Jadi Ketua DPD, Profil La Nyalla Politisi Penuh Kontroversi

Jadi Ketua DPD, Profil La Nyalla Politisi Penuh Kontroversi
Jakarta, Obsessionnews.com - Berdasarkan hasil voting, La Nyalla Mahmud Mattalitti akhirnya terpilih menjadi ketua DPD yang baru dengan meraih 47 suara. Pemilihan Ketua DPD yang baru berlangsung di gedung DPD, Selasa (1/10) malam. La Nyalla mampu mengalahkan pesaing terdekatnya yaitu Nono Sampono. Nono meraih 40 suara, disusul Mahyudin 28 suara dan Sultan Baktiar Najamudin (SBN) meraih 18 suara. Ketiga pesaing La Nyala ditetapkan sebagai wakil ketua DPD.   Baca juga:Minta Masyarakat Lawan Hoaks, Kiai Ma’ruf Angkat Kisah La NyallaLa Nyalla: Saya yang Memfitnah Jokowi PKI, Kristen dan Antek ChinaYusril Sebut La Nyalla Anggota Istimewa PBB   Dari total 136 anggota DPD, hanya dua orang yang tidak hadir dalam pemilihan. Dari jumlah tersebut 133 suara dinyatakan sah dan satu suara abstain. Pemilihan tersebut dipimpin ketua sementara yang merupakan anggota termuda Hillary Brigitta Lasut. Hillary didampingi anggota tertua Sabam Sirait. Sebelumnya DPD telah resmi memilih empat nama yang menjadi ketua subwilayah, salah satunya adalah La Nyalla Mahmud Mattalitti sebagai Ketua Sub-Wilayah Barat II. Lantas siapa La Nyala bagaimana sepak terjangnya? La Nyalla lahir dengan nama lengkap La Nyalla Mahmud Matalitti. Ayahnya, Mahmud Mattalitti, merupakan dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Sedangkan kakeknya, Haji Mattalitti, merupakan seorang saudagar besar asal Bugis, Sulsel, yang cukup berpengaruh di Surabaya, Jawa Timur. Meski berasal dari keluarga berkecukupan, rupanya La Nyalla pernah bekerja serabutan. Saat muda, dia juga dikenal dengan sifat bengal hingga akhirnya menjelma sebagai sosok pengusaha berpengaruh di Surabaya. Pamor La Nyalla kian mencuat saat berkiprah di PSSI. Pria kelahiran 10 Mei 1959 itu pernah menjabat sebagai Ketua Umum PSSI periode 2015 - 2016, sebelum akhirnya lengser.   Halaman Selanjutnya Di bawah pimpinan La Nyalla, kontriversi muncul. PSSI telah dihadapkan pada pembekuan atas sanksi yang diberikan oleh Menpora Imam Nahrawi akibat kebijakan PSSI soal hasil rekomendasi BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia) yang tidak meloloskan Arema Malang dan Persebaya Surabaya. Di tengah konflik tersebut, muncul kasus dugaan korupsi yang menjerat La Nyalla. Ia diduga menyelewengkan dana hibah Pemerintah Provinsi Jawa Timur tahun 2011 - 2014 saat menjadi pengusaha dan sebagai Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jatim. La Nyalla kemudian ditetapkan tersangka. Kongres Luar Biasa PSSI memutuskan untuk memaksa mundur La Nyalla usai dirinya ditetapkan sebagai tersangka. Namun, majelis hakim memvonis bebas Ketua Pemuda Pancasila Jatim itu, dalam persidangan yang digelar Pengadilan Tipikor pada 27 Desember 2016. Pilkada Jatim Pada Januari 2018, La Nyalla kembali jadi sorotan publik setelah ia terlibat konflik dengan Partai Gerindra, terkait isu mahar politik sebesar Rp 40 miliar untuk pencalonan dirinya dalam Pemilihan Gubernur Jawa Timur. Akibat hal tersebut, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jawa Timur sampai membuat surat panggilan kepada La Nyalla yang saat itu menjabat sebagai Ketua Kadin Jawa Timur untuk mengklarifikasi pernyataannya terkait mahar politik yang diduga diminta oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Bawaslu memanggil La Nyalla melalui surat pemanggilan bernomor: 011/K.JI/PM.01.01/1/2018 tertanggal 12 Januari 2018.   