Pandemi Itu Akan Menyebabkan Revolusi Sosial

Pandemi Itu Akan Menyebabkan Revolusi Sosial
Oleh: Indra Wardhana, Pemerhati Sosial Saat coronavirus menyapu dunia, hal ini akan menerjang si miskin menjadi jauh lebih sulit daripada yang kaya. Salah satu konsekuensinya adalah kerusuhan sosial, bahkan revolusi. Propaganda yang paling menyesatkan tentang coronavirus adalah bahwa itu akan menyatukan kita semua dan perlakuan yang sama. Itu Bohong !!! , baik secara medis maupun ekonomi, sosial atau psikologis. Secara khusus, Covid-19 justru akan memperburuk kondisi ketimpangan yang sudah ada sebelumnya, dimanapun di dunia ini. Tak lama, hal itu akan menyebabkan kekacauan sosial, hingga pemberontakan dan revolusi. Anda ingin bertaruh ? Keresahan sosial telah meningkat di seluruh dunia sebelum SARS-CoV-2 memulai perjalanannya. Menurut satu perhitungan , ada sekitar 100 an protes anti-pemerintah besar sejak 2017, dari kerusuhan gilets jaunes di negara kaya seperti Prancis hingga demonstrasi terhadap orang kuat dan kaya di negara-negara miskin seperti Sudan dan Bolivia. Sekitar 20 dari pemberontakan ini menggulingkan para pemimpin, sementara beberapa ditindas dengan tindakan brutal dan banyak lainnya kembali bentrok dan memanas sampai pecah berikutnya. Efek langsung dari Covid-19 adalah meredam sebagian besar bentuk kerusuhan, karena pemerintah yang demokratis dan otoriter memaksa populasi mereka dengan lockdown dan dikunci serta pembatasan2 lainnya, yang mencegah orang turun ke jalan atau berkumpul dalam kelompok. Namun di balik pintu rumah tangga yang dikarantina, di barisan dapur yang panjang, di penjara dan daerah kumuh dan kamp-kamp pengungsi - di mana pun orang lapar, sakit dan khawatir bahkan sebelum wabah - tragedi dan trauma sedang menumpuk. Dengan satu atau lain cara, tekanan-tekanan ini akan meletus. Coronavirus dengan demikian telah menempatkan posisi ketidaksetaraan antara si miskin dan si kaya di dalam negara. Contoh seperti di AS, telah ada langkah oleh beberapa orang yang sangat kaya untuk "mengisolasi diri" di perkebunan Hamptons mereka menggunakan kapal pesiar mewah - seorang mogul Hollywood dengan cepat menghapus gambar foto Instagram kapal berharga $ 590 juta miliknya setelah adanya protes publik. Bahkan orang yang kaya dan para pejabat pun merasa cukup aman bekerja dari rumah melalui Zoom dan Slack. Tetapi banyak orang Amerika lainnya yang tidak memiliki pilihan seperti mereka itu. Memang, semakin sedikit uang yang Anda hasilkan, semakin kecil kemungkinan Anda untuk dapat bekerja dari jarak jauh. Karena tidak memiliki tabungan dan asuransi kesehatan, para pekerja ini dalam pekerjaan tidak tetapnya harus mempertahankan pekerjaan mereka, jika mereka masih beruntung tetap memiliki pekerjaannya, untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup. Ketika mereka melakukannya, mereka berisiko terinfeksi dan membawa virus pulang ke keluarga mereka, yang, seperti orang miskin di mana-mana , sudah lebih cenderung sakit dan kurang mampu menavigasi labirin perawatan kesehatan yang kompleks. Dan coronavirus mengalir paling cepat melalui lingkungan yang sempit, stres dan suram. Di atas segalanya, itu secara tidak proporsional membunuh orang kulit hitam. Di Indonesia (sumber:tirto) Ada yang hilang dari aplikasi transportasi online seperti Gojek dan Grab pagi (10/4/2020) kemarin. Di Gojek, tak ada lagi menu pemesanan motor, GoRide. sementara di Grab, menu GrabBike raib. Menu tersebut hilang sebagai imbas penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta yang rencananya akan diberlakukan hingga 14 hari per kemarin, dalam rangka mencegah penyebaran pandemi Corona COVID-19. Dalam PSBB, masyarakat tidak diperbolehkan berdekatan (social distancing), termasuk berkendara motor berboncengan. Polisi menggelar razia di jalan akses DKI untuk memastikan aturan tersebut dipatuhi. Beberapa pengendara ojek online sebelum PSBB DKI resmi berlaku. Mereka mengaku pendapatan berkurang drastis bahkan sejak wabah menyerang dan skema work from home diberlakukan di banyak perusahaan. Pengemudi ojol asal Penjaringan Jakarta Utara itu mengaku sejak masa darurat COVID-19, ia sudah bersyukur seandainya mendapat dua penumpang dalam sehari. Keresahannya bertambah ketika tarif yang dipasang oleh aplikator tak berubah, padahal ia berharap harga yang dikenakan dapat lebih tinggi. Abud bercerita dia pernah dibubarkan oleh petugas keamanan saat parkir di kawasan Mangga Dua. Ia juga kesulitan ketika memasuki kawasan kompleks dan apartemen. Ketika memasuki pos penjagaan, tubuhnya disemprot