Renungan Covid-19

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future Institute Rosnow, salah seorang pakar hubungan internasional, dalam teorinya mengemukakan betapa pentingnya peran aktor-aktor non negara dalam proses pembuatan kebijkan luar negeri suatu negara. Seperti perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat (LSM), media massa, dan perusahaan-perusahaan multinasional. Namun teori Rosnow yang sudah saya pelajari sejak mahasiswa Hubungan Internasional (HI) pada dekade 1980-an, masih tetap dalam kerangka pandang bahwa para aktor non negara itu hanya faktor pelengkap dari aktor-aktor negara, seperti parlemen, kementerian luar negeri, kementerian pertahanan maupun kementerian ekonomi. Pada perkembangannya, yang luput dari pengamatan Rosnow, bahwa multinasional corporations, bukan sekadar korporasi yang ikutan ngasih usulan atau semacam kelompok kepentingan menekan beberapa instansi pemerintahan untuk menggolkan kepentingannya agar ditampung melalui Undang-Undang (UU), Peraturan Pemerintah, atau Keputusan Presiden (Keppres). Namun pada kenyataannya, korporasi-korporasi global tersebut bahkan menegara, memasang jaringannya yang menggurita dengan menanam orang orang binaan korporasi menduduki jabatan publik di DPR, kementerian, dan instansi-instansi lainnya. Baik pusat maupun daerah. Mengingat wataknya yang sudah berubah kodrat jadi korporasi yang menegara, maka pada praktiknya kekuatan korporasi ini bisa membuat action plan maupun modus operasi yang sama sekali tidak bersinggungan dengan langkah kebijakan pemerintahan negaranya. Jadi kalau Covid-19 ini, seperti munculnya satu pertanyaan dari peserta seminar online Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Karawang Kamis lalu, kalau benar AS dan Cina berada di balik rekayasa virus ini, mengapa kedua negara hancur lebur juga gegara pandemik global ini? Sangat masuk akal, jika pandemik global ini merupakan hasil rekayasa sebuah konsorsium yang bertautan erat dengan beberapa korporasi global, yang mana kepentingan utamanya dan loyalitasnya bukan pada negaranya sendiri, melainkan pada jejaring gurita kekuasaan kekuatan-kekuatan korporasi tersebut.





























