Dapat Air Bersih, Warga Kampung Lembur Pasir Merasa Bagaikan Mimpi

Dapat Air Bersih, Warga Kampung Lembur Pasir Merasa Bagaikan Mimpi
Jakarta, Obsessionnews.com - Sekitar 125 keluarga atau 500 orang di Kampung Lembur Pasir, Desa Ginanjar, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat (Jabar) mendapatkan akses ke air bersih untuk pertama kalinya. Pembangunan akses air bersih ini merupakan bagian dari program freshwater Conservation International yang bekerja sama dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Lokasi Kampung Lembur Pasir yang bersebelahan dengan hutan TNGGP seharusnya lebih mudah mendapatkan air bersih. Namun, selama bertahun-tahun warga menggunakan air hujan atau irigasi untuk kebutuhan mandi dan mencuci. [gallery link="file" columns="2" size="medium" ids="296313,296314"] Senior Manager Terrestrial Program Conservation International Indonesia Anton Ario mengatakan, selain untuk memberikan akses pihaknya juga ingin memperlihatkan manfaat langsung dari hutan yang lestari. “Kami berharap warga dapat menyadari hal tersebut dan terdorong untuk menjaga hutan,” ujar Anton melalui keterangan tertulis yang diterima obsessionnews.com, Rabu (13/11/2019). [gallery link="file" columns="2" size="medium" ids="296315,296316"] Program ini dimulai pada Mei 2019 dengan melakukan sosialisasi kepada pihak TNGGP serta pemerintah desa dan kampung. Mereka mendukung penuh dan mengatakan program ini akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tahap berikutnya membahas implementasi mulai dari survei mata air, pembangunan bendungan semi permanen, pemasangan pipa, dan pemeliharaannya. Warga setempat menyepakati mereka akan terlibat dalam semua tahapan implementasi. Dari survei diketahui sumber mata air berada di dalam taman nasional yang berjarak kurang lebih enam kilometer dari kampung.   Halaman selanjutnyaBagaikan Mimpi Pada Juli 2019 warga bergotong royong membangun bendungan sederhana yang berdekatan dengan mata air untuk menampung air. Setelah itu dipasang pipa dari bendungan ke beberapa tangki air di kampung yang dialirkan lagi ke masing-masing rumah. Metode gravitasi digunakan untuk memastikan air terus mengalir dari bendungan ke tangki. Tanggal 8 Juli 2019 air bersih mengalir ke kampung. “Warga telah mendambakan adanya air bersih dari dulu, karena biasanya kami mengandalkan air dari selokan, irigasi, dan hujan. Hari ini rasanya bagaikan mimpi karena air bersih sudah tersedia di rumah masing-masing warga dengan bantuan dari Conservation International dan Balai Besar TNGGP,” ujar Ajudin, Ketua RT di Kampung Lembur Pasir. [gallery link="file" columns="2" size="medium" ids="296317,296318"] Untuk menambah dan memperkuat pemahamanakan pentingnya hutan sebagai penyedia air bersih serta dasar Water, Sanitation and Hygiene (WASH) dilakukan juga kegiatan edukasi ke sekolah-sekolah di sekitar taman nasional. Bentuk kegiatan edukasinya berupa pemutaran film konservasi, permainan, dan praktik cuci tangan. Sekitar 250 murid di delapan SD  telah terjangkau hingga Oktober 2019. Meskipun program freshwater ini telah selesai di akhir Oktober 2019, warga telah berkomitmen untuk menjaga dan memelihara akses air ini. “Warga sepakat untuk memberikan iuran sebesar Rp10.000 per keluarga setiap bulannya. Iuran ini dikumpulkan dan dikelola oleh panitia air yang anggotanya adalah warga kampung juga. Iuran ini akan digunakan untuk memperbaiki dan membeli pipa baru,” kata Ajudin. Selain itu, warga juga akan turut membantu pihak taman nasional dalam melakukan pengamanan kawasan dan keterlibatan dalam penanaman pohon. “Kami sangat senang warga memahami pentingnya hutan dan terdorong untuk melindunginya. Tentunya kami akan mendukung dan mendampingi warga dalam menjaga hutan,” ujarAgung Pakerti, Kepala Resot Pasir Hantap Balai Besar TNGGP.   Halaman selanjutnyaTentang Conservation International Indonesia Berlandaskan pada ilmu pengetahuan, kemitraan dan pengalaman, Conservation International memberdayakan masyarakat untuk menjaga alam, keanekaragaman hayati dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Conservation International didirikan pada 1987, dan bekerja di Indonesia sejak tahun 1991 bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan pemerintah daerah setempat untuk mendukung masyarakat madani yang sejahtera melalui upaya perlindungan alam, dukungan sistem produksi yang berkelanjutan, dan dukungan tata kelola yang efektif. Conservation International berkantor pusat di Washington DC, mempekerjakan 900 orang yang bekerja di 30 negara pada empat benua, serta bekerja dengan lebih dari 1.000 mitra di seluruh dunia.  (arh)