Memanfaatkan Situasi Aji Mumpung kepada Konsumen

Oleh: Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute Yang menggelisahkan saya bukan soal mewabahnya virus corona. Tapi situasi ini mengungkap hal sampingan yang justru menyingkap watak buruk kita: Apa-apa dibisniskan, tanpa tahu betul situasi apa yang sedang kita hadapi. Dan apa kebutuhan kita sebagai konsumen yang sesungguhnya. Gambaran ini malah menunjukkan bahwa bangsa kita bukan bangsa yang berbakat berdagang atau berbisnis. Para pebisnis besar dan berhasil dari mancanegara maupun negeri kita sendiri, mereka berhasil dalam bisnis bukan karena ingin berbisnis dan mencari uang. Tapi karena berbakat memetakan kebutuhan orang. Mereka berbisnis karena menyadari itu merupakan sarana untuk melayani kebutuhan orang banyak yang dibentuk oleh tempat, lokasi dan lingkungan mereka berada. Bukannya memanfaatkan situasi aji mumpung kepada konsumen. Mumpung konsumen lagi butuh, tetapkan harga selangit. Itu bukan bisnis. Dan orang seperti itu bukan orang yang berbakat bisnis. Kafe Starbuck anda tahu? Di Amerika itu bisa berhasil karena ide dasar perancangnya adalah untuk melayani kebutuhan ngopi para sopir truk. Planet Hollywood anda tahu? Itu dibikin perancangnya karena dia terobsesi bagaimana caranya para eksekutif profesional berdasi sampai sopir truk bisa kongkow-kongkow di satu tempat yang sama. Orang-orang kita yang memutuskan aktif di bisnis saat ini melupakan wejangan para orang tua kita dulu: Jadikan konsumen sebagai raja.





























