Negara Ibarat Jiwa Manusia

Negara Ibarat Jiwa Manusia
Oleh: Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute KALAU negara kita diibaratkan seperti jiwa manusia, negara sedang tidak sehat. Sedang hilang sifat keutamaannya. Jalan menuju keutamaan negara adalah keadilan. Keadilan berarti masing-masing orang di dalam negara mau bekerja dan menguasai bidangnya sesuai kemampuan alami dan bakat yang menonjol dalam dirinya. Sehingga menghasilkan kreativitas yang senpurna. Daya kekuatan yang ada di dalam bagian-bagian jiwa, melakukan apa yang mesti dilakukan sesuai kemampuan, kondisi dan situasi. Di sinilah pentingnya kekuatan intelektual untuk memandu bagian-bagian jiwa sehingga selaras dan seimbang. Keadilan yang lahir dari hikmah dan kearifan. Intisari masalah kita saat ini, tidak ada sebuah orksestra yang dipandu oleh seorang dirigen, untuk mengorganisir dan menyelaraskan kemampuan alami dan bakat dari masing-masing orang. Sehingga tidak lahir yang namanya sebuah komunitas sosial. Alhasil,situasi dan kondisi ini kemudian memancar dalam politik ketatanegaraan kita. Negara, seperti juga manusia, kehilangan keutamaannya. Hilang karomahnya, hilang keberkahannya. Dalam berbagai bidang, tidak ada ahlinya, karena kerja bukan diartikan sebagai vocation, atau respons terhadap panggilan jiwa. Sehingga kerja hanya dipandang sekadar teknik keterampilan atau pertukangan. Gelar kesarjanaan mendahului ijazah. Karena tradisi guru mengijazahkan sang murid, sudah mulai tergerus dan kehilangan makna, dengan alasan modernisasi. Padahal ijazah itu terkandung keutamaan seorang murid sesuai kadar dan kapasitasnya. Ketika pengajar kehilangna etos keguruannya, maka lenyap pula wasilah keutamaan yang ditransmisikan sang guru pada murid. Dalam fenomena dunia politik kita hal ini nyata sangat. Para kader politik partai atau ormas punya banyak senior dalam arti usia yang lebih tua maupun jam terbang di dunia politik. Namun para junior tidak merasakan para senior sebagai mentor. Seperti halnya Bung Karno memandang HOS Cokroaminoto, Haji Agus Salim dan Dr Sam Ratulangi, sebagai senior sekaligus mentor. Maka ketika ada banyak sesepuh kita saat ini mengeluh tidak adanya keteladanan dari lapis kepemimpinan baik di pusat maupun daerah, memang ada benarnya. Bagaimana mungkin keteladanan itu ada, ketika tidak ada keutamaan. Baik di dalam diri pribadi perorangan atau individu, maupun di dalam negara.