Inilah Racun Pembunuh di Udara Sekitar Kita!

Inilah Racun Pembunuh di Udara Sekitar Kita!
Ternyata, ada nanopartikel terkecil tak kasat mata yang berkeliaran di udara sekitar kita sebagai racun pembunuh manusia. Penelitian terbaru menyatakan polutan berukuran paling kecil, nanopartikel, sebagai penyebab utama penyakit dan kematian. Namun alat pengukur polusi udara saat ini tidak menghitung zat beracun berukuran mikrokospik ini. Setelah bertahun-tahun polusi udara menghiasi pemberitaan, kita masih belum benar-benar terinformasi tentang masalah kesehatan terbesar yang datang dari kerusakan lingkungan ini. Sebagai contoh, kita diberitahu bahwa "PM2,5" — partikel polusi padat yang berukuran 2,5 mikrometer atau di bawahnya — dapat memasuki paru-paru dan aliran darah kita. Faktanya, dalam banyak kasus ini tidak terjadi. Kita juga diberitahu bahwa gas NOx — termasuk nitrogen dioksida — adalah ancaman kesehatan terbesar di kota-kota. Pada kenyataannya, NOx bertanggung jawab atas tak lebih dari 14% kematian karena polusi udara di Eropa. Zat pembunuh yang lebih ampuh tidak pernah disebut-sebut, tidak diregulasi, bahkan diperbincangkan oleh orang-orang di luar lingkaran ilmuwan tertentu: ia adalah nanopartikel. https://www.youtube.com/watch?v=QcS3ovdsgNI PM2,5 mungkin terlalu kecil untuk dilihat, karena ukurannya yang sekitar 30 kali lebih kecil dari lebar sehelai rambut manusia. Namun sesungguhnya partikel ini cukup berat. PM2,5 berbobot sekitar 2.500 nanometer (nm), sementara nanopartikel dihitung memiliki berat 100nm ke bawah. PM2,5 dan PM10 (10.000 nm) adalah partikel yang bisa menyebabkan penyakit paru-paru dan pernapasan. Sementara nanopartikel bisa mencapai, dan merusak, nyaris seluruh organ di dalam tubuh kita. Pemerintah biasanya memonitor PM2,5 dengan ukuran massa. Namun dalam kasus nanopartikel, bahkan sejuta nanopartikel pun tidak akan mencapai berat satu mikrogram. Maka, ukuran massa tak mampu mencerminkan bahaya yang sesungguhnya. Sejumlah ilmuwan sudah pernah mengatakan kita seharusnya lebih khawatir pada jumlah total partikel yang kita hirup dari udara, ketimbang hanya massa mereka. Pada 2013, Surbjit Kaur adalah seorang ilmuwan muda yang tengah menyelesaikan S2-nya di Imperial College London, ketika salah seorang dosennya menyarankan ia bergabung dengan tim untuk Eksperimen Dapple, yakni riset yang melihat penyebaran polusi udara dan penetrasinya terhadap lingkungan lokal. Kaur merancang sebuah penelitian yang melibatkan enam relawan "berpakaian seperti pohon Natal", penuh dengan berbagai macam sensor polusi udara, dan berjalan di pusat kota London selama setiap hari selama empat pekan. Para relawan ini terdiri dari teman-teman dan rekan Kaur di kampus. Kaur sendiri turut ambil bagian dalam penelitian tersebut. "Kami berada di jalanan, meskipun kami tahu kami akan sakit karena secara terus-menerus menghirup paparan polusi ini," kata Kaur yang saat ini tak lagi menjadi ilmuwan dan bekerja sebagai konsultan manajemen. https://www.youtube.com/watch?v=CotFxXcE9pc Para relawan mengenakan pengukur polusi standar di baju dan tas punggung mereka, yakni pengukur PM2,5 dan CO (karbon monoksida). Namun saat itu Kaur juga menambahkan satu lagi alat: sebuah 'P-Trak', yakni pengukur nanopartikel. "Kami harus mengurus perizinan yang rumit untuk memakai alat ini [di lapangan] karena bentuknya yang mirip dengan pengukur Geiger [alat pengukur radiasi] dan ada kekahwatiran publik akan panik," dia tertawa. Alat ini, kata Kaur, dapat menghitung nanopartikel berukuran 2nm (berkali-kali lipat lebih kecil dari sel darah manusia) dengan cara menyedot udara, menyemprotkan alkohol ke permukaan partikel untuk membuat mereka terlihat oleh