Halaman Selanjutnya La Nyalla, yang juga kader Partai Gerindra, mengaku dimintai Rp 40 miliar oleh Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, untuk membayar saksi pilkada. Dana ini juga menjadi syarat dia kelak menerima rekomendasi Gerindra untuk maju sebagai calon kepala daerah di Jawa Timur. Jika dana itu tidak diserahkan sebelum 20 Desember 2017, dia tidak akan mendapatkan rekomendasi Gerindra untuk maju pada Pilkada Jatim 2018. Janji Potong Leher Dalam Pilpres 2019 La Nyalla Mahmud Mattalitti mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin. Ia mengaku optimistis pasangan nomor urut 01 itu akan memetik kemenangan di Pulau Madura pada Pilpres 2019 mendatang. Hal itu ia katakan untuk merespon bahwa Pulau Madura masih menjadi basis pendukung Prabowo Subianto di Pilpres 2019 mendatang. "Saya kan udah ngomong, potong leher saya kalau Prabowo bisa menang di Madura," kata La Nyalla saat ditemui di kediaman Ma'ruf Amin, Menteng, Jakarta, Selasa (11/10). Pada Pilpres 2014 lalu pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla mengalami kekalahan dari Prabowo-Hatta Rajasa di empat kabupaten di Pulau Madura. Mantan Ketua PSSI itu mengatakan pada Pilpres 2014 lalu masyarakat Madura sangat sensitif terhadap isu Jokowi yang merupakan kader Partai Komunis Indonesia (PKI). Menyebar Isu PKI La Nyalla mengaku pada Pilpres 2014 lalu, dialah yang menyebar isu bahwa Jokowi PKI. Dia juga yang membuat tabloid Obor Rakyat. Sehinga wajar di Madura pada 2014 lalu kalah. Bahkan pada Pilpres 2019 Jokowi tetap kalah.. "Awalnya dikira Pak Jokowi ini PKI. Kan saya sudah jelasin, saya yang sebarin (Majalah) Obor. Orang Madura itu paling sensitif , paling tidak mau dibilang ini bukan agama Islam," kata dia. Saat bertemu dengan Presiden Jokowi, Ketua MPW Pemuda Pancasila Jawa Timur, itu telah mengklarifikasi sikapnya pada Pilpres 2014 lalu. La Nyalla juga meminta maaf telah menyebarkan isu negatif tentang Jokowi saat itu.   Halaman Selanjutnya Dalam pertemuan tersebut, La Nyalla menjelaskan mengapa saat itu sikapnya terhadap Jokowi menjadi oposan. Dia juga meminta maaf telah terlibat menyebarkan opini negatif tentang Jokowi yang tergabung dalam PKI. "Saya minta maaf karena pernah ikut menyebarkan informasi-informasi negatif, termasuk isu-isu Jokowi keturunan dan pendukung PKI saat Pilpres yang lalu," ungkap La Nyalla dalam Minggu (28/10/2018). Nyalon Anggota DPD Beberapa bulan kemudian, setelah meminta maaf La Nyalla mendaftarkan diri menjadi sebagai bakal calon anggota DPD RI periode 2019 - 2024 di Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jawa Timur pada bulan Juli 2018 lalu. Dia bersaing dengan 29 nama bakal calon lainnya untuk memperebutkan empat kursi senator yang mewakili daerah pemilihan Jawa Timur. La Nyalla pun berhasil meraih lebih dari 2,2 juta suara pemilih pada Pemilu Anggota DPD 2019 di Daerah Pemilihan Jatim. "Terima kasih kepada rakyat Jatim yang telah memberi kepercayaan kepada saya untuk menjalankan amanah ini," ujarnya. Berdasarkan data salinan yang diperoleh dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Timur, La Nyalla mendapatkan total 2.267.058 suara.   Halaman Selanjutnya Raihan tersebut menempatkan mantan Ketua Umum PSSI itu duduk di peringkat kedua setelah Evi Zainal Abidin yang meraup 2.416.663 suara. Selain La Nyalla dan Evi Zainal Abidin, dua calon anggota DPD lainnya yang dinyatakan lolos dari Dapil Jatim adalah Ahmad Nawardi (1.414.478 suara) dan Adilla Azis (1.322.755 suara). Menurut La Nyalla, perolehan suara yang diraihnya merupakan amanah berat. Dia juga memohon restu dari rakyat Jatim serta berjanji tidak akan mengkhianati kepercayaan tersebut. Salah satu program utama ke depan yang diusungnya adalah penguatan ekonomi rakyat berskala kecil dan mikro di Jawa Timur, serta berjanji akan menyinergikan program itu dengan berbagai pemangku kepentingan. "Advokasi kebijakan di tingkat pusat akan membuka banyak jalan bagi kesejahteraan masyarakat Jatim. Nanti akan dilakukan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, ada provinsi dan kabupaten/kota. Insya Allah banyak jalan yang kami perjuangkan bareng warga Jatim," ucapnya. (Albar)