disinfektan, harus mencuci tangan, suhu tubuh diperiksa, dan lain-lain. Abud mengaku belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah selama masa pandemi. Sementara penyedia aplikasi memberinya masker, hand sanitizer, tisu basah, dan vitamin. Yang mendapatkan bantuan hanya segelintir pengemudi. Beda Pendapat antar berbagai pejabat negara (sumber:tempo) Staf Kantor Presiden Positif Corona Mulanya, Tenaga Ahli Utama KSP Ali Mochtar Ngabalin menyebut ada satu orang staf yang positif Covid-19. Ngabalin mengatakan staf itu tengah diisolasi. "Perempuan, masih muda. Sekarang sudah diisolasi," ujar Ngabalin kepada wartawan pada Jumat, 3 April 2020. Ngabalin mengaku telah meminta izin kepada Kepala Staf Presiden Moeldoko agar menyampaikan informasi tersebut kepada publik. Dengan adanya kasus itu, kantor KSP juga dikosongkan untuk disterilisasi. Keterangan Ngabalin dibantah Pelaksana tugas Deputi IV KSP Bidang Informasi dan Komunikasi Politik Juri Ardiantoro. "Semua personel KSP negatif Covid-19. Kantor KSP juga tidak dikosongkan. Hari ini saya di kantor," ujar Juri lewat keterangan tertulis pada Jumat, 3 April 2020. Sebelumnya KSP memang melakukan rapid test terhadap seluruh stafnya. Dari hasil itu, beberapa orang dinyatakan positif. Terhadap mereka kemudian dilakukan tes lanjutan berupa tes PCR. “Kami lakukan tes dan hasilnya semuanya negatif hingga Jumat sore ini," ujar dia. Soal mudik Juru bicara Istana Fadjroel Rachman menyebut Jokowi tidak melarang mudik. Menurut Fadjroel, mereka yang mudik akan menjalani protokol kesehatan, yaitu karantina mandiri dua pekan dan berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP). Belakangan, pernyataan Fadjroel dikoreksi Menteri Sekretaris Negara Pratikno, yang menyebut presiden akan berusaha keras mengajak masyarakat tak pulang ke kampung halaman, “Yang benar adalah pemerintah mengajak dan berupaya keras agar masyarakat tidak perlu mudik,” kata Pratikno pada 2 April 2020. Silang pendapat ini berakhir dengan pernyataan bahwa pemerintah tidak melarang secara resmi jika masyarakat ingin mudik lebaran 2020.Keputusan pemerintah mengenai mudik lebaran dianggap tak tegas oleh beberapa kepala daerah dalam menghadapi wabah Corona. Di antaranya, Ridwan Kamil, Anies Baswedan, dan Ganjar Pranowo. Hanya Orang Kaya yang Bekerja Dari Rumah Semakin sedikit penghasilan Anda, maka isolasi diri lah anda. Perbedaan antar negara besar dan kecil bahkan lebih besar lagi. Bagi mereka yang tinggal di kota kumuh seperti di India atau Afrika Selatan, tidak ada yang namanya "jarak sosial," karena seluruh keluarga tidur di satu ruangan. Tidak ada edukasi tentang apakah akan memakai masker karena tidak ada. Lebih banyak mencuci tangan adalah saran yang baik, kecuali jika tidak ada air yang mengalir. Begitulah, di mana pun SARS-CoV-2 muncul. Organisasi Buruh Internasional telah memperingatkan bahwa pandemi itu akan menghancurkan 195 juta pekerjaan di seluruh dunia, dan secara drastis memotong pendapatan 1,25 miliar orang lainnya. Kebanyakan dari mereka sudah miskin. Ketika penderitaan mereka memburuk, di tambah akibat alkoholisme dan kecanduan narkoba hingga kekerasan dalam rumah tangga serta pelecehan anak, membuat seluruh populasi manusia mengalami trauma , mungkin secara permanen. Dalam konteks ini, akan naif untuk berpikir bahwa, setelah darurat kesehatan ini selesai, baik masing-masing negara atau dunia dapat melanjutkan aktivitas seperti sebelumnya. Kemarahan dan kepahitan akan menemukan tempat baru. Pertanda awal termasuk jutaan warga Brazil yang membanting panci dan wajan dari jendela mereka untuk memprotes pemerintah mereka, atau tahanan Lebanon yang melakukan kerusuhan di penjara mereka yang penuh sesak. Pada saatnya, nafsu-nafsu ini bisa menjadi gerakan populis atau radikal baru, berniat menghancurkan apa pun rezim yang mereka definisikan sebagai musuh. Karena itu pandemi besar tahun 2020 merupakan ultimatum bagi kita agar kita berpikir lebih keras dan lebih berani, tetapi masih secara pragmatis , tentang masalah mendasar yang kita hadapi, termasuk ketidaksetaraan. Ini adalah panggilan untuk semua yang berharap tidak hanya untuk bertahan hidup dari virus korona, tetapi untuk bertahan hidup di dunia yang layak untuk ditinggali. Seperti kata seorang Ibu pedagang di salah satu pasar, kami keluar mati karena corona atau kami di dalam rumah mati kelaparan, pilihan yang harus di terima, tapi jika kedua tempat sama sama mematikan, maka tanggul kesopanan pun akan jebol. Maka rakyat akan bergerak dan memberontak. Camkan dan berhati-hatilah untuk Rezim….