Kerusuhan Antaragama di India, Lebih 27 Orang Terbunuh

Kerusuhan Antaragama di India, Lebih 27 Orang Terbunuh
Undang Undang (UU) Kewarganegaraan yang dibuat oleh rezim India, nampaknya untuk menyingkirkan muslim di negara mayoritas beragama Hindu tersebut di bawah komando Perdana Menteri Narendra Modi. Rancangan UU ini memicu aksi protes sejak diloloskan tahun lalu, beberapa di antaranya berujung bentrok. Jumlah Umat Muslim di India adalah 183 juta orang sekitar 15% dari total populasi warga India sebanyak 1,38 miliar orang. Banyak korban tewas dari kaum muslim akibat bentrokan yang menentang Undang-Undang Kewarganegaraan (CAA) di New Delhi. Aksi protes tersebut berubah menjadi kekerasan antaragama, di mana sejumlah umat Muslim melarikan diri dari rumah-rumah mereka dan beberapa masjid di ibu kota hancur setelah diserang oleh kelompok Hindu. Bentrokan pun terjadi pada Minggu (23/2/2020), antara kelompok yang menentang dan setuju undang-undang kewarganegaraan yang oleh kritikus disebut meminggirkan Muslim. Jumlah orang yang terbunuh dalam kerusuhan selama beberapa hari di ibu kota India, Delhi, sedikitnya 27 orang.\ Pemerintah India yang kini dikuasai oleh partai Nasionalis Hindu, Bharatiya Janata Party (BJP), mengatakan undang-undang ini akan memberi perlindungan bagi orang-orang yang melarikan diri dari persekusi agama. https://youtu.be/oaTAQCXW8iA Kerusuhan terjadi di tiga area yang mayoritas ditinggali oleh Muslim, sekitar 18 km dari ibu kota Delhi, pada Minggu (23/2). Sebuah kelompok yang mendukung RUU ini memprotes blokade yang dilakukan oleh mereka yang menentang RUU ini. Tak lama, aksi pelemparan batu terjadi. Pemimpin BJP, Kapil Mishra, dituding terlibat dalan kerusuhan itu, karena sebelumnya mengancam kelompok yang menentang RUU tersebut, menyebut mereka akan diusir secara paksa begitu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meninggalkan India. Presiden AS melakukan kunjungan resmi pertamanya ke negara itu dari 24 hingga 26 Februari. Meski belum ada laporan bentrokan baru pada hari Rabu (26/2), kota ini terus tetap gelisah setelah kerusuhan yang terjadi selama tiga hari berturut-turut. Kerusuhan yang terjadi, bukan lagi tentang hukum kewarganegaraan baru. Media setempat mengatakan kekerasan itu berubah menjadi sektarian, dengan laporan orang diserang berdasarkan agama mereka. Ada laporan sekelompok pria dengan tongkat, batang besi dan batu berkeliaran di jalan-jalan dan orang-orang Hindu dan Muslim saling berhadapan. Jalan utama di lingkungan ini berantakan, kata wartawan BBC yang berada di lokasi kejadian. “Jalanan dipenuhi dengan batu dan pecahan kaca, kendaraan yang rusak dan terbakar berserakan, dan bau asap dari bangunan yang membara memenuhi udara,” ungkapnya.   https://www.youtube.com/watch?v=RtPT8Ms8MP4 Masjid Dibakar Ada juga laporan tentang rumah-rumah dan toko-toko Muslim yang menjadi sasaran gerombolan perusuh. BBC melaporkan, sebuah masjid yang terbakar sebagian, dengan halaman-halaman dari Alquran tergeletak di tanah. Masjid lainnya dirusak pada Selasa siang. Sebuah rekaman yang tersebar di media sosial menunjukkan seorang pria berusaha mencoba melepas bulan sabit dari atas menara masjid. Setidaknya 200 orang menjadi korban dalam kerusuhan itu, baik dari warga Muslim maupun Hindu. Wartawan BBC mengatakan mereka melihat orang dengan segala macam cedera di rumah sakit, termasuk luka tembak, berebut untuk perawatan. Mereka mengatakan rumah sakit itu tampak "kewalahan", dan banyak dari mereka yang terluka "terlalu takut untuk pulang ke rumah". Saksi mata mengatakan beberapa anggota gerombolan itu membawa senjata dan ada laporan tentang tembakan yang ditembakkan dari atap rumah. Petugas rumah sakit juga