mata, dan menghitungnya satu per satu dengan laser. Penelitian serupa sudah pernah dilakukan oleh tim dari Universitas Rochester New York dan Institut Kesehatan Publik Nasional Finlandia. Kaur punya firasat, menghitung "partikel ultrakecil" ini akan menemukan data yang menarik. Dan dia tidak salah. "Saya mengharapkan adanya level variasi [dalam hal jumlah partikel]," ujarnya, "tapi level fluktuasi lah yang mengejutkan saya… Volume mobil yang lewat hanya memberikan sedikit pengaruh pada paparan PM2,5 kepada relawan. Namun pengaruh nanopartikel terekam sangat besar." Saat para relawan menyusuri trotoar, mereka terpapar pada minimal 36.000 sampai 130.000 partikel pada waktu yang sama. Ketika mereka mengambil rute sama dengan sepeda, angka maksimal dan minimal itu melonjak naik hingga 20.000. Menariknya, jumlah rata-rata partikel polutan tertinggi tercatat ada di dalam mobil dan bus: semakin dekat kita dengan sumber polusi, atau dengan pipa knalpot yang mengeluarkan asap emisi, semakin tinggi pula jumlah nanopartikel. Perbedaan paparan bila kita berjalan di trotoar yang sama, yang satu di sisi yang dekat dengan jalan dan yang satu di sisi yang dekat dengan gedung — meski hanya berjarak beberapa langkah saja — rata-rata sebanyak 82.000 dan 69.000 partikel. Tidak ada perbedaan di alat pengukur PM2,5. Sekitar 2006, saat Kaur memutuskan pensiun dari menjadi ilmuwan, seorang mahasiswa doktoral di Universitas Cambridge membuat penelitian lanjutan. Prashant Kumar sebelumnya sudah mempelajari PM2,5 dan PM10 untuk studi Masternya di Institut Teknologi India (IIT) di Delhi. Namun saat tiba di Inggris untuk studi S3, "Saya menemukan hanya ada sedikit, nyaris tidak ada, penelitian untuk memahami nanopartikel: cara mengukurnya, konsentrasinya di lingkungan berbeda." Penelitian dan makalah ilmiah Kumar tentang topik ini, yang diterbitkan sejak 2008, telah membuka diskusi tentang paparan nanopartikel dan menjadikan Kumar profesor di Universitas Surrey. Sekumpulan awan yang terdiri dari sejuta partikel 10nm memiliki massa yang sama dengan satu PM10, namun luas permukaannya jutaan kali lebih besar "Penelitian pertama saya di 2008 adalah penjelasan dan analisis," ujar Kumar. "Ketika asap emisi keluar dari kendaraan, mereka berbentuk gas, kemudian menyebar menjadi partikel-pertikel nano. Lalu mereka bergabung kembali menjadi partikel yang lebih besar. "Dari knalpot, Anda mendapatkan satu juta partikel per sentimeter kubik udara. Di jalan, jumlahnya 100.000 sementara di trotoar jumlahnya 10.000." Penelitian ini menemukan 90% dari seluruh partikel di jalanan yang sibuk adalah nanopartikel dengan ukuran di bawah 100nm. Ini bisa menjadi masalah kesehatan, jelas Kumar, "karena semakin kecil partikel, maka semakin besar area permukaannya. Area permukaan yang besar berarti [potensi] keracunan semakin besar, karena mereka akan memengaruhi area permukaan yang lebih besar di dalam tubuh manusia." Sebagai gambaran, mari bayangkan partikel sebagai bola sepak dengan bola golf. Sebuah bola sepak memiliki keliling 70cm dan luas permukaan sekitar 1.500cm2. Sebuah bola golf tentu saja jauh lebih kecil, dengan keliling sekitar 13cm, dengan luas permukaan 54cm2. Secara volume, kita bisa memasukkan 156 bola golf di ruang yang sama dengan sebuah bola sepak, namun total luas permukaan ratusan bola golf itu kemudian akan menjadi 8.452cm2 — ini 6,9 meter persegi lebih besar ketimbang satu bola sepak. Dalam skala nano, perbedaan ini sangat besar. Kawanan sejuta partikel 10nm memiliki massa yang sama dengan satu PM10, namun luas permukaannya jutaan kali lebih besar. Dan area permukaan ini dilapisi dengan racun sisa bahan bakar dari emisi kendaraan. (BBC News Indonesia)