Darmayanti Lubis: Berjuang Untuk Perempuan, Anak dan Pendidikan

Jakarta, Obsessionnews.com - Berbincang-bincang dengan Darmayanti Lubis, tampak jelas sosoknya tak lepas dari pemikiran-pemikiran jauh ke depan. Senator yang telah sepuluh tahun duduk di DPD RI ini bertutur tentang prinsip dan capaian serta perjalanannya memperjuangkan aspirasi. Beralih dari seorang akademisi menjadi politisi diakuinya tak mudah dilakukan. Untuk terjun ke dunia politik, dia harus rela melepaskan pekerjaan sebagai dosen di jurusan Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara (USU). “Mengundurkan diri dari profesi dosen sebenarnya pilihan yang tidak menyenangkan bagi saya. Namun, karena tekad sudah bulat, saya memilih risiko kehilangan pekerjaan, bila tidak lolos ke Senayan. Untungnya, usaha dan pengorbanan tidak sia-sia. Alhamdulilah, pada Pemilu 2009, saya mewakili Sumatera Utara menjadi anggota DPD RI sekaligus berkesempatan memperjuangkan dan memengaruhi kebijakan untuk rakyat,” ungkap lulusan S3 University of Leeds, Inggris ini. Wakil Ketua II DPD RI ini juga memiliki perhatian besar terhadap berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat, khususnya menyangkut perempuan dan anak. Tak heran kalau pada 1991-1994 dia ditunjuk menjadi Sekretaris Pusat Studi Wanita USU. Dia banyak belajar kepemimpinan dan manajemen dalam beragam organisasi yang diikutinya, serta meluangkan waktu untuk hadir dalam kegiatan. Ataupun menyumbangkan gagasan pemikiran demi pengembangan organisasi. Halaman selanjutnya Dikutip dari majalah Women’s Obsession, Darmayanti mengungkapkan sejak dulu amat mendambakan Indonesia menjadi bangsa unggul, mandiri, dan kuat dalam segala bidang, yang sering disebutnya sebagai Gerakan Indonesia Emas 2045. Indonesia sejatinya unggul dalam berbagai bidang, termasuk sumber daya manusia dan alam. Negara ini memasuki periode bonus demografi, jumlah penduduk usia muda jauh lebih banyak. Fakta itu harus menjadi pendorong peningkatan pembangunan. Bekerja selama 35 tahun sebagai pendidik di universitas, dia banyak melihat mahasiswa yang memahami visi misi ke depan dan membangun karakter diri. Namun, sayangnya sangat dirasakan saat ini terjadi degradasi moral, baik itu karena pengaruh dari luar, teknologi, maupun lingkungan. “Diharapkan pada tahun 2045, seratus tahun setelah kemerdekaan Indonesia, generasi anak terbaik diwujudkan mulai dari keluarga, lingkungan, maupun pertemanannya, sehingga dihasilkan anak-anak berkarakter yang mampu menggapai cita-cita. Pendidikan karakter ini implementasinya harus dipikirkan bersama dalam bentuk yang sistematis dan terstruktur. DPD memiliki peran besar mewujudkan prinsip itu,” ujar ibu tiga anak ini. Salah satu upaya untuk mewujudkan obsesi tersebut ialah terjun ke dunia politik. Dia menyadari kekuatan politik tak bisa diabaikan untuk mewujudkan gagasan besar. Bahkan, mempercepat terealisasinya obsesi itu. Dedikasi pemikiran dan perjuangannya dalam pembelaan terhadap kaum perempuan membawanya meraih Karya Satya XX dan Karya Satya XXX, serta menjadi kebanggaan sebagai putra daerah Sumatera Utara. “Di beberapa daerah, jumlah perempuan rata-rata di atas 50%. Kita berharap potensinya diperhitungkan kalau Indonesia mau maju. Sekarang kita tidak bisa mengabaikan ilmu dan teknologi. Kita melihat peran perempuan dalam membangun daerah, bahkan lebih menonjol dibandingkan peran kaum laki-laki,” tuturnya. Halaman selanjutnya Bertahun-tahun mengabdi sebagai senator, bergabung dengan 132 anggota dari 34 provinsi, heterogenitas sangat terasa kala mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. Dengan rendah hati dia mengaku belajar banyak dalam berpolitik dan kompromi harus bersifat netral sekaligus adil. Harus berbicara dari nurani berdasarkan pengetahuan dan pengalaman untuk disatukan, hingga melakukan pengawasan secara umum. Setiap pelaksanaan tugas dan tanggung jawab selalu ada tantangan atau kendala yang dihadapi. Namun dari sudut gender politisi perempuan hampir tidak ada masalah berarti. Kendala menjadi tantangan bersama politisi dalam berjuang untuk rakyat. Perempuan kelahiran Binjai ini mengatakan, “Dalam melaksanakan fungsi legislasi, pengawasan, dan pertimbangan, terkadang saya cukup keras bersuara, apalagi menyangkut isu perempuan, anak, dan pendidikan. Syukur apabila suara itu didengar dan menjadi kebijakan pemerintah. Jika belum, tetap terus disuarakan dengan penuh kesabaran.” Mengevaluasi pemilu maupun pilkada lalu, dia bersyukur sekarang banyak generasi milenial menjadi anggota parlemen dan pemimpin daerah. “Saya berharap dari pergantian generasi melalui kader-kader baru tersebut muncul politisi-politisi terbaik dan berintegritas, melalui pembentukan karakter dan pematangan etika politik,” ungkapnya. Untuk mencapainya, Darmayanti menegaskan tetap perlu ditingkatkan aspek pengetahuan, rasa percaya diri, kemampuan politik, dan dukungan keluarga. Di tengah padatnya kesibukan, dia justru merasa tiada hari tanpa bekerja keras meskipun usia tak lagi muda. Dia mengimbangi dengan selalu menjaga asupan makanan dan istirahat, serta selalu berbuat yang terbaik untuk membangun semangat sehingga lelah pun tidak dirasakan. Tak lupa, dia berbagi makna sukses baginya. Yakni dapat diukur sejauh mana kita memberikan manfaat kepada orang lain, baik sebagai pribadi, istri, ibu, maupun anggota masyarakat. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak bermanfaat untuk orang lain. (Angie) Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Women's Obsession edisi September 2019





