mengkonfirmasi bahwa banyak dari yang terluka mengalami luka tembak. https://youtu.be/H84pBsOfWdk Sejak Perdana Menteri India Narendra Modi berkuasa pada 2014, nasionalisme Hindu sayap kanan mulai bangkit di India. Modi bahkan menjadikannya landasan kampanye dalam pemilihan umum 2019 lalu. Momen kerusuhan terjadi yang bertepatan dengan kunjungan Presiden Trump dianggap memalukan baginya. Ketika kerusuhan meningkat, itu menaungi kunjungan Trump, dan menjadikannya sebagai berita utama nasionald an global. Bentrokan antardua kelompok agama yang terjadi sejak Minggu lalu, belum mereda hingga Rabu (26/2). Beberapa rumah umat Muslim yang ditinggalkan menjadi sasaran penjarahan. Lebih dari 200 orang dirawat di rumah sakit karena cedera. Mereka rata-rata mengalami luka tembak hingga luka bakar akibat cairan asam, luka karena pemukulan, dan luka karena pelemparan batu. Pada Selasa (25/2) sore, gerombolan massa dari kelompok Hindu yang beranggotakan sekitar 500 pemuda turun ke sebuah masjid di Ashok Nagar. Mereka mendobrak pintu dan memanjat menara untuk mengibarkan bendera Safron, yaitu bendera resmi agama Hindu. Mereka kemudian membakar masjid. Pada malam hari, masjid lain yang lebih kecil dan toko-toko Muslim di pasar lokal dibakar oleh kelompok tersebut. https://www.youtube.com/watch?v=EisQgP9VCbs Seorang Muslim setempat, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, menggambarkan bagaimana gerombolan itu telah menghancurkan masjid selama lebih dari tiga jam. Kelompok tersebut meneriakkan slogan-slogan nasionalis Hindu. "Mereka datang pada sore hari dan membakar semuanya di dalam, lalu mereka menjarah dan membakar toko di dalam masjid dan kemudian dua rumah Muslim di sebelah," ujarnya kepada Guardian. "Dalam 35 tahun saya belum pernah melihat situasi seperti ini, umat Hindu dan Muslim selalu hidup damai di sini. Kami semua merayakan Idul Fitri dan Diwali bersama. Wanita Hindu sering datang ke masjid bersama anak-anak mereka. Jadi, ini bukan hanya bangunan untuk umat Islam, melainkan juga untuk seluruh masyarakat. Namun, kedamaian apa pun yang kita miliki sekarang sudah hilang," ujar saksi tersebut menambahkan. Serangan terhadap properti umat Muslim berlanjut pada Rabu pagi. Namun, beberapa umat Hindu setempat berpatroli di daerah itu untuk melindungi masjid dan menawarkan perlindungan kepada keluarga Muslim. https://www.youtube.com/watch?v=JSWkSoI3Tus Kerusuhan terus menyebar di barat laut Delhi, termasuk Jafrabad, Babarpur, Brahmpuri, Taman Gorakh, Maujpur, Bhajanpura, Kabir Nagar, Chand Bagh, Gokulpuri, Karawal Nagar, Khajuri Khas, dan Kardampuri. Pengerahan pasukan besar-besaran dan pasukan paramiliter terlihat di beberapa daerah yang paling parah. Kekerasan yang terjadi di Delhi adalah yang terburuk sejak Perdana Menteri India Narendra Modi mengeluarkan CAA. Undang-undang tersebut memberikan kewarganegaraan kepada pengungsi dari semua agama di Asia Selatan, kecuali Muslim. Undang-undang ini kemudian memicu reaksi nasional. CAA menimbulkan kekhawatiran karena dinilai diskriminatif terhadap Muslim dan merusak fondasi sekuler India dengan menjadikan agama sebagai dasar kewarganegaraan. Aksi protes yang menolak CAA terus berlangsung di sejumlah wilayah di India sejak tiga bulan lalu. Kekerasan di Delhi dipicu setelah pemimpin dari Partai Bharatiya Janata (BJP), Kapil Mishra, yang menghasut gerombolan Hindu untuk menyingkirkan sekelompok Muslim yang memblokir jalan di Delhi. Kelompok Muslim itu diketahui sedang menggelar aksi protes terhadap CAA. Kelompok Muslim dan Hindu kemudian mulai saling melempar batu dan saling serang sehingga memicu meningkatnya kekerasan hingga menimbulkan korban. (*/BBC/Guardian) https://youtu.be/73U9GxqvxRo