sebelumnya: “OBAT: COST & BENEFIT RATIO”. Bagi anda yang sudah latah membeli klorokuin atau hidroksi-klorokuin, saya anjurkan untuk SEGERA mengembalikannya atau menyerahkan ke apotek terdekat. Anda , without proper knowledge, tidak pernah tahu betapa bahayanya kedua obat tersebut di tangan orang yang tidak berhak memilikinya. KM. 16 April 2